09 December 2025, 12:53

Kamal Muara hingga Tanjung Priok Terancam Banjir Rob, Warga Diminta Siaga

Penjelasan lengkap penyebab banjir rob di Jakarta Utara akibat supermoon, daftar wilayah rawan, serta imbauan resmi Pemprov DKI dan DLH agar warga lebih waspada

Reporter: Irfan Farhani
Editor: Redaksi Perspektif
2,773
Kamal Muara hingga Tanjung Priok Terancam Banjir Rob, Warga Diminta Siaga
Banjir Roba Melanda Beberapa titik di Jakarta. Warga dihimbau waspada.

Perspektif.co.id - Di penghujung 2025, warga pesisir Jakarta kembali dihadapkan pada ancaman banjir rob. Sejumlah kawasan di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu dilaporkan berpotensi tergenang akibat kombinasi pasang maksimum air laut, fenomena supermoon, dan penurunan muka tanah di wilayah pesisir.

Pemprov DKI Jakarta bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mengingatkan warga untuk waspada, terutama pada periode 1–10 Desember 2025 pukul 07.00–13.00 WIB, saat puncak pasang diperkirakan terjadi.

Supermoon dan Full Moon Dorong Air Laut Naik

Melalui kanal resmi @dkijakarta dan @dinaslhdki, pemerintah menjelaskan bahwa dalam beberapa hari terakhir Bulan berada pada jarak terdekat dengan Bumi (perigee), yang populer disebut supermoon. Pada posisi ini, daya tarik gravitasi Bulan terhadap permukaan laut meningkat.

Fenomena tersebut bersamaan dengan fase Bulan purnama (full moon), ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis. Secara alamiah, kondisi ini membuat pasang air laut menjadi lebih tinggi dari biasanya. Ketika supermoon dan full moon terjadi bersamaan, efek gravitasi menguat dan mendorong air laut naik lebih jauh ke daratan.

Di sisi lain, sejumlah kawasan pesisir utara Jakarta memiliki elevasi yang sangat rendah bahkan lebih rendah dari muka air laut saat pasang, ditambah penurunan tanah yang terjadi dari tahun ke tahun. Kombinasi faktor inilah yang membuat banjir rob mudah terbentuk.

Air laut bisa melimpas melalui garis pantai, menyusup lewat saluran drainase, hingga menekan aliran sungai dari arah hilir, sehingga air sungai ikut meluap ke permukiman.

Daftar Kawasan Paling Rentan Banjir Rob

Pemprov DKI mencatat, deretan wilayah pesisir berikut menjadi titik yang paling merasakan dampak kenaikan muka air laut:

  • Kamal Muara
  • Kapuk Muara
  • Penjaringan
  • Pluit
  • Ancol
  • Kamal
  • Marunda
  • Cilincing
  • Kalibaru
  • Muara Angke
  • Tanjung Priok
  • Kepulauan Seribu

Setiap kawasan memiliki karakter garis pantai, arah angin, dan kontur tanah berbeda. Di sebagian titik, daratan dan laut hanya terpisah selisih elevasi tipis, sehingga ketika pasang maksimum terjadi, genangan cepat merayap ke jalan pesisir, kawasan pelabuhan, hingga permukiman padat.

Dampaknya, aktivitas warga melambat, lalu lintas terganggu, akses menuju kawasan pelabuhan dan sentra nelayan tersendat, dan sebagian rumah di dataran rendah terancam terendam air asin sementara.

Imbauan Resmi untuk Warga Pesisir Jakarta

Menjelang dan selama periode pasang tinggi, pemerintah daerah meminta masyarakat memperkuat kesiapsiagaan. Sejumlah langkah yang direkomendasikan antara lain:

Memantau perkembangan cuaca dan tinggi gelombang melalui kanal resmi, terutama bagi warga yang tinggal dan bekerja di kawasan pesisir.

Mengurangi aktivitas di tepi laut dan muara sungai pada jam-jam pasang puncak, khususnya bagi nelayan, pekerja pelabuhan, dan pengguna perahu kecil.

Memeriksa dan membersihkan sistem drainase lingkungan, termasuk got dan saluran rumah tangga, agar air rob lebih cepat surut dan tidak terjebak menjadi genangan berkepanjangan.

Mengamankan barang-barang penting dan peralatan listrik di rumah yang berada di titik rawan genangan, serta menyiapkan jalur evakuasi sederhana bila air naik mendadak.

Mengakses informasi dan peringatan dini melalui laman bpbd.jakarta.go.id/gelombanglaut dan mengunduh buku panduan kesiapsiagaan banjir di tautan tiny.cc/bukusakusiagabanjir.

Dalam kondisi darurat, warga diimbau segera menghubungi layanan panggilan darurat Jakarta di nomor 112 untuk mendapatkan bantuan.

Banjir Rob Akan Datang dan Pergi, Kesiapsiagaan Harus Tetap Menetap

Berbeda dengan banjir akibat hujan lebat yang bisa bertahan berhari-hari, banjir rob biasanya bersifat sementara mengikuti siklus pasang surut laut. Namun, jika tidak diantisipasi, genangan berulang akan mengganggu aktivitas ekonomi, merusak infrastruktur, dan mempercepat kerusakan lingkungan pesisir.

Karena itu, selain penanganan jangka pendek melalui informasi pasang dan penguatan tanggul, masyarakat juga didorong aktif menjaga kebersihan saluran air, tidak membuang sampah ke laut dan sungai, serta mendukung program penataan kawasan pesisir.

Ketika laut sesekali “menjemput” daratan, kesiapsiagaan warga dan koordinasi pemerintah menjadi kunci agar banjir rob tidak berubah menjadi bencana yang lebih besar.***

Berita Terkait