16 January 2026, 14:51

AS-Taiwan Sepakat Perjanjian Dagang : Tarif Ekspor Dipangkas, Taiwan Janji Investasi US$250 Miliar di Amerika

Amerika Serikat dan Taiwan mencapai kesepakatan dagang pada Kamis (15/1/2026) yang memangkas tarif atas sejumlah ekspor Taiwan ke pasar AS

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
2,197
AS-Taiwan Sepakat Perjanjian Dagang : Tarif Ekspor Dipangkas, Taiwan Janji Investasi US$250 Miliar di Amerika
as taiwan capai kesepakatan dagang 15 januari 2026 tarif turun dari 20 persen ke 15 persen / Doc : istimewa

Perspektif.co.id - Amerika Serikat dan Taiwan mencapai kesepakatan dagang pada Kamis (15/1/2026) yang memangkas tarif atas sejumlah ekspor Taiwan ke pasar AS, dengan fokus besar pada industri semikonduktor. Perjanjian yang sudah lama dinegosiasikan ini memberi perlakuan tarif lebih rendah bagi produsen chip Taiwan—termasuk Taiwan Semiconductor Manufacturing Co (TSMC)—yang memperluas produksi di AS, sekaligus memperdalam hubungan Washington–Taipei pada saat tekanan China terhadap pulau itu disebut kian meningkat. 

Mengutip Reuters, tarif umum yang berlaku untuk sebagian besar ekspor Taiwan ke AS akan turun dari 20% menjadi 15%. Namun, untuk kategori tertentu, tarifnya dipangkas lebih agresif: obat generik, komponen pesawat terbang, serta “sumber daya alam yang tidak tersedia” akan dikenakan tarif 0%. (Reuters) Taiwan juga menyatakan AS berkomitmen untuk tidak memperlakukan Taiwan “lebih buruk dari pihak lain” apabila di kemudian hari tarif chip kembali dinaikkan. 

Poin yang paling disorot pasar adalah skema khusus untuk industri semikonduktor. Dalam kerangka perjanjian ini, perusahaan chip Taiwan yang menambah kapasitas produksi di AS akan mendapat tarif lebih rendah untuk semikonduktor maupun berbagai peralatan manufaktur terkait yang mereka impor ke AS—bahkan sebagian kuota impor dapat masuk tanpa bea tambahan. (Reuters) Reuters menulis, selama periode konstruksi yang disetujui, produsen chip yang ekspansinya lolos skema ini dapat mengimpor semikonduktor dan wafer hingga 2,5 kali dari kapasitas baru mereka tanpa tarif tambahan, sementara perlakuan preferensial berlaku untuk impor yang melampaui kuota tersebut. 

Sebagai imbal balik, perusahaan-perusahaan Taiwan menjanjikan investasi senilai US$250 miliar di Amerika Serikat untuk meningkatkan produksi dan kapasitas di bidang semikonduktor, energi, serta kecerdasan buatan (AI). Angka itu mencakup komitmen US$100 miliar yang sebelumnya diumumkan TSMC pada 2025, dengan tambahan investasi yang akan menyusul. (Reuters) Selain investasi langsung, Taiwan juga akan menjamin tambahan US$250 miliar dalam bentuk kredit untuk memfasilitasi investasi lebih lanjut di AS. 

Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick menyampaikan target yang sangat ambisius dari kesepakatan ini: membawa sekitar 40% dari seluruh rantai pasok dan produksi chip Taiwan ke Amerika Serikat. Dalam wawancara di CNBC, Lutnick juga melontarkan peringatan keras mengenai konsekuensi bagi pihak yang tidak membangun kapasitas di AS. “Jika mereka tidak membangun di AS, tarif kemungkinan akan menjadi 100%,” ujarnya. 

