22 January 2026, 21:40

Studi Terbaru: “Bokek” Bukan Cuma Bikin Pusing—Bisa Tingkatkan Resiko Sakit Jantung

Kondisi “bokek” alias tekanan finansial ternyata tidak berhenti pada urusan dompet dan kesehatan mental.

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
1,070
Studi Terbaru: “Bokek” Bukan Cuma Bikin Pusing—Bisa Tingkatkan Resiko Sakit Jantung
Ilustrasi. Menurut penelitan, kondisi bokek alias kekurangan uang ternyata bisa meningkatkan risiko penyakit jantung. Kok bisa? (iStockphoto/Rattankun Thongbun)

Perspektif.co.id - Kondisi “bokek” alias tekanan finansial ternyata tidak berhenti pada urusan dompet dan kesehatan mental. Sebuah penelitian yang dipublikasikan di Mayo Clinic Proceedings mengaitkan stres finansial dan kerawanan pangan dengan percepatan “penuaan” jantung—bahkan ketika faktor risiko medis klasik sudah diperhitungkan. Temuan ini menyorot sisi lain penyakit kardiovaskular: bukan hanya soal kolesterol, hipertensi, atau gula darah, tetapi juga keadaan sosial-ekonomi yang dialami seseorang. 

Penelitian tersebut berjudul Interplay of Social Determinants of Health and Traditional Risk Factors in Predicting Cardiac Aging dan ditulis Nazanin Rajai dkk., dengan Amir Lerman sebagai peneliti utama. Dalam rilis yang dikutip berbagai sumber, studi ini menganalisis lebih dari 280.000 pasien dewasa yang mencari perawatan di Mayo Clinic pada periode 2018–2023. Para peneliti menilai faktor sosial penentu kesehatan (social determinants of health/SDoH) melalui kuesioner sembilan domain—mulai dari stres, aktivitas fisik, koneksi sosial, ketidakstabilan tempat tinggal, tekanan finansial, kerawanan pangan, kebutuhan transportasi, nutrisi, hingga pendidikan. 

Alih-alih menunggu seseorang benar-benar terkena serangan jantung, tim peneliti mengukur sesuatu yang mereka sebut sebagai “usia kardiovaskular” atau “usia biologis” jantung dan pembuluh darah. Pengukuran ini dilakukan dengan algoritma AI berbasis elektrokardiogram (AI-ECG) untuk memperkirakan “cardiac age” dan kemudian menghitung cardiac age gap—selisih antara usia jantung secara biologis dengan usia kronologis seseorang. Semakin besar gap itu, semakin “tua” kondisi jantung dibanding usia sebenarnya, yang diartikan sebagai sinyal peningkatan risiko penyakit kardiovaskular di masa depan. 

Hasil utamanya cukup menohok: di antara sembilan domain SDoH, tekanan finansial dan kerawanan pangan muncul sebagai faktor yang paling kuat terkait percepatan penuaan jantung, baik pada analisis populasi keseluruhan maupun ketika dipisah berdasarkan jenis kelamin. Bahkan, peneliti menyebut “interplay” atau saling-kait faktor sosial itu menjadi determinan paling berpengaruh dibanding faktor risiko klinis tradisional dalam pemodelan penuaan jantung. 

Amir Lerman menekankan bahwa temuan ini lahir dari kegelisahan lama di dunia medis: faktor risiko tradisional tidak selalu menjelaskan risiko kardiovaskular secara merata. “Ada faktor sosial yang tidak kita identifikasi atau tanyakan kepada pasien yang mungkin berpotensi membalikkan penuaan biologis,” kata Lerman dalam rilis studi tersebut. 

Cara membaca temuan ini dijelaskan lebih populer oleh dokter spesialis emergensi yang juga pakar kesehatan CNN, Dr. Leana Wen. Ia menyebut penelitian ini menilai lebih dari 280.000 orang dewasa yang mengisi survei sosial-ekonomi dan menjalani evaluasi kesehatan kardiovaskular. Menurut Wen, temuan inti studi itu menunjukkan: orang dengan stres finansial dan kerawanan pangan yang lebih tinggi cenderung memiliki bukti penuaan kardiovaskular yang lebih maju, bahkan setelah memperhitungkan faktor medis yang lazim. 

“In other words, two people of the same chronological age and with the same clinical risk profiles could have hearts that ‘aged’ at different rates, depending on how much financial strain they were under,” ujar Wen dalam sesi tanya-jawab yang dimuat CNN. Pada saat yang sama, ia mengingatkan studi ini tidak otomatis membuktikan sebab-akibat langsung. Namun, kata Wen, hasilnya memberi sinyal kuat bahwa tekanan ekonomi dapat memengaruhi kesehatan kardiovaskular, bukan hanya kesejahteraan psikologis. 

Wen juga menerangkan apa yang dimaksud “jantung menua” dalam konteks ilmiah. Penuaan kardiovaskular merujuk pada perubahan struktural dan fungsional pada sistem jantung dan pembuluh darah yang meningkatkan risiko penyakit jantung—misalnya pembuluh darah yang makin kaku, perubahan fungsi otot jantung, hingga kemampuan sistem kardiovaskular merespons aktivitas fisik yang menurun. Dalam kerangka ini, stres kronis dianggap dapat mempercepat proses melalui hormon stres seperti kortisol dan adrenalin yang memengaruhi tekanan darah, detak jantung, peradangan, serta metabolisme. Jika terjadi berulang dan berkepanjangan, efek “aus” pada jantung dan pembuluh darah bisa menumpuk. 

Lalu mengapa stres finansial dianggap lebih “berbahaya” ketimbang stres lain? Wen menjelaskan karakter stres finansial sering kali kronis, sulit dihindari, dan menyentuh banyak sisi hidup: kekhawatiran tagihan, stabilitas tempat tinggal, biaya medis, utang, hingga beban menanggung keluarga. Karena uang memengaruhi akses ke banyak kebutuhan dasar, tekanan finansial dapat mengganggu tidur, membatasi akses ke makanan sehat dan layanan kesehatan, serta mengurangi peluang olahraga maupun istirahat—faktor-faktor yang pada akhirnya saling memperkuat risiko kardiovaskular dari waktu ke waktu. 

Bagian yang paling “keras” dari temuan studi ini, menurut Wen, adalah besarnya asosiasi stres finansial terhadap penuaan jantung yang dinilai setara—bahkan bisa melampaui—sejumlah faktor risiko klinis. “What’s most striking… the magnitude of the association between financial stress and heart aging was similar to or even exceeded that of many clinical risk factors,” ujarnya, sambil menegaskan bahwa ini bukan berarti faktor medis seperti hipertensi, diabetes, dan merokok menjadi tidak penting. Sebaliknya, tekanan finansial dapat “menambah” beban risiko: seseorang dengan tekanan darah tinggi yang juga berada dalam tekanan ekonomi berat dapat menghadapi risiko yang berlapis. 

Dalam rilis studi, peneliti juga menekankan bahwa faktor sosial tertentu—seperti tekanan finansial, persoalan perumahan, dan inaktivitas fisik—berkorelasi kuat dengan peningkatan risiko kematian, bahkan disebut bisa menandingi atau melampaui beberapa faktor risiko konvensional. Dari sisi kebijakan kesehatan, temuan ini membuka ruang diskusi yang lebih luas: pencegahan penyakit jantung tidak cukup hanya menargetkan angka-angka klinis, tetapi juga perlu memahami konteks sosial-ekonomi pasien. 

Namun, studi ini tetap punya batasan. Peneliti menyatakan algoritma AI-ECG divalidasi secara internal di Mayo Clinic, dan mayoritas responden survei mengidentifikasi diri sebagai non-Hispanic White. Artinya, generalisasi hasil ke populasi yang sangat berbeda perlu kehati-hatian dan riset lanjutan.

Meski demikian, pesan besarnya jelas: kesehatan jantung tidak berdiri sendiri di ruang klinik. Ia ikut dibentuk oleh tekanan sosial yang dialami orang dalam kehidupan nyata. Wen merangkum bahwa risiko penyakit jantung memang dipengaruhi banyak faktor dan stres finansial “meningkatkan risiko”, bukan memvonis seseorang pasti sakit. “Risk is influenced by many factors, and there are still meaningful actions individuals and clinicians can take to reduce harm,” katanya. 

Berita Terkait