17 February 2026, 05:59

AS Terancam Kalah? China Sukses Uji Kapsul Misi Pendaratan Bulan 2030 Hari Ini!

China sukses uji coba pendaratan bulan 2026 pakai kapsul Mengzhou & lander Lanyue, tekan NASA dalam race misi berawak ke kutub selatan Bulan 2030!

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
556
AS Terancam Kalah? China Sukses Uji Kapsul Misi Pendaratan Bulan 2030 Hari Ini!
Ilustrasi misi pendaratan bulan China 2030: Kapsul Mengzhou & lander Lanyue dalam simulasi docking orbit. Visualisasi ambisi CMSA dalam space race terbaru. (AI Generated by: Perspektif.co.id)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Ambisi China untuk menancapkan bendera merah di permukaan bulan sebelum dekade ini berakhir semakin mendekati kenyataan setelah China Manned Space Agency (CMSA) mengumumkan keberhasilan uji coba sistem pendaratan bulan terbaru mereka pada Senin (16/2/2026). Langkah strategis yang dilakukan di fasilitas pengujian kedirgantaraan Wenchang ini menandai tonggak sejarah krusial dalam perlombaan antariksa "Space Race 2.0", di mana Beijing secara agresif mengejar ketertinggalan teknologi dari program Artemis milik NASA yang terus mengalami penundaan jadwal. Uji coba ini berfokus pada integrasi termal dan reliabilitas mekanisme docking antara kapsul awak generasi baru, Mengzhou, dengan moon lander Lanyue, yang dirancang khusus untuk membawa taikonaut turun ke permukaan lunar dan kembali ke orbit dengan selamat.

Detail teknis yang dirilis melalui kanal resmi CMSA dan media pemerintah menunjukkan bahwa simulasi pendaratan ini melibatkan manuver deselerasi mesin roket utama Long March 10 yang telah dimodifikasi untuk menahan beban payload ekstra berat. Keberhasilan tes ini memvalidasi desain propulsion system yang menggunakan bahan bakar hidrogen cair dan oksigen cair, sebuah konfigurasi yang diklaim lebih efisien untuk misi deep space. Para insinyur antariksa China juga melakukan verifikasi terhadap sistem pendukung kehidupan (life support system) pada modul Lanyue, memastikan bahwa pendarat tersebut mampu melindungi kru dari radiasi kosmik dan fluktuasi suhu ekstrem di kutub selatan bulan, lokasi yang menjadi target utama pendaratan karena potensi cadangan air esnya.

“Uji coba hari ini bukan sekadar validasi perangkat keras, melainkan bukti bahwa jadwal kami untuk pendaratan berawak sebelum tahun 2030 berjalan sesuai rencana, bahkan sedikit lebih cepat dari estimasi awal pengamat barat.” Ungkap juru bicara CMSA dalam konferensi pers singkat yang dikutip oleh media pemerintah dan segera menjadi topik hangat di platform Weibo.

Perkembangan pesat ini memberikan tekanan geopolitik yang signifikan bagi Amerika Serikat, mengingat NASA masih berkutat dengan berbagai tantangan teknis pada roket Space Launch System (SLS) dan pengembangan Starship milik SpaceX. Sementara Washington mengandalkan kemitraan komersial yang kompleks, pendekatan state-driven yang dilakukan China memungkinkan percepatan riset dan pengembangan yang lebih terpusat. Analis dari lembaga think tank pertahanan di Washington memperingatkan bahwa jika momentum ini berlanjut, China berpotensi menguasai titik-titik strategis di bulan yang kaya sumber daya sebelum astronaut Amerika sempat kembali menjejakkan kaki di sana.

“Kami melihat arsitektur misi yang sangat matang dari China, mereka tidak lagi meniru, tetapi berinovasi dengan sistem navigasi otonom yang mungkin lebih canggih daripada apa yang kita lihat pada misi Apollo lima dekade lalu.” Tulis seorang analis senior kebijakan luar angkasa dalam sebuah utas diskusi di platform X, menanggapi rilis video uji coba tersebut.

CMSA juga mengonfirmasi bahwa setelah fase uji coba ground test ini selesai, mereka akan segera beralih ke misi tanpa awak untuk menguji seluruh rangkaian sistem di orbit rendah bumi pada akhir tahun ini. Skema misi yang dirancang melibatkan dua peluncuran roket Long March 10 secara terpisah: satu membawa pendarat Lanyue dan satu lagi membawa kapsul awak Mengzhou, yang kemudian akan melakukan rendezvous dan docking di orbit bulan sebelum turun ke permukaan. Strategi dual-launch ini dinilai dapat meminimalisir risiko kegagalan katastropik dan memaksimalkan kapasitas kargo ilmiah yang dapat dibawa.

Berita Terkait