TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Dunia kompresi video tengah berada di persimpangan paling krusial dalam sejarahnya. Sepanjang 2025, pertarungan antar codec video tidak lagi sekadar soal keunggulan teknis, melainkan soal kelangsungan bisnis, lisensi paten, dan siapa yang akan mendominasi cara miliaran manusia menonton video di era internet — mulai dari YouTube, Netflix, TikTok, hingga platform lokal di Asia Tenggara. Codec, singkatan dari coder-decoder, adalah perangkat lunak atau perangkat keras yang mengompresi dan mengurai data video mentah menjadi format yang dapat disimpan, dikirim melalui jaringan, lalu diputar ulang tanpa kehilangan kualitas secara signifikan. Tanpa codec, satu menit video beresolusi 4K mentah bisa memakan ruang penyimpanan ratusan gigabyte — sebuah hambatan fatal bagi infrastruktur internet modern manapun.
Sejarah codec video bermula dari kebutuhan mendesak untuk memangkas beban data video di era analog. Pada dekade 1970-an, matematikawan berhasil mengembangkan metode Discrete Cosine Transform (DCT), sebuah algoritma kompresi matematis yang hingga kini masih menjadi pondasi dari hampir semua codec modern. Prinsipnya adalah mengidentifikasi dan membuang redundansi dalam data gambar — piksel yang warnanya sama, frame yang tidak banyak berubah — sehingga hanya perubahan penting saja yang disimpan. Dari sinilah lahir sistem kompresi video pertama yang praktis. Memasuki era digital pada awal 1990-an, konsorsium Moving Picture Experts Group (MPEG) yang berada di bawah naungan ISO/IEC meluncurkan MPEG-1, standar codec digital pertama yang cukup matang dan menjadi tulang punggung format VCD. Menyusul setelahnya adalah MPEG-2, yang diterapkan secara masif pada siaran televisi digital, DVD, dan siaran satelit di seluruh dunia. MPEG-2 menjadi fondasi revolusi siaran digital global di penghujung abad ke-20, meski kebutuhan bandwidth-nya tergolong besar untuk ukuran saat itu.
Babak baru dimulai pada tahun 2003 ketika International Telecommunication Union (ITU) bersama ISO/IEC melalui Joint Video Team (JVT) memfinalisasi standar H.264, yang juga dikenal sebagai AVC (Advanced Video Coding) atau MPEG-4 Part 10. Mengutip laporan dari Streaming Media Magazine dan dokumentasi teknis ITU, H.264 mampu menghasilkan kualitas video yang setara dengan MPEG-2 pada setengah bitrate-nya — sebuah lompatan efisiensi yang langsung membuat dunia pertelevisian, perfilman, dan internet tergerak masif untuk beralih. H.264 akhirnya menjadi codec paling dominan di planet ini, tertanam di hampir semua kamera digital, smartphone, konsol game, browser, dan platform streaming yang ada. Menurut laporan Bitmovin 8th Annual Video Developer Report 2024–2025, H.264 masih menjadi pilihan utama yang didukung oleh hampir seluruh ekosistem industri streaming global, meskipun codec-codec generasi baru terus bermunculan.
Namun supremasi H.264 mulai tergerus ketika era 4K dan HDR (High Dynamic Range) datang. Pada 2013, ITU dan ISO/IEC kembali bekerja sama memfinalisasi H.265, atau HEVC (High Efficiency Video Coding). Berdasarkan data teknis yang dikutip dari Ant Media, sebuah platform streaming profesional, HEVC mampu menghadirkan kualitas 1080p pada bitrate hanya 2.250–3.000 kbps, dibandingkan 4.500–6.000 kbps yang dibutuhkan H.264 pada resolusi yang sama — efisiensi dua kali lipat yang sangat dibutuhkan untuk streaming 4K. HEVC langsung menjadi standar de facto untuk konten premium 4K/HDR, digunakan oleh Apple di perangkat iOS dan macOS sejak 2017, Sony pada format XAVC HS di kamera profesionalnya seperti A7S III, serta berbagai layanan streaming premium. Masalahnya, HEVC membawa beban lisensi paten yang pelik dan mahal — melibatkan berbagai pool paten dari MPEG-LA, Access Advance, hingga Via Licensing Alliance — yang membuat banyak penerbit konten dan pengembang open-source enggan mengadopsinya secara penuh.
Di sisi lain dari arena yang sama, Google meluncurkan VP8 pada 2010 setelah mengakuisisi perusahaan pengembangnya, On2 Technologies, dan menyusul dengan VP9 pada 2013 sebagai alternatif bebas royalti yang secara teknis mampu bersaing dengan HEVC. Menurut laporan dari Ant Media dan Gumlet, VP9 membutuhkan sekitar 2.400–3.200 kbps untuk streaming 1080p dengan kualitas setara 4.500 kbps H.264, menjadikannya sangat efisien. YouTube menjadi pengguna terbesar VP9 dan menggunakannya untuk sebagian besar pengiriman video di browser desktop. Namun VP9 gagal meraih adopsi luas di luar ekosistem Google, sebagian karena komplikasi lisensi paten yang mengikutinya, serta kurangnya dukungan hardware decode yang memadai di perangkat non-Google. Pelajaran itulah yang mendorong Google untuk turut mendirikan sebuah konsorsium yang lebih ambisius.
Pada 1 September 2015, tujuh perusahaan teknologi terbesar dunia — Amazon, Cisco, Google, Intel, Microsoft, Mozilla, dan Netflix — secara resmi mendirikan Alliance for Open Media (AOM), dengan satu misi: menciptakan codec video berkualitas tinggi yang sepenuhnya bebas royalti. Hasilnya adalah AV1, yang secara resmi dirilis pada Maret 2018 dan kini telah berkembang menjadi salah satu codec paling berpengaruh dalam sejarah industri streaming. Berdasarkan data yang dipublikasikan Wikipedia dan dikonfirmasi oleh berbagai laporan independen, AV1 mampu menghasilkan kompresi 34% lebih tinggi dibanding VP9, 46% lebih tinggi dari H.264, dan 20–30% lebih efisien dibanding HEVC pada bitrate yang sama. AV1 juga dirancang sejak awal untuk mendukung resolusi tinggi, frame rate lebih cepat, gamut warna lebih luas sesuai standar ITU-R BT.2020, serta integrasi mendalam dengan WebRTC untuk komunikasi video real-time.
“Sejak memasuki bisnis streaming pada 2007, Netflix awalnya mengandalkan H.264/AVC sebagai format streaming utamanya. Namun kami segera menyadari bahwa codec modern yang bersifat terbuka akan memberikan manfaat bukan hanya bagi Netflix, tetapi bagi seluruh industri multimedia,” demikian pernyataan resmi Netflix dalam blog teknologi mereka yang dikutip oleh FlatpanelsHD.
Fakta itulah yang kini terbukti di lapangan. Laporan FlatpanelsHD pada akhir 2025 mengungkap bahwa AV1 telah menyumbang sekitar 30% dari seluruh streaming Netflix, menjadikannya codec terbesar kedua di platform tersebut setelah H.264 — dan perusahaan menyatakan AV1 berada di jalur untuk segera menjadi yang nomor satu. Netflix mulai meluncurkan streaming AV1 sejak Februari 2020, memperluas ke perangkat TV pada akhir 2021, menambahkan dukungan browser pada 2022, dan pada Maret 2025 mulai menggunakannya untuk streaming HDR10+ di Smart TV Samsung. Data Netflix juga menunjukkan bahwa dalam lima tahun terakhir antara 2021 hingga 2025, 88% dari perangkat layar besar yang disertifikasi Netflix sudah mendukung AV1 secara hardware, dengan sebagian besar mampu memutar konten 4K pada 60 frame per detik. Di sisi Meta, laporan resmi dari Facebook Engineering yang dipublikasikan September 2025 mengungkap bahwa lebih dari 70% dari total jam tonton video di seluruh aplikasi Meta Family sudah menggunakan AV1 — sebuah pencapaian yang menandai momen bersejarah transisi industri ke generasi codec baru.
“Hari ini, AV1 menyumbang sekitar 30% dari seluruh streaming Netflix, menjadikannya codec terbesar kedua yang kami gunakan — dan sedang dalam jalur untuk menjadi yang nomor satu dalam waktu dekat. Hasilnya sangat signifikan,” kata Netflix dalam pernyataan resminya yang dikutip FlatpanelsHD.
Adopsi hardware juga mencapai momentum kritis. Apple menambahkan dukungan hardware decode AV1 yang dipercepat melalui chip M3 dan A17 Pro pada 2023. Qualcomm mengumumkan dukungan AV1 di platform Snapdragon 7 Gen 4 pada Mei 2025, yang akan membawa akselerasi hardware AV1 ke segmen smartphone kelas menengah. YouTube pun meluncurkan dukungan AV1 untuk live streaming populer pada 2025, dan berencana terus memperluas AV1 ke lebih banyak perangkat iPhone dan Android yang belum mendukung hardware decode-nya. Di Twitch, platform streaming game milik Amazon, AV1 sudah diterapkan untuk konten terpopuler sejak 2022–2023. Sementara di Asia, DMM.TV dari Jepang menjadi layanan streaming pertama di negara itu yang mengadopsi AV1 pada Juli 2024, diikuti Bilibili dari China yang sudah menggabungkan HEVC dan AV1 sejak Januari 2022.
Sementara AV1 sedang dalam masa kejayaannya, standar codec berikutnya sudah antri. VVC (Versatile Video Coding), yang juga dikenal sebagai H.266, difinalisasi pada 2020 oleh Joint Video Experts Team (JVET) — kolaborasi antara ITU-T dan ISO/IEC. Berdasarkan data dari Free-Codecs.com dan laporan Streaming Media Magazine, VVC menjanjikan efisiensi kompresi 50% lebih baik dibanding HEVC, memungkinkan streaming 4K berkualitas tinggi pada bitrate hanya 6–8 Mbps dibandingkan 12–15 Mbps yang dibutuhkan HEVC. Ini berarti streaming 8K pun dapat menjadi layak secara teknis untuk konsumen biasa. Namun VVC menghadapi hambatan serius: hingga awal 2025, belum ada satu pun perangkat mobile yang memiliki dukungan hardware VVC, proses encoding VVC tercatat 10 kali lebih lambat dibanding x265 menurut pengujian encoder VVenC dari Fraunhofer yang dilaporkan Wowza Media, dan lisensi patennya yang rumit membuat banyak penerbit besar bersikap skeptis.
Di tengah kompetisi ini, Alliance for Open Media sedang mengerjakan AV2 — penerus langsung AV1 yang menargetkan efisiensi kompresi 30% lebih baik dibanding AV1 dengan kompleksitas encoding yang lebih rendah. Menurut laporan Ant Media dan Coconut.co, AOM menargetkan rilis AV2 pada kuartal keempat 2025, dengan penerapan produksi penuh pada 2027. Netflix sendiri menyinggung AV2 dalam pernyataan publik mereka, menyebutnya sebagai masa depan streaming, meski tidak memberikan jadwal konkret untuk implementasinya. Di ujung cakrawala waktu yang lebih jauh, standar H.267 sedang dalam pengembangan dan diperkirakan baru akan difinalisasi antara Juli dan Oktober 2028, dengan penerapan bermakna yang tidak diharapkan terjadi sebelum 2034–2036, berdasarkan pola historis pengembangan codec.
Lanskap kompetisi juga semakin diperumit oleh dinamika lisensi paten yang bergerak liar. Pada awal 2025, Access Advance meluncurkan Video Distribution Patent (VDP) Pool — sebuah program lisensi yang secara mengejutkan menargetkan konten internet yang di-encode menggunakan HEVC, VVC, AV1, dan VP9 sekaligus. Dilaporkan oleh Streaming Media Magazine, VDP Pool menerapkan struktur harga berlapis enam tingkat berdasarkan metrik bisnis distribusi video seperti pengguna aktif bulanan, jumlah pelanggan, dan pendapatan. Ini berarti codec yang selama ini dianggap bebas royalti seperti AV1 dan VP9 kini menghadapi risiko biaya lisensi konten baru. Nokia pun telah menggugat berbagai perusahaan besar atas lisensi teknologi video, termasuk mencapai kesepakatan dengan Amazon yang mencakup royalti perangkat dan konten. Keadaan ini, menurut analis Jan Ozer dari Streaming Learning Center, membuat adopsi codec kini bukan lagi semata soal keunggulan teknis, melainkan soal kalkulasi kelangsungan bisnis yang jauh lebih kompleks.
Jika dipetakan secara menyeluruh, H.264 masih menjadi pilihan universal karena kompatibilitasnya yang hampir sempurna di semua perangkat, browser, dan sistem operasi tanpa terkecuali — menjadikannya pilihan paling aman untuk live streaming, kompatibilitas legacy, dan distribusi konten ke audiens yang luas. HEVC unggul untuk konten 4K/HDR premium dan sudah tersemat di hampir semua perangkat modern, meski beban lisensinya tetap menjadi isu. VP9 tetap relevan untuk ekosistem YouTube dan web berbasis browser, tetapi masa depannya semakin suram mengingat AV1 yang menawarkan keunggulan lebih besar. AV1 saat ini berada di titik momentum paling optimal: efisiensi kompresi terbaik di kelasnya, bebas royalti (dengan caveat lisensi konten baru yang patut diwaspadai), dukungan hardware yang terus meluas, dan ekosistem platform yang semakin matang. VVC secara teknis unggul namun terlalu dini dan terlalu mahal untuk diadopsi secara luas dalam waktu dekat.
Pertarungan codec video kini bukan lagi sekadar perang angka-angka kompresi di laboratorium. Ini adalah pertarungan ekosistem, lisensi, dan kekuatan konsorsium di balik setiap standar. Masa depan cara manusia menonton video — di bioskop, televisi, ponsel, hingga headset augmented reality — ditentukan oleh siapa yang menang dalam perang senyap ini.