08 January 2026, 17:56

BBMKG Catat 59 Rentetan Gempa Kecil di Selat Lombok, Bali Timur Diminta Siaga Antisipasi Skenario Terburuk

(BBMKG) Wilayah III Denpasar mencatat adanya 59 rentetan gempa bumi tektonik bermagnitudo kecil yang mengguncang wilayah Selat Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB)

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
1,226
BBMKG Catat 59 Rentetan Gempa Kecil di Selat Lombok, Bali Timur Diminta Siaga Antisipasi Skenario Terburuk
Ilustrasi. BBMKG Denpasar mencatat 59 gempa kecil di Selat Lombok. Warga Bali, terutama Karangasem, diimbau waspada terhadap potensi gempa besar. (Foto: Istockphoto/ Adventtr)

Perspektif.co.id - Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar mencatat adanya 59 rentetan gempa bumi tektonik bermagnitudo kecil yang mengguncang wilayah Selat Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), dalam beberapa hari terakhir. Meski rangkaian gempa itu belum dilaporkan terasa hingga Pulau Bali, BBMKG menilai kondisi tersebut tetap perlu diwaspadai, terutama oleh warga Bali bagian timur seperti Kabupaten Karangasem, karena rentetan gempa dapat saja berkembang menjadi kejadian yang lebih besar.

Ketua Kelompok Kerja Informasi Dini Gempa Bumi dan Tsunami BBMKG Wilayah III Denpasar, Dwi Hartanto, menjelaskan bahwa deretan gempa itu tercatat terjadi di area perairan, relatif jauh dari daratan, dengan magnitudo terbesar berada di angka 2,8. “Sampai saat ini tidak dirasakan di Bali, dari gempa yang sebanyak itu 59 kali itu kan letaknya di tengah laut, terus agak jauh juga dari darat. Jadi, gempanya magnitude-nya paling besar 2,8. Jadi tidak ada yang dirasakan itu,” kata Dwi saat dikonfirmasi, Rabu (7/1).

Namun, ia menegaskan peringatan tetap disampaikan agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan sejak dini. Menurut Dwi, dalam dinamika kegempaan ada kemungkinan rentetan kecil menjadi “pembuka” sebelum muncul gempa utama yang lebih besar. “Tapi kami buat press rilis agar masyarakat mewaspadai. Gempa itu ada tipenya, gempa pembuka dulu, kemudian ada gempa utamanya (gempa besar),” imbuhnya.

Data pemantauan juga menunjukkan aktivitas seismik yang tidak biasa karena terjadi berulang pada titik yang hampir sama dalam waktu singkat. Hingga Rabu, 7 Januari 2026 pukul 07.47 WITA, pemantauan mencatat 59 kejadian gempa dengan magnitudo berkisar 1,4 hingga 2,8 dan episenter mayoritas berada di laut, sehingga dikategorikan sebagai gempa dangkal. Analisis hiposenter menyebut rangkaian gempa ini dipicu aktivitas sesar aktif di dasar laut. 

Dwi mengakui pihaknya belum bisa memastikan apakah rangkaian gempa tersebut murni rentetan gempa kecil biasa atau menjadi bagian dari pola yang mengarah ke kejadian lebih besar. “Karena sampai saat ini, kami belum bisa memprediksi gempa kecil ini apakah dia gempa pembuka dulu, atau memang hanya rentetan gempa saja. Bisa jadi dia hanya rentetan gempa saja, kalau rentetan gempa saja iya masyarakat tidak perlu khawatir,” jelasnya.

Meski demikian, ia menekankan titik perhatian utama berada pada kemungkinan munculnya gempa utama yang dampaknya bisa lebih signifikan, terutama di Bali bagian timur. “Tapi yang kami takutkan nanti tiba-tiba dia muncul gempa utamanya yang lebih besar, dan berdampak di bagian utamanya daerah Bali Timur, di Karangasem,” lanjutnya.

Secara periode, rangkaian aktivitas gempa dilaporkan berlangsung pada 5–7 Januari 2026 dengan kejadian terakhir tercatat pada pagi hari sekitar pukul 07.47 WITA. Peningkatan aktivitas kegempaan di Selat Lombok ini menjadi perhatian karena intensitasnya yang rapat, dalam rentang dua hari sudah puluhan kali terjadi pada area yang berdekatan. Dwi menilai pola seperti ini tidak tergolong normal. “Enggak normal. Karena dia sering sekali. Ini kan sudah sampai dua hari ini sudah puluhan kali, di tempat yang hampir sama. Biasanya, kalau gempa-gempa biasa, sekali (gempa) terus pindah lagi (titik gempanya),” ungkapnya.

Di sisi lain, BMKG juga menekankan bahwa gempa bumi hingga kini belum dapat diprediksi secara pasti karena dinamika bumi yang kompleks. Karena itu, rilis informasi dilakukan sebagai langkah mitigasi, agar masyarakat memiliki kesiapsiagaan lebih baik tanpa harus panik. Prinsip yang ditekankan adalah meningkatkan kewaspadaan berbasis informasi resmi, memperkuat kesiapan keluarga, dan memahami langkah keselamatan dasar ketika terjadi guncangan.

Untuk mendukung target “zero victim”, masyarakat diimbau menerapkan mitigasi mandiri apabila merasakan gempa yang kuat dan berdurasi lama, mulai dari melindungi kepala, menjauhi kaca dan bangunan rapuh, hingga menuju area terbuka. Warga yang tinggal di dekat pesisir juga diminta segera menjauh dari pantai untuk mengantisipasi risiko lanjutan saat terjadi gempa susulan.

Dwi kembali menegaskan pesan utama BBMKG adalah kewaspadaan, bukan kepanikan. Ia berharap rentetan gempa di Selat Lombok ini hanya berakhir sebagai aktivitas gempa kecil dan tidak berkembang menjadi gempa besar. “Gempa tidak diprediksi. Makanya kami informasikan bahwa sudah terjadi rentetan gempa selama dua hari ini, supaya masyarakat lebih waspada saja. Nanti, takutnya tiba-tiba ada gempa yang lebih besar. Tapi, syukur sih tidak ada gempa yang lebih besar, mudah-mudahan tidak ada,” ujarnya.

Berita Terkait