21 January 2026, 23:14

Emas Antam “Tembus” Rp3 Juta/Gram di Marketplace, Benarkah Ini Awal Tren Panjang sampai 2028?

Harga emas batangan Antam ramai dibicarakan setelah tembus level psikologis Rp3 juta per gram di sejumlah lokapasar (marketplace) pada Rabu (21/1/2026).

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
1,690
Emas Antam “Tembus” Rp3 Juta/Gram di Marketplace, Benarkah Ini Awal Tren Panjang sampai 2028?
Harga emas Antam di sejumlah lokapasar (marketplace) menembus Rp3 juta per gram pada Rabu (21/1). (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).

JAKARTA, Perspektif.co.id - Harga emas batangan Antam ramai dibicarakan setelah tembus level psikologis Rp3 juta per gram di sejumlah lokapasar (marketplace) pada Rabu (21/1/2026). Mengacu informasi dari akun Instagram resmi @antamlogammulia yang dikutip beberapa media, emas Antam certicard di Tokopedia dipatok Rp3,094 juta per gram, sementara di Shopee mencapai Rp3,246 juta per gram. Di Blibli, harga tercatat Rp3,055 juta per gram, sedangkan TikTok Shop dan Lazada masing-masing berada di Rp3,092 juta dan Rp3,094 juta per gram.

Kenaikan harga di marketplace ini terjadi di tengah reli emas global yang kian agresif. Reuters melaporkan emas spot menembus tonggak US$4.800 per ons untuk pertama kali, didorong permintaan aset aman (safe haven) saat ketidakpastian global meningkat. 

Namun, lonjakan harga “Rp3 juta/gram” di lokapasar tidak otomatis berarti patokan resmi emas Antam di kanal penjualan utama ikut berada di angka yang sama. Pada hari yang sama, situs Logam Mulia menampilkan harga emas batangan 1 gram Rp2.772.000 (harga dasar), dengan keterangan harga diperbarui setiap hari pukul 08.30 WIB. 

Perbedaan ini lazim terjadi karena harga di marketplace dapat mencerminkan berbagai komponen tambahan, mulai dari premi produk/kemasan (misalnya certicard), biaya layanan platform, hingga ongkos distribusi yang berbeda antar-penjual. Di sisi lain, kanal resmi biasanya menampilkan harga acuan yang mengikuti mekanisme penetapan internal penjualan ritel.

Di tengah reli tersebut, pengamat pasar keuangan Ibrahim Assuaibi menilai tren penguatan emas berpotensi tidak sebentar. Ia memperkirakan momentum kenaikan dapat bertahan hingga 2028, seiring iklim global yang masih dibayangi ketidakpastian. “Tren kenaikan harga emas… kemungkinan akan berlangsung hingga tahun 2028,” kata Ibrahim, dikutip media, Rabu (21/1/2026). 

Menurut Ibrahim, dorongan utama datang dari kombinasi isu geopolitik dan perang dagang yang membuat investor kembali memburu aset pelindung nilai. Ia juga mengaitkan sentimen pasar dengan dinamika kebijakan Presiden AS Donald Trump, termasuk risiko friksi global yang memperbesar kecenderungan risk-off. 

Di domestik, tekanan nilai tukar rupiah disebut ikut memperkuat harga emas berbasis rupiah. Situasi ini membuat kenaikan emas terasa lebih “kencang” bagi investor ritel di Indonesia, terutama ketika reli global terjadi bersamaan dengan pelemahan kurs.

Meski demikian, tidak semua analis menilai reli emas akan mulus tanpa jeda. Pengamat pasar keuangan Ariston Tjendra menilai peluang penguatan masih terbuka setidaknya sepanjang 2026, dipicu ekspektasi penurunan suku bunga AS, kebijakan tarif, dan ketidakpastian global. Namun ia mengingatkan volatilitas yang tinggi bisa membuat harga bergerak liar dalam jangka pendek. 

“Ada kemungkinan bisa naik hingga US$5.000 sampai US$6.000 per troy ons,” ujar Ariston, seraya menekankan emas bukan instrumen untuk orientasi jangka pendek ketika volatilitas sedang tinggi. 

Ia juga mengingatkan bahwa dalam sejarahnya, harga emas pernah bergerak mendatar (sideways) cukup lama. “Kalau masuk di harga ini, investor harus tahu risikonya,” kata Ariston.

Kenaikan harga juga terlihat pada produk emas lainnya di pasar domestik. Pada Rabu (21/1/2026), emas Galeri24 dan UBS di Pegadaian juga dilaporkan berada di level jutaan rupiah per gram, menandakan reli tidak hanya terjadi pada satu merek atau satu kanal penjualan.

Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar menilai kunci berikutnya ada pada apakah tensi geopolitik dan ketidakpastian kebijakan global mereda atau justru meningkat. Selama sentimen risk-off bertahan dan permintaan safe haven tetap kuat, harga emas berpeluang bertahan tinggi. Namun, investor tetap dihadapkan pada risiko koreksi tajam bila terjadi perubahan mendadak pada arah suku bunga, penguatan dolar AS, atau meredanya ketegangan global.

Berita Terkait