08 March 2026, 00:21

Morgan Stanley Peringatkan Perang Iran Picu Kekacauan Pasar Global dan Hancurkan Strategi 60/40

Konflik Iran ganggu Selat Hormuz, picu inflasi energi, dan hancurkan strategi portofolio 60/40 menurut peringatan Morgan Stanley.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
1,212
Morgan Stanley Peringatkan Perang Iran Picu Kekacauan Pasar Global dan Hancurkan Strategi 60/40
Gedung Morgan Stanley di New York sebagai ilustrasi peringatan risiko pasar global akibat perang Iran dan gangguan energi di Selat Hormuz. (AI Generated by: Perspektif.co.id)

EKONOMI, Perspektif.co.id — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar global setelah konflik Iran meningkat tajam sejak akhir Februari. Morgan Stanley memperingatkan bahwa gejolak tersebut mulai merusak fondasi strategi investasi klasik 60/40, seiring lonjakan harga energi dan inflasi yang kembali menekan ekonomi dunia.

Lembaga riset bank investasi itu menilai bahwa gangguan pada jalur pelayaran energi di Selat Hormuz—yang selama ini menjadi nadi distribusi sekitar 20% perdagangan minyak global dan sebagian besar LNG dunia—telah menciptakan skenario “semua pihak merugi”. Situasi ini memicu volatilitas tajam di pasar saham, komoditas, hingga nilai tukar.

“Setiap gangguan pada transportasi melalui Selat Hormuz dapat berdampak besar pada pasar energi global dan harga,” ujar Devin McDermott, Kepala Riset Energi Amerika Utara Morgan Stanley, menegaskan ketidakpastian yang kini membayangi investor.

Sejak Iran melakukan blokade terbatas pada akhir Februari, lalu lintas tanker di kawasan itu anjlok drastis. Banyak kapal minyak dan LNG memilih berhenti di luar jalur pelayaran karena risiko serangan drone, rudal, hingga gangguan elektronik yang meningkat. Kondisi ini diperburuk oleh peringatan resmi dari MARAD AS dan UKMTO Inggris yang menyebut kawasan tersebut berada dalam status “sangat volatil”.

Dana Moneter Internasional (IMF) juga mengingatkan bahwa konflik ini berpotensi menggagalkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global 3,3% tahun ini. Inflasi berbasis energi diperkirakan kembali menanjak, memaksa bank sentral di berbagai negara menghadapi dilema antara menahan inflasi atau menjaga momentum pertumbuhan.

“Risiko eskalasi regional dapat memicu lonjakan harga yang lebih ekstrem dan mengganggu rantai pasok global,” tulis analis pasar dalam laporan terpisah, menyoroti potensi dampak berantai pada perdagangan internasional dan stabilitas keuangan.

Sementara itu, pasar keuangan global menunjukkan reaksi cepat. Harga minyak melonjak, emas menguat, dan indeks saham utama sempat terkoreksi. Investor kini menilai ulang eksposur portofolio mereka, terutama karena strategi 60/40—yang mengandalkan keseimbangan antara saham dan obligasi—tidak lagi memberikan perlindungan optimal di tengah inflasi energi yang terus menekan.

Dengan ketidakpastian yang masih tinggi, para analis memperkirakan volatilitas pasar akan berlanjut dalam beberapa pekan ke depan, terutama jika Selat Hormuz tetap tidak dapat digunakan secara penuh oleh kapal tanker. Situasi ini menempatkan ekonomi global dalam posisi rentan, dengan risiko merembet ke sektor energi, logistik, hingga stabilitas keuangan negara berkembang.

Berita Terkait