04 May 2026, 19:01

Alarm Buruh: Badai PHK Diprediksi Hantam 5 Sektor Industri dalam 3 Bulan, Ini Daftarnya!

Sedikitnya lima sektor industri disebut berada dalam kondisi rawan akibat tekanan ekonomi global yang terus meningkat.

Reporter: Ihsan Nurdin
Editor: Deden M Rojani
5
Alarm Buruh: Badai PHK Diprediksi Hantam 5 Sektor Industri dalam 3 Bulan, Ini Daftarnya!
KSPI memperingatkan potensi gelombang PHK dalam tiga bulan ke depan mulai mengintai sedikitnya lima sektor. Industri tekstil paling rawan pemangkasan.

JAKARTA, Perspektif.co.id - Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mengeluarkan peringatan serius terkait potensi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang diprediksi terjadi dalam tiga bulan ke depan. Sedikitnya lima sektor industri disebut berada dalam kondisi rawan akibat tekanan ekonomi global yang terus meningkat.

Presiden KSPI Said Iqbal mengungkapkan sinyal pengurangan tenaga kerja sudah mulai terasa di tingkat perusahaan. Ia menyebut sejumlah manajemen perusahaan telah membuka komunikasi dengan serikat pekerja terkait kemungkinan efisiensi.

"Realitanya, laporan dari anggota KSPI, bukan orang lain, serikat pekerja di perusahaan," kata Said dalam konferensi pers virtual, Senin (4/5/2026).

Menurutnya, tekanan terhadap industri dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari kenaikan biaya produksi, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga dampak konflik di Timur Tengah yang menyebabkan lonjakan harga energi dan bahan baku impor.

Sektor yang paling terdampak pertama adalah industri tekstil dan produk tekstil (TPT), termasuk benang, kain, hingga polyester. Industri ini dinilai sangat rentan karena bergantung pada pasar ekspor serta bahan baku yang sensitif terhadap fluktuasi global.

"Terutama di sektor industri TPT, tekstil dan produk turunannya. Benang, kain, dan polyester dan sebagainya," ujarnya.

Selain itu, industri plastik juga disebut menghadapi tekanan berat. Mayoritas bahan baku plastik masih diimpor, sehingga pelemahan rupiah membuat biaya produksi melonjak tajam. Di sisi lain, daya beli masyarakat justru mengalami penurunan.

"Kemudian industri plastik, karena harga bahan baku plastik naik tajam, sehingga industri kesulitan," kata Said.

Ia menggambarkan kondisi di lapangan, di mana kenaikan harga plastik berdampak langsung pada konsumsi masyarakat. Bahkan, pelaku usaha kecil mulai mengurangi penggunaan plastik karena harganya meningkat signifikan.

"Nah kalau harga plastik naik sampai 50 persen, daya beli masyarakatnya jadi menurun," ujarnya.

Tekanan di sektor plastik ini juga berpotensi merembet ke industri elektronik. Banyak komponen elektronik menggunakan bahan plastik, sehingga kenaikan harga bahan baku akan memengaruhi biaya produksi dan berujung pada efisiensi tenaga kerja.

"Begitu pula industri elektronik bisa kena," kata Said.

Selain elektronik, sektor otomotif juga dinilai berada dalam risiko serupa. Komponen kendaraan yang banyak menggunakan plastik, seperti bagian eksterior dan interior, membuat industri ini ikut terdampak kenaikan biaya produksi.

"Di otomotif spakbor, beberapa komponen lain juga pakai plastik," ujarnya.

Sektor kelima yang disorot adalah industri semen. Berbeda dengan sektor lain, tekanan di industri ini berasal dari kondisi kelebihan pasokan di tengah permintaan yang melemah. Persaingan yang semakin ketat akibat bertambahnya pabrik baru memperparah situasi.

"Permintaan terhadap semen berkurang. Sudah oversupply, pabrik baru masuk, otomatis terjadi efisiensi buruh," jelas Said.

Hingga saat ini, KSPI mengaku belum menerima tanggapan resmi dari pemerintah terkait potensi gelombang PHK tersebut. Selain itu, belum ada forum khusus yang mempertemukan pemerintah, pengusaha, dan serikat pekerja untuk membahas langkah mitigasi.

Peringatan ini muncul di tengah situasi global yang belum stabil, dipicu konflik geopolitik, lonjakan harga energi, serta tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Kondisi tersebut membuat banyak sektor industri, khususnya padat karya dan manufaktur, berada dalam fase bertahan.

Berita Terkait