Lutnick bahkan menautkan dimensi politik-keamanan dari strategi ini. “Look, they need to keep our president happy… Because our president is the key to protecting their country,” kata Lutnick, merujuk pada posisi AS sebagai pihak yang dipandang vital bagi keamanan Taiwan di tengah memanasnya hubungan lintas-selat. (Reuters) Pernyataan tersebut mempertegas bahwa perjanjian dagang ini bukan semata isu tarif dan investasi, tetapi juga bagian dari desain besar Washington untuk mengurangi ketergantungan pada chip yang diproduksi di luar negeri—terutama dari wilayah yang berada dalam bayang-bayang risiko geopolitik.

Bagi industri, kesepakatan ini berpotensi memberi dorongan lanjutan bagi ekosistem manufaktur chip di AS, khususnya di Arizona tempat TSMC sudah membangun fasilitas. Reuters menulis, peningkatan produksi chip akan ikut menguntungkan pemasok besar TSMC seperti ASML, Lam Research, dan Applied Materials, serta pemasok material/kimia yang ikut menempel pada klaster industri semikonduktor. (Reuters) Reaksi pasar juga mengindikasikan sentimen positif: sejumlah saham dan depository receipts pemasok peralatan chip disebut menguat, sementara saham Nvidia—yang bergantung pada produksi TSMC—juga bergerak naik. 

Di sisi perusahaan, TSMC sendiri baru saja melaporkan lonjakan laba kuartalan dan menyampaikan sinyal percepatan ekspansi di Amerika Serikat. CEO TSMC C.C. Wei mengatakan perusahaan tengah mengurus perizinan di Arizona untuk memulai pembangunan pabrik keempat dan pabrik advanced packaging pertama—fasilitas penting untuk kebutuhan chip AI generasi baru. 

Namun, kesepakatan ini sekaligus menyimpan risiko geopolitik yang tidak kecil. Reuters menilai perjanjian tersebut berpotensi “membuat marah” Beijing, mengingat China memandang Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, sedangkan Taiwan menolak klaim itu. Di saat yang sama, Washington berupaya menghindari perang dagang total dengan China, sehingga paket kebijakan yang memperdalam hubungan ekonomi-teknologi dengan Taiwan menjadi langkah sensitif yang dapat memicu respons keras. 

Dari sisi domestik Taiwan, kesepakatan ini juga belum sepenuhnya final secara politik. Reuters mencatat perjanjian ini masih perlu ditinjau oleh parlemen Taiwan. Kekhawatiran yang kerap muncul adalah potensi “pengosongan” basis industri chip di dalam negeri jika ekspansi luar negeri terlalu agresif. Pemerintah Taiwan, menurut laporan Reuters terpisah, mencoba menekankan bahwa langkah ini diposisikan sebagai perluasan jejak teknologi secara global—bukan pemindahan total jantung industri keluar Taiwan. 

Ada pula faktor ketidakpastian hukum di Amerika Serikat yang membayangi banyak kebijakan tarif era Trump. Reuters menyebut Mahkamah Agung AS diperkirakan segera memutus perkara terkait kewenangan presiden untuk menerapkan tarif luas tanpa persetujuan Kongres. Putusan itu dapat memengaruhi lanskap tarif yang menjadi fondasi negosiasi berbagai kesepakatan dagang, termasuk dengan Taiwan, meskipun dampak persisnya masih belum jelas. 

Terlepas dari semua itu, inti kesepakatan AS–Taiwan kali ini jelas: menurunkan tarif dari 20% ke 15% untuk mayoritas ekspor Taiwan, menetapkan tarif 0% untuk beberapa kategori strategis, memberi jalur preferensial bagi semikonduktor dan perangkat manufaktur bagi perusahaan yang membangun kapasitas di AS, serta mengunci komitmen investasi dan pembiayaan besar dari Taiwan untuk mempercepat pembangunan klaster industri chip di Amerika. Dengan chip diposisikan sebagai isu keamanan nasional, perjanjian ini menjadi salah satu langkah paling konkret Washington untuk “menarik” produksi semikonduktor canggih kembali ke dalam negeri—di tengah persaingan teknologi dan tensi geopolitik yang belum mereda. 

Berita Terkait