16 October 2025, 19:56

CLBK dengan Timnas: Luka Lama dan Ritual Nasional yang Tak Pernah Selesai

Semua kabar kemenangan, kekalahan, dan drama internal lewat begitu saja seperti berita cuaca, menarik, tapi tidak penting.

Reporter: Redaksi Perspektif
Editor: Deden M Rojani
2,862
CLBK dengan Timnas: Luka Lama dan Ritual Nasional yang Tak Pernah Selesai
Suporter Timnas memerahkah SUGBK. / Doc: istimewa

Penulis: Reza Habsyi, Founder, Ruang Nalar Merdeka (RNM)

OPINI, Perspektif.co.id -Era 2010 adalah titik terakhir saya menonton Timnas Indonesia dengan sepenuh hati. Saat itu, "El Loco" Gonzales dan kawan-kawan membuat kita sejenak percaya bahwa mimpi besar itu mungkin.

Tapi setelah kekalahan dari Malaysia di Final AFF, saya berhenti. Bukan karena benci, tapi karena lelah berharap. Dalam cinta, kadang yang paling menyakitkan bukan kehilangan, tapi terus menunggu sesuatu yang tak pasti.

Sejak saat itu, saya memilih hidup damai tanpa jadwal pertandingan, tanpa detak jantung yang berdebar tiap menit ke-90. Jika ada teman bicara soal Timnas, saya hanya tersenyum pahit.

Semua kabar kemenangan, kekalahan, dan drama internal lewat begitu saja seperti berita cuaca, menarik, tapi tidak penting. Saya pikir, hubungan saya dengan Timnas sudah berakhir secara dewasa dan beradab.

Namun, cinta lama selalu punya cara untuk mengusik. Setelah 13 tahun lamanya saya menjauh dari layar pertandingan dan hiruk-pikuk euforia nasional itu, takdir rupanya punya rencana lain.

Benar, itu terjadi di tahun 2023, ketika saya sedang menjalani short course di Iran, teman-teman sesama mahasiswa Indonesia di sana tiba-tiba ribut membicarakan Timnas yang akan berlaga di Piala Asia U-23. “Bang, Timnas kali ini beda,” kata mereka dengan keyakinan khas anak muda yang belum banyak patah hati.

Awalnya saya skeptis. Tapi karena hiburan di Iran tidak banyak selain teh panas dan diskusi filsafat di kafe, saya akhirnya ikut nobar di Kedutaan. Dan di situlah semuanya kembali dimulai.

Momen itu seperti membuka album lama yang pernah saya kubur. Timnas bermain dengan semangat baru, dan entah bagaimana, jantung saya berdetak seperti dulu. Kalau anak sekarang bilang, ini momen CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali).

Kebetulan teman sekamar saya dari Irak. Ia bilang negaranya akan melawan Indonesia. Seketika, urat nasionalisme saya tersentak hidup kembali. Kami menonton bareng, saling mengolok dengan canda, sambil mengunyah camilan khas Irak yang katanya “lebih enak dari kerupuk Indonesia.” Momen itu sederhana, tapi hangat. Saya seperti kembali merasakan sesuatu yang lama hilang.

Sejak malam itu, saya tak pernah lagi melewatkan pertandingan Timnas. Ketika pulang ke Indonesia pada 2024, rasa itu justru makin menjadi-jadi.
Saking antusiasnya, saya harus rela sering ditegur istri, karena bergadang, teriak terlalu keras sambil mengumpat kalimat tak layak saat situasi bahaya dan hampir gol, atau memilih nobar bersama teman-teman.

Sepak bola, bagi saya, bukan sekadar hiburan, ia semacam ritual nasional yang menyatukan kita dalam rasa deg-degan yang sama. Pernah suatu kali saya harus mengantar istri ke pasar saat pertandingan berlangsung. Hati saya tidak tenang.

Sampai akhirnya saya melihat dua pedagang dan seorang satpam berkerumun menonton siaran langsung lewat layar ponsel. Ternyata mereka sedang menyaksikan pertandingan Timnas. Tanpa pikir panjang, saya ikut nimbrung. Tak butuh waktu lama, kami sudah bersorak bersama, tertawa, dan berdebat layaknya sahabat lama, padahal beberapa menit sebelumnya kami tak saling kenal.

Bayangkan, di negeri yang sering terpecah karena politik, sepak bola menjadi hal terakhir yang membuat kita benar-benar merasa sebangsa. Di depan layar kecil itu, kami seperti disatukan oleh sesuatu yang lebih besar dari segala tumpukan masalah di dada, yaitu cinta pada merah putih.

Namun, seperti cinta lama yang kembali hanya untuk mengingatkan luka, dua pertandingan melawan Arab Saudi dan Irak di Round 4 membuat semua kenangan pahit itu bangkit lagi. Harapan yang semula tinggi mendadak runtuh dalam senyap. Hari-hari setelahnya terasa berat, seperti ada awan kelabu yang enggan pergi dari kepala.

Yang paling menyakitkan bukan karena kita kalah, tapi karena untuk pertama kalinya, kita merasa sedekat itu dengan mimpi besar bernama Piala Dunia. Begitu dekat, sampai-sampai kekalahan terasa lebih menusuk dari biasanya.

Apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Saya pun tak ingin menyalahkan siapa pun, meski saya punya kecenderungan tersendiri dalam menilai polemik soal taktik, PSSI, atau sosok pelatih.

Terlebih ketika melihat banyak konten kreator yang mendadak jadi “pundit bola”, menebar analisa setengah matang demi sensasi dan pansos dari isu Timnas. Bikin saya tambah eneg.

Namun, pada akhirnya, kita tetap akan menonton lagi. Kita akan marah lagi. Kita akan berharap lagi. Karena cinta pada Timnas bukan soal logika, tapi semacam ritual emosional yang diwariskan dari generasi ke generasi: sebuah penderitaan kolektif yang anehnya kita rayakan bersama.***

Berita Terkait