11 December 2025, 23:44

Ngeri, 2025 Diprediksi Jadi Tahun Terpanas Kedua dalam Sejarah, Bumi Kian Menjauh dari Target Paris

Tahun 2025 diperkirakan akan tercatat sebagai tahun terpanas kedua atau ketiga sepanjang sejarah pencatatan iklim modern, tepat di bawah 2024.

Reporter: M. Ansori
Editor: Zainur Akbar
2,276
Ngeri, 2025 Diprediksi Jadi Tahun Terpanas Kedua dalam Sejarah, Bumi Kian Menjauh dari Target Paris
Copernicus memprediksi 2025 bakal menjadi tahun terpanas kedua atau ketiga sepanjang sejarah setelah 2024. (REUTERS/TINGSHU WANG).

Perspektif.co.id - Tahun 2025 diperkirakan akan tercatat sebagai tahun terpanas kedua atau ketiga sepanjang sejarah pencatatan iklim modern, tepat di bawah 2024. Program pengamatan bumi Uni Eropa, Copernicus, melaporkan bahwa suhu rata-rata global periode Januari hingga November 2025 sudah berada 1,48 derajat Celsius di atas level pra-industri.

Lembaga itu menilai, besaran anomali tersebut sejajar dengan yang terjadi pada 2023, yang sebelumnya dikukuhkan sebagai tahun terpanas kedua setelah 2024. Dengan tren ini, rentetan rekor suhu tinggi dalam tiga tahun terakhir dipandang sebagai sinyal kuat bahwa sistem iklim bumi terus mengalami pemanasan yang makin cepat.

Di sisi lain, para pemimpin dunia melalui Perjanjian Iklim Paris telah berkomitmen menahan kenaikan suhu global agar tidak melampaui 1,5 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri pada akhir abad ini. Namun realitas di lapangan menunjukkan tren pemanasan yang kian mendekati dan berisiko melampaui ambang tersebut lebih cepat dari yang diperkirakan.

Copernicus memperkirakan rata-rata suhu tiga tahun berturut-turut 2023–2025 untuk pertama kalinya akan melampaui batas 1,5 derajat Celsius. Tonggak baru ini disebut bukan sekadar angka simbolik, melainkan indikator bahwa planet ini telah memasuki fase risiko iklim yang lebih besar dengan konsekuensi nyata bagi kehidupan manusia.

Laporan bulanan Copernicus mencatat November 2025 sebagai November terpanas ketiga dalam sejarah pengamatan global. Suhu yang “secara signifikan” lebih tinggi tercatat di kawasan Kanada utara dan Laut Arktik, wilayah yang selama ini berperan penting sebagai penyangga sistem iklim dunia karena lapisan es dan salju yang luas.

Bulan tersebut juga diwarnai serangkaian kejadian cuaca ekstrem, mulai dari siklon hingga banjir besar yang menelan korban jiwa dan menghancurkan pemukiman di sejumlah negara Asia Selatan dan Asia Tenggara. Rangkaian bencana ini memperkuat indikasi bahwa pemanasan global memperparah intensitas dan frekuensi kejadian cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia.

Kenaikan suhu rata-rata global yang tajam sangat terkait dengan lonjakan polusi karbon dari aktivitas manusia. Emisi gas rumah kaca memperkuat efek pemanasan dan memicu cuaca ekstrem, mulai dari gelombang panas berkepanjangan, kekeringan, hingga hujan lebat yang memicu banjir dan longsor.

Di luar faktor antropogenik, kondisi cuaca dari tahun ke tahun juga dipengaruhi variabilitas alamiah. Fenomena El Niño yang menghangatkan suhu global pada 2023 dan 2024 kemudian digantikan La Niña yang bersifat mendinginkan, meski hanya secara lemah, pada 2025. Namun Copernicus menemukan, bahkan dengan kehadiran La Niña yang biasanya menurunkan suhu, 2025 masih sejajar dengan 2023 sebagai tahun terpanas kedua dalam catatan.

Direktur Copernicus, Carlo Buontempo Burgess, mengingatkan bahwa capaian rekor suhu tidak boleh dipandang sebagai data teknis semata. “Tonggak sejarah ini bukan hal yang abstrak,” ujarnya. Ia menegaskan, lonjakan suhu yang terus tercatat adalah gambaran laju perubahan iklim yang semakin cepat dan berbahaya.

Menurut Burgess, satu-satunya jalan untuk membatasi kenaikan suhu di masa depan adalah dengan segera memangkas emisi gas rumah kaca secara drastis. Tanpa langkah pengurangan yang ambisius dan konsisten, dunia akan kian menjauh dari jalur aman yang disepakati dalam Perjanjian Paris.

Sejak kesepakatan iklim global itu diadopsi pada 2015, emisi gas rumah kaca yang memanaskan atmosfer justru terus naik, diikuti kenaikan suhu rata-rata global dan meningkatnya intensitas cuaca ekstrem. Pembangunan energi terbarukan memang membantu menahan laju kenaikan, tetapi belum cukup untuk membalik tren pemanasan yang sudah berlangsung.

Temuan Copernicus ini selaras dengan analisis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menjelang pelaksanaan KTT iklim Cop30 di Brasil bulan lalu. WMO memperkirakan periode 2015 hingga 2025 akan tercatat sebagai 11 tahun terpanas sejak pengamatan suhu global dimulai pada 1850. Dengan kata lain, satu dekade terakhir pada dasarnya adalah rangkaian tahun rekor panas tanpa jeda berarti.

“Kami tidak berada di jalur yang tepat untuk mencapai tujuan Perjanjian Paris,” tegas Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo. Ia mengingatkan bahwa berbagai indikator iklim—mulai dari suhu permukaan laut, mencairnya es, hingga kenaikan permukaan air laut—telah memberikan “peringatan dini” yang sangat jelas sepanjang 2025.

Saulo menambahkan, cuaca ekstrem yang semakin sering dan intens kini memberi dampak global yang signifikan terhadap perekonomian dan seluruh aspek pembangunan berkelanjutan. Gangguan pada sektor pertanian, infrastruktur, kesehatan, hingga ketahanan pangan semakin sering terjadi dan berpotensi menambah tekanan pada negara-negara rentan yang belum pulih sepenuhnya dari krisis sebelumnya.

Dengan proyeksi 2025 sebagai salah satu tahun terpanas dalam sejarah, ilmuwan dan lembaga internasional kembali menegaskan urgensi aksi nyata untuk menurunkan emisi, memperkuat adaptasi, dan mengurangi risiko bencana iklim yang mengancam kehidupan dan stabilitas ekonomi di seluruh dunia.

Berita Terkait