SLEMAN, Perspektif.co.id - Aktivitas vulkanik Gunung Merapi kembali menguat dan mendapat sorotan serius dari otoritas kebencanaan. Pada periode pengamatan 1 Desember 2025, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan intensitas guguran dan luncuran lava masih tinggi dengan dominasi ke sektor barat daya. Warga yang bermukim di kawasan rawan bencana diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi erupsi.
Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso memaparkan, kondisi cuaca di sekitar puncak Merapi dalam 24 jam terakhir cenderung cerah hingga berawan. Angin terpantau bertiup ke arah timur dan barat, sementara asap kawah berwarna putih dengan intensitas sedang dan ketinggian kolom mencapai sekitar 125 meter di atas puncak gunung.
“Selama periode pemantauan, kami mencatat 20 kali guguran lava yang bergerak ke arah barat daya atau ke sektor Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum sekitar 1.700 meter,” ujar Agus dalam keterangan resmi, Selasa (2/12/2025).
Selain peningkatan visual, BPPTKG juga merekam penguatan aktivitas seismik. Dalam periode yang sama, terekam 98 kali gempa guguran serta 58 kali gempa hybrid atau fase banyak. Pola kegempaan tersebut mengindikasikan suplai magma ke permukaan masih berlangsung aktif, sehingga potensi munculnya guguran lava maupun awan panas di sektor yang sama tetap tinggi.
Agus menegaskan, status Gunung Merapi saat ini masih berada pada Level III atau siaga. Dengan tingkat aktivitas tersebut, potensi ancaman utama yang harus diwaspadai adalah guguran lava dan awan panas di sektor selatan–barat daya. Area berisiko meliputi alur Sungai Boyong dengan jangkauan hingga 5 kilometer, serta alur Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng dengan potensi bahaya maksimal hingga 7 kilometer dari puncak.
Pada sisi tenggara, ancaman juga membayangi kawasan yang dilalui aliran Sungai Woro dengan radius potensi bahaya hingga 3 kilometer, dan alur Sungai Gendol hingga 5 kilometer. Selain itu, letusan yang bersifat eksplosif berisiko melontarkan material vulkanik hingga radius 3 kilometer dari kawah puncak.
“Kami mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apa pun di wilayah yang telah ditetapkan sebagai daerah potensi bahaya,” tegas Agus. Ia juga mengingatkan warga untuk mewaspadai ancaman lahar serta awan panas guguran terutama saat terjadi hujan di kawasan hulu Merapi, karena aliran material vulkanik dapat terbawa deras oleh air.
BPPTKG memastikan pemantauan terhadap salah satu gunung api paling aktif di Indonesia ini dilakukan secara intensif dan berkelanjutan. Berbagai instrumen pemantauan, mulai dari visual, seismik, hingga deformasi, terus dioptimalkan untuk memantau perubahan dinamika sistem magma Merapi.
“Apabila terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera kami tinjau kembali dan kami sampaikan kepada publik,” kata Agus.
Masyarakat diminta hanya merujuk pada informasi resmi dari BPPTKG dan lembaga terkait lain, serta tidak mudah terpengaruh oleh kabar tidak dapat dipertanggungjawabkan yang beredar di media sosial. Pembaruan informasi yang akurat dan kredibel dinilai menjadi kunci penting untuk menjaga keselamatan warga di sekitar lereng Merapi, sekaligus mendukung langkah mitigasi risiko bencana secara tepat waktu.