JAKARTA, Perspektif.co.id - OpenAI mulai menguji coba penayangan iklan di ChatGPT sebagai langkah memperluas sumber pendapatan, seiring kebutuhan biaya pengembangan kecerdasan buatan yang kian besar. Uji coba ini akan berlaku untuk sebagian pengguna di Amerika Serikat dalam beberapa pekan ke depan, terutama pada pengguna layanan gratis serta paket berbiaya rendah ChatGPT Go.
Dalam skema awal, OpenAI menegaskan iklan akan muncul terpisah dari jawaban ChatGPT dan ditempatkan di bagian bawah respons saat ada produk atau layanan bersponsor yang dinilai relevan dengan percakapan pengguna. “Kami berencana menguji iklan di bagian bawah jawaban di ChatGPT ketika ada produk atau layanan yang disponsori yang relevan berdasarkan percakapan Anda saat ini,” tulis OpenAI dalam pernyataan resminya.
OpenAI juga menyebut iklan akan diberi label jelas dan dipisahkan dari jawaban organik, serta pengguna bisa mengetahui alasan mengapa iklan tersebut muncul atau menutup iklan disertai masukan. Perusahaan menekankan prinsip kendali pengguna, termasuk opsi mematikan personalisasi dan menghapus data yang dipakai untuk periklanan.
Dari sisi segmentasi, iklan tidak akan tampil untuk pelanggan paket Plus, Pro, Business, dan Enterprise. OpenAI juga menyatakan iklan tidak ditampilkan pada akun yang pengguna sebut—atau sistem perkirakan—berusia di bawah 18 tahun, serta iklan tidak “eligible” muncul di topik sensitif atau teregulasi seperti kesehatan, kesehatan mental, dan politik.
Di sisi kepercayaan publik, OpenAI menegaskan iklan tidak akan mengubah keluaran model. Reuters melaporkan OpenAI menyatakan iklan akan terpisah dari jawaban, tidak memengaruhi respons, dan perusahaan tidak membagikan percakapan pengguna kepada pengiklan.
Perubahan ini menandai pergeseran penting. Selama ini OpenAI dikenal bertumpu pada pendapatan langganan, sementara biaya komputasi dan infrastruktur AI terus menanjak. Reuters menyebut kebijakan uji iklan ini mencerminkan tekanan bagi perusahaan untuk memperkuat pemasukan di tengah belanja besar pada pusat data dan persiapan menuju penawaran umum perdana saham (IPO). Dalam laporan yang sama, OpenAI—yang disebut masih merugi—dikabarkan memiliki rencana belanja infrastruktur AI yang bisa menembus lebih dari US$1 triliun hingga 2030, meski sumber pendanaannya belum dirinci.
Dari kacamata bisnis, potensi monetisasi iklan dinilai besar karena basis pengguna ChatGPT sangat masif. Reuters menuliskan analis memperkirakan iklan bisa membuka aliran pendapatan signifikan dari sekitar 800 juta pengguna aktif mingguan. Namun, langkah ini juga membawa risiko: bila iklan terasa mengganggu atau “dipaksakan”, sebagian pengguna bisa pindah ke pesaing. Analis eMarketer, Jeremy Goldman, menilai orang dapat dengan mudah beralih ke chatbot kompetitor seperti Google Gemini atau Claude milik Anthropic jika pengalaman iklan dinilai merusak kenyamanan.
OpenAI, di sisi lain, mencoba menempatkan iklan sebagai “jalur akses” agar layanan tetap bisa dinikmati lebih luas, terutama bagi pengguna yang ingin kemampuan lebih dibanding paket gratis tetapi belum ingin naik ke paket yang lebih mahal. OpenAI sendiri baru-baru ini memperluas ketersediaan ChatGPT Go, yang pertama kali diluncurkan di India pada 2025 sebagai paket lebih terjangkau, dan kemudian diperluas ke banyak negara. (OpenAI) Reuters menyebut paket Go akan tersedia di AS dengan harga US$8 per bulan, berada di antara paket gratis dan paket premium yang lebih tinggi.