TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Salesforce mengungkapkan adanya jurang pemisah yang signifikan antara antusiasme pekerja dengan kesiapan organisasi dalam mengimplementasikan teknologi kecerdasan buatan di Indonesia, berdasarkan survei terhadap 1.000 profesional lintas sektor industri yang dirilis pada Kamis, 23 April 2026. Temuan ini menjadi sinyal keras bagi korporasi Indonesia bahwa revolusi AI sudah terjadi di lapangan—bahkan sebelum kantor sempat bersiap.
Dalam studi yang melibatkan 1.002 knowledge workers di Indonesia, sebanyak 70 persen responden menyatakan penggunaan AI secara pribadi turut meningkatkan rasa percaya diri mereka saat memanfaatkan teknologi tersebut di tempat kerja. Hanya sekitar 3 persen yang mengaku tidak tertarik atau tidak berencana menggunakan teknologi tersebut sama sekali. Angka-angka ini memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu tenaga kerja paling adaptif terhadap AI di kawasan Asia Pasifik, jauh melampaui ekspektasi awal para analis industri.
Di sisi lain, 68 persen pekerja menyebut kebiasaan menggunakan AI dalam kehidupan pribadi menjadi pendorong utama adopsi di lingkungan kerja, namun dari kelompok yang antusias itu, baru sekitar 33 persen yang mengaku telah memperoleh pelatihan atau dukungan resmi dari perusahaan. Ketimpangan ini mengekspos celah struktural yang berbahaya: para pekerja melaju kencang dengan alat yang mereka temukan sendiri, sementara perusahaan masih menyusun kebijakan.
“Hanya 33% pekerja yang mengaku bahwa mereka mendapatkan pelatihan dan pengembangan keterampilan AI