24 January 2026, 14:33

BMKG: Bibit Siklon 91S Resmi Jadi Siklon Luana, Gelombang 4-6 Meter Reda di NTB tapi Angin Kencang Mengintai Jateng Sela

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC) Jakarta melaporkan Bibit Siklon Tropis 91S

Reporter: M. Ansori
Editor: Zainur Akbar
1,394
BMKG: Bibit Siklon 91S Resmi Jadi Siklon Luana, Gelombang 4-6 Meter Reda di NTB tapi Angin Kencang Mengintai Jateng Sela
bibit siklon tropis 91s resmi menjadi siklon luana bergerak ke dampier peninsula australia barat / Doc Istimewa

JAKARTA, Perspektif.co.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC) Jakarta melaporkan Bibit Siklon Tropis 91S yang sebelumnya terpantau di Samudera Hindia selatan Nusa Tenggara Barat (NTB) telah menguat menjadi Siklon Tropis Luana. Sistem siklonik itu kini bergerak menjauh dari wilayah selatan Indonesia menuju daratan Dampier Peninsula di Australia Barat. 

BMKG mencatat cuaca buruk sempat terjadi ketika sistem tersebut masih berada di perairan NTB. Pada fase itu, BMKG juga sempat mengeluarkan peringatan zona merah pelayaran karena gelombang sangat tinggi yang mencapai 4 hingga 6 meter. Namun seiring Luana bergerak menjauh, kondisi gelombang di wilayah perairan NTB dilaporkan mulai berangsur kondusif. 

Prakirawan Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid BMKG NTB Anggi Dewita menyebut tinggi gelombang di perairan NTB saat ini rata-rata berada pada kisaran 1,25 hingga 2,5 meter. Meski begitu, ia mengingatkan masih ada satu zona yang tetap perlu diwaspadai. “Hanya Samudera Hindia selatan NTB yang berpotensi gelombang tinggi 2,5 sampai 4 meter,” kata Anggi di Mataram, Sabtu (24/1/2026).

Anggi menjelaskan, menjauhnya sistem badai dari perairan selatan Indonesia membuat potensi dampak tidak langsung terhadap NTB kian melemah. Namun, dinamika angin dan gelombang belum sepenuhnya hilang sehingga aktivitas kelautan tetap diminta berhati-hati, terutama di perairan selatan NTB yang masih berpotensi gelombang tinggi. “Kecepatan angin maksimum di wilayah NTB mencapai 45 kilometer per jam bergerak dari barat daya hingga barat laut,” ujarnya.

Untuk wilayah perairan, BMKG memetakan kategori gelombang sedang (1,25–2,5 meter) antara lain di Selat Lombok bagian utara dan selatan, Selat Alas bagian utara dan selatan, perairan utara Sumbawa, serta Selat Sape bagian selatan. Sementara gelombang relatif lebih rendah tercatat di Selat Sape bagian utara. Adapun Samudera Hindia selatan NTB menjadi area yang masih berpotensi gelombang tinggi (2,5–4 meter).

Meski pusat siklon bergerak menjauh, BMKG juga mengingatkan dampak tidak langsung Luana terhadap cuaca di wilayah Indonesia bagian selatan, khususnya Jawa Tengah bagian selatan, termasuk Kabupaten Cilacap dan sekitarnya, pada Sabtu (24/1/2026). Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap Teguh Wardoyo mengatakan pengaruh Luana berpotensi meningkatkan kecepatan angin permukaan di selatan Pulau Jawa. “Dampak tidak langsung dari Siklon Tropis Luana berpotensi memicu angin kencang yang dapat terjadi sejak pagi hingga malam hari di wilayah Jawa Tengah bagian selatan,” kata Teguh di Cilacap.

Berdasarkan pengamatan BMKG, kecepatan maksimum angin permukaan di Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap tercatat mencapai 30 knot. Sementara di Pos Pengamatan Cuaca Bandara Tunggul Wulung, kecepatan angin terpantau hingga 32 knot. BMKG menilai angka tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dibanding kondisi normal dan dapat memicu potensi bahaya turunan di daratan. 

Teguh menjelaskan, Siklon Tropis Luana terpantau memiliki tekanan udara minimum sekitar 993 hPa dengan kecepatan angin maksimum di sekitar sistem mencapai 40 knot, yang termasuk kategori siklon tropis tingkat satu. Walaupun bergerak menjauhi Indonesia ke arah Australia, ia menegaskan pengaruh Luana masih dapat terasa pada dinamika atmosfer di wilayah selatan Indonesia. “Meskipun bergerak menjauhi Indonesia menuju Australia, sistem tersebut masih memberikan pengaruh terhadap dinamika atmosfer di wilayah Indonesia bagian selatan,” ujarnya. 

Menurut Teguh, peningkatan kecepatan angin terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara antara belahan bumi utara yang didominasi tekanan tinggi dan belahan bumi selatan yang saat ini terdapat tekanan rendah akibat siklon tropis. Kondisi itu memicu aliran angin dari utara ke selatan dengan kecepatan yang lebih tinggi, sehingga wilayah selatan Jawa perlu meningkatkan kewaspadaan. 

BMKG mengimbau masyarakat, terutama di wilayah Jawa Tengah bagian selatan, untuk mewaspadai dampak angin kencang yang berpotensi menimbulkan pohon tumbang, tiang listrik roboh, kerusakan bangunan, hingga papan reklame yang rapuh. Teguh juga meminta warga terus memantau pembaruan informasi cuaca dari BMKG agar langkah mitigasi dapat dilakukan lebih cepat bila kondisi memburuk.

Di sisi lain, BMKG sebelumnya juga menyampaikan Bibit Siklon Tropis 91S terpantau memiliki peluang tinggi berkembang menjadi siklon tropis dan bergerak perlahan ke arah tenggara. Pusat sirkulasinya sempat terpantau berada di Samudera Hindia selatan NTB, dengan karakteristik angin kencang dan pembentukan awan konvektif yang makin terkonsolidasi, sebelum akhirnya meningkat intensitasnya menjadi Siklon Tropis Luana dan bergerak menjauh dari Indonesia menuju Australia. 

1Kondisi Saat ini: Berawan, 88°F (31°C)

  • Prakiraan Harian:
  • Sabtu, Januari 24: Rendah: 78°F (26°C), Tinggi: 91°F (33°C), Deskripsi: Hujan dan badai petir sebentar-sebentar
  • Minggu, Januari 25: Rendah: 75°F (24°C), Tinggi: 90°F (32°C), Deskripsi: Badai petir di beberapa bagian area ini
  • Senin, Januari 26: Rendah: 77°F (25°C), Tinggi: 87°F (31°C), Deskripsi: Sesekali hujan dan badai petir

Berita Terkait