TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Boston Dynamics merilis video yang langsung memantik perhatian dunia: robot humanoid Atlas mengangkat kulkas mini seberat lebih dari 45 kilogram, memeluknya erat dengan kedua lengan, lalu membawanya ke meja di belakangnya—sendirian, tanpa bantuan teknisi. Atlas memutar torsonya 180 derajat, menekuk lutut untuk mengangkat kulkas, kemudian membawanya melintasi lantai laboratorium sambil terus menyesuaikan keseimbangan terhadap beban yang bergerak di dalam benda tersebut, sebagaimana ditampilkan dalam blog teknis resmi Boston Dynamics yang dirilis Senin (19/5/2025).
Kemampuan ini dikembangkan hanya dalam hitungan minggu sejak debut publik Atlas, menandai lompatan besar dari sekadar demonstrasi terprogram menuju perilaku industri yang benar-benar adaptif. Boston Dynamics menegaskan bahwa video ini “menandai titik balik penting, membuktikan Atlas siap melampaui demonstrasi laboratorium menuju lingkungan industri yang penuh variabel.”
Kunci di balik kemampuan itu bukan penglihatan—melainkan proprioception, yakni kesadaran tubuh internal yang memungkinkan Atlas merasakan berat, keseimbangan, cengkeraman, dan resistansi secara real-time tanpa perlu “melihat” objek secara eksplisit. Atlas dilatih melalui reinforcement learning dengan berlatih jutaan jam secara paralel di GPU, menghadapi variasi tak terbatas dari posisi kulkas, massa, gesekan lantai, hingga kekuatan cengkeraman.
Meski kebijakan RL-nya hanya dilatih untuk beban 23–32 kilogram, Atlas berhasil memindahkan kulkas berisi berbagai benda yang beratnya melampaui 45 kilogram dengan distribusi yang tidak merata—tanpa intervensi manual dari insinyur manapun.
“Kami belum melihat batas kemampuan Atlas,” ujar Shane Rozen-Levy, Software Engineer Atlas, sebagaimana dikutip TechRadar. “Masa depan hanya dibatasi oleh imajinasi kita.”
“Atlas menggunakan seluruh tubuhnya—lengan, kaki, dan torso—untuk mengelola angkatan yang bahkan akan membuat manusia kesulitan,” tulis Boston Dynamics dalam blog resminya.
Desain hardware Atlas yang disederhanakan—hanya dua jenis aktuator di seluruh rangka, tanpa kabel eksternal di persendian, dan sendi yang dapat berputar 360 derajat penuh—mempersempit celah sim-to-real secara signifikan, sehingga perilaku yang dilatih dalam simulasi dapat langsung diterapkan pada perangkat fisik dengan penyesuaian minimal.
Atlas kini sudah dalam tahap produksi untuk deployment komersial, dengan Hyundai Motor Group—selaku pemilik mayoritas Boston Dynamics—berencana membangun fasilitas robotika berkapasitas 30.000 unit per tahun pada 2028. Demo kulkas ini bukan sekadar atraksi; ini sinyal bahwa era robot humanoid di lantai pabrik bukan lagi soal “kapan”, melainkan “seberapa cepat”.