17 February 2026, 05:54

Dunia Tunduk pada India? Bos Tech Global Berkumpul di New Delhi Demi Masa Depan AI dan Nasib Global South!

India pimpin KTT AI Impact 2026 di New Delhi, satukan pemimpin Global South dan CEO Big Tech demi demokratisasi Artificial Intelligence dan akses compute power.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
601
Dunia Tunduk pada India? Bos Tech Global Berkumpul di New Delhi Demi Masa Depan AI dan Nasib Global South!
India AI Impact Summit 2026 New Delhi: Ilustrasi pertemuan pemimpin dunia & CEO teknologi bahas masa depan Artificial Intelligence untuk Global South. (AI Generated by: Perspektif.co.id)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Peta kekuatan teknologi dunia sedang digambar ulang di Bharat Mandapam hari Senin (16/2/2026), saat India secara resmi membuka India AI Impact Summit. Acara monumental yang mempertemukan lebih dari 20 kepala negara dan jajaran eksekutif puncak dari perusahaan teknologi terbesar di dunia ini bukan sekadar seremoni diplomatik biasa, melainkan sebuah deklarasi ambisius India untuk menempatkan negara-negara berkembang atau Global South sebagai pemain inti dalam revolusi Artificial Intelligence, bukan sekadar pasar konsumen bagi raksasa teknologi Barat.

Perdana Menteri Narendra Modi membuka pertemuan tingkat tinggi ini dengan penekanan tajam pada demokratisasi akses terhadap compute power. Dalam pandangannya, kesenjangan infrastruktur digital yang terjadi saat ini berisiko menciptakan bentuk kolonialisme baru berbasis data jika tidak segera diatasi melalui kolaborasi lintas batas yang adil dan transparan. Narasi yang dibangun India dalam KTT ini sangat jelas: teknologi AI harus menjadi "barang publik" yang dapat diakses untuk memecahkan masalah krusial seperti ketahanan pangan dan layanan kesehatan di negara-negara dengan populasi padat, bukan hanya melayani kepentingan komersial segelintir elite di Silicon Valley.

“Kita berada di persimpangan sejarah di mana AI tidak boleh menjadi hak istimewa segelintir negara maju saja, melainkan harus menjadi alat pembebasan bagi miliaran orang di Global South yang selama ini tertinggal dalam rantai pasok teknologi global,” Ujar Perdana Menteri Narendra Modi dalam pidato pembukaannya yang disambut tepuk tangan meriah dari para delegasi internasional dan pemimpin industri.

Kehadiran CEO NVIDIA, Jensen Huang, bersama dengan pimpinan dari Microsoft dan Google, menandakan betapa strategisnya posisi India dalam ekosistem hardware dan software global saat ini. NVIDIA, yang kini menjadi tulang punggung infrastruktur AI dunia, dilaporkan sedang dalam pembicaraan serius untuk membangun pusat data sovereign AI berskala besar di India. Langkah ini dilihat sebagai upaya diversifikasi rantai pasok sekaligus memanfaatkan kolam talenta engineering India yang masif untuk mengembangkan model bahasa besar (LLM) yang lebih inklusif secara bahasa dan budaya, tidak hanya terpaku pada bahasa Inggris.

Fokus utama diskusi pada hari pertama ini meliputi regulasi etis yang tidak menghambat inovasi, serta komitmen investasi senilai miliaran dolar untuk membangun infrastruktur cloud computing yang terdesentralisasi. Para pemimpin teknologi menyadari bahwa tanpa melibatkan India dan Global South, potensi skalabilitas AI akan terhambat oleh batasan demografis dan data yang bias. KTT ini juga menjadi ajang pembuktian bagi India untuk menunjukkan kapabilitas tumpukan teknologi digital publik mereka, atau "India Stack", yang dapat diadopsi oleh negara berkembang lainnya sebagai fondasi ekonomi digital yang mandiri.

“India bukan hanya pasar, tetapi juga laboratorium inovasi terbesar di dunia di mana skala dan biaya rendah bertemu dengan kejeniusan teknis, dan inilah tempat terbaik untuk membangun masa depan AI yang benar-benar melayani kemanusiaan,” Ungkap Jensen Huang, CEO NVIDIA, dalam sesi panel yang membahas masa depan infrastruktur komputasi global.

Selain isu infrastruktur, pertemuan ini juga menyoroti kekhawatiran mengenai deepfakes dan keamanan siber yang semakin rentan seiring canggihnya algoritma generatif. Para delegasi sepakat untuk membentuk kerangka kerja bersama yang memungkinkan pertukaran informasi ancaman siber secara real-time antara negara maju dan berkembang. Kesepakatan ini diharapkan dapat menjadi "Protokol New Delhi" yang akan menjadi standar baru dalam tata kelola AI global, menyaingi dominasi regulasi yang selama ini didiktekan oleh Uni Eropa atau Amerika Serikat.

Berita Terkait