TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Peneliti Kobe University merilis temuan yang mengguncang dunia medis setelah mengembangkan model kecerdasan buatan yang mampu mendeteksi acromegaly—gangguan hormon langka yang sering terlambat terdiagnosis—hanya melalui foto punggung tangan dan kepalan tangan. Teknologi ini diuji pada lebih dari 11.000 gambar milik 716 pasien dari 15 rumah sakit di Jepang, dan hasilnya menunjukkan akurasi yang melampaui dokter spesialis endokrin berpengalaman.
Dalam laporan resminya, tim menjelaskan bahwa pendekatan ini sengaja menghindari penggunaan foto wajah maupun sidik jari demi menjaga privasi pasien, sebuah isu yang sebelumnya menghambat adopsi metode deteksi berbasis AI di layanan kesehatan. Mereka menegaskan bahwa variasi kamera, pencahayaan, dan kondisi pengambilan gambar dari berbagai fasilitas justru memperkuat ketahanan model dalam menghadapi kondisi dunia nyata.
“Karena penyakit ini berkembang sangat perlahan dan tergolong langka, diagnosis bisa tertunda hingga satu dekade,” ujar endocrinologist Hidenori Fukuoka dari Kobe University.
Ia menambahkan bahwa upaya deteksi dini berbasis foto sebenarnya sudah lama dicoba, namun tidak pernah benar-benar masuk praktik klinis karena kekhawatiran privasi dan kurangnya data yang representatif. Dengan memusatkan analisis pada tangan—bagian tubuh yang memang sering menunjukkan perubahan fisik pada penderita acromegaly—tim berharap metode ini dapat digunakan dalam pemeriksaan kesehatan rutin untuk mempercepat rujukan ke spesialis dan mengurangi kesenjangan akses layanan medis.
Dalam publikasi ilmiah mereka, para peneliti menulis bahwa pengumpulan data dari berbagai institusi dengan perangkat berbeda “mencerminkan variabilitas dunia nyata dan memperkuat aplikasi klinis model.”
Temuan ini dipandang sebagai terobosan besar karena acromegaly sering tidak terdeteksi selama bertahun‑tahun akibat gejalanya yang samar dan mirip proses penuaan. Tanpa penanganan, penyakit ini dapat mempersingkat harapan hidup hingga sekitar 10 tahun akibat komplikasi serius seperti penyakit jantung, diabetes, dan pertumbuhan organ abnormal. Dengan kemampuan AI yang kini terbukti lebih akurat daripada dokter spesialis, sistem ini berpotensi menjadi alat skrining massal yang murah, cepat, dan aman secara privasi.