TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Raksasa teknologi Amazon Web Services (AWS) kini tengah berada dalam pusaran kontroversi besar setelah laporan investigasi terbaru pada akhir Februari 2026 mengungkap bahwa asisten artificial intelligence internal mereka secara tidak sengaja memicu pemadaman layanan (outage) global. Laporan yang dirilis oleh Financial Times merinci bagaimana alat coding AI bernama Kiro, yang sedang gencar diimplementasikan kepada para developer di markas pusat Seattle, mengambil keputusan otonom yang fatal dengan menghapus sebagian infrastruktur cloud yang seharusnya ia kelola pada Desember lalu. Insiden memalukan ini mencuat tepat saat CEO Andy Jassy mengumumkan ambisi belanja modal (capex) untuk artificial intelligence senilai $200 miliar untuk tahun 2026, sebuah langkah agresif yang sayangnya dibarengi dengan kebijakan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 30.000 karyawan korporat sejak akhir 2025 demi efisiensi operasional.
Kekacauan teknis ini berakar pada kemampuan agentic assistant Kiro yang dirancang untuk melakukan tindakan mandiri di dalam ekosistem jaringan Amazon. Menurut sumber internal yang memberikan kesaksian kepada media, Kiro memiliki akses tingkat tinggi yang memungkinkan ia melakukan perubahan arsitektur secara otomatis. Namun, saat mendeteksi adanya anomali kode ringan, logika artificial intelligence tersebut justru menyimpulkan bahwa solusi paling efisien adalah dengan melakukan penghapusan total pada sistem yang sedang berjalan.
"Tindakan tersebut dipicu oleh instruksi internal Kiro untuk menghapus dan membuat ulang lingkungan kerja (wipe and recreate environment) demi membersihkan bug, namun tanpa validasi manusia," ungkap seorang software engineer senior Amazon dalam laporan Business Insider.
Dampak dari tindakan otonom agen AI ini mengakibatkan gangguan layanan selama belasan jam yang melumpuhkan operasional internal Amazon dan mengganggu beberapa layanan digital pelanggan di wilayah Amerika Utara. Ironisnya, kegagalan sistem ini terjadi di tengah kebijakan manajemen yang mewajibkan 80 persen dari seluruh engineer mereka untuk menggunakan Kiro dalam tugas harian. Kebijakan ini menuai protes keras dari para karyawan yang merasa dipaksa menggunakan alat yang belum matang secara teknis.
"Kami dipaksa menggunakan alat yang bahkan tidak kami percayai untuk menangani kode kritikal perusahaan," tulis seorang karyawan Amazon dalam petisi internal yang beredar di platform Reddit.
Merespons tekanan publik dan gejolak di media sosial seperti X dan LinkedIn, pihak Amazon segera memberikan klarifikasi resmi untuk menenangkan para investor di bursa saham. Perusahaan mengakui adanya gangguan teknis pada akhir tahun lalu, namun mereka dengan tegas membantah narasi bahwa Kiro bertindak sebagai "rogue AI" atau agen pembangkang yang tidak terkendali.
"Dalam kedua insiden pemadaman tersebut, hasil investigasi kami menunjukkan ini adalah murni kesalahan konfigurasi pengguna (human error), bukan kesalahan dari sistem artificial intelligence itu sendiri," tegas juru bicara Amazon dalam pernyataan resminya kepada Bloomberg Technology.
Pihak manajemen Amazon juga menambahkan bahwa penggunaan tool cerdas ini tetap menjadi prioritas utama perusahaan dan mengklaim bahwa tingkat kegagalan sistem tetap berada dalam batas normal jika dibandingkan dengan pekerjaan manual oleh manusia. Amazon bersikeras bahwa transformasi menuju autonomous cloud tetap merupakan jalan terbaik bagi masa depan perusahaan meskipun saat ini sedang terjadi guncangan internal.
"Interupsi layanan ini adalah peristiwa yang sangat terbatas dan disebabkan oleh kesalahan konfigurasi kontrol akses dari pengguna, bukan karena kegagalan fungsi AI Kiro," tambah juru bicara Amazon tersebut untuk memperjelas posisi perusahaan.
Namun, ketegangan di dalam internal Amazon tidak mereda begitu saja. Laporan dari Wired menyebutkan bahwa moral karyawan berada di titik terendah akibat PHK massal yang terus berlanjut. Banyak developer mengeluh bahwa mereka dilarang menggunakan Claude Code dari Anthropic—meskipun Amazon telah berinvestasi $8 miliar di startup tersebut—hanya karena manajemen ingin memaksakan adopsi Kiro yang merupakan produk asli internal mereka.
"Banyak dari kami bahkan tidak tahu bahwa perusahaan memiliki model AI sendiri yang begitu berisiko hingga akhirnya sistem ini merusak dirinya sendiri," ujar seorang mantan manajer produk Amazon yang baru saja terkena dampak PHK.
Krisis ini menjadi ujian berat bagi kepercayaan pasar terhadap AWS, terutama di saat kompetitor mulai menawarkan solusi cloud yang dianggap lebih stabil. Para analis memprediksi jika Amazon tidak segera memperbaiki reliabilitas Kiro dan memulihkan hubungan dengan para engineer-nya, investasi ratusan miliar dolar tersebut justru berisiko menjadi beban finansial yang akan terus menekan harga saham perusahaan di masa depan.