TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Microsoft secara resmi dikabarkan tengah mengakselerasi pengembangan sistem operasi generasi terbaru yang disebut-sebut sebagai Windows 12 untuk menggantikan dominasi Windows 11 di pasar global. Proyek ambisius dengan nama sandi "Hudson Valley" ini melibatkan tim internal Microsoft yang berkolaborasi erat dengan raksasa semikonduktor seperti Intel, AMD, dan Qualcomm. Spekulasi ini semakin menguat seiring dengan fokus perusahaan yang mulai bergeser sepenuhnya ke arah integrasi kecerdasan buatan pada level kernel sistem operasi.
Informasi mengenai kehadiran suksesor Windows ini mulai meledak di berbagai platform media sosial seperti X dan Reddit, serta menjadi laporan utama di media teknologi internasional seperti Windows Central. Sebagian besar analis memprediksi bahwa pengumuman resmi akan dilakukan pada paruh kedua tahun 2026, menyesuaikan dengan siklus pembaruan perangkat keras yang mendukung teknologi NPU terbaru. Meskipun demikian, Microsoft masih menutup rapat informasi tanggal pastinya demi menjaga momentum pertumbuhan Windows 11 yang baru saja menembus satu miliar pengguna.
Alasan utama di balik urgensi peluncuran Windows 12 adalah ambisi Microsoft untuk menghadirkan pengalaman "Agentic OS" yang mampu memproses data AI secara lokal tanpa ketergantungan penuh pada awan. Perusahaan ingin menciptakan standar baru dalam produktivitas di mana sistem operasi tidak lagi hanya menjadi alat pasif, melainkan asisten proaktif yang memahami konteks pengguna secara mendalam. Langkah ini juga dipandang sebagai strategi untuk mendorong penjualan perangkat PC kelas atas yang memiliki spesifikasi khusus untuk menjalankan fitur-fitur AI generatif.
Secara teknis, Windows 12 dirumorkan akan menggunakan arsitektur modular yang memisahkan inti sistem dari aplikasi guna meningkatkan keamanan serta kecepatan proses pembaruan perangkat lunak secara keseluruhan. Pengguna nantinya akan disuguhi tampilan antarmuka baru yang lebih dinamis, termasuk fitur floating taskbar dan integrasi Neural Engine yang akan mengotomatisasi manajemen sumber daya perangkat secara cerdas. Namun, implementasi ini kabarnya menuntut persyaratan perangkat keras yang lebih tinggi, seperti kewajiban memiliki chip NPU dengan performa minimal sebesar 45 TOPS.
"Windows 12 bukan sekadar pembaruan visual, melainkan perubahan paradigma fundamental tentang bagaimana sistem operasi berinteraksi dengan perangkat keras berbasis AI," tulis Zac Bowden, jurnalis senior dari Windows Central dalam laporan terbarunya.
"Kami melihat tanda-tanda kuat bahwa persyaratan perangkat keras akan meningkat secara signifikan demi mendukung fitur-fitur futuristik yang sedang dikembangkan oleh tim teknis di Redmond," ungkap salah satu pengembang di forum komunitas pengembang internasional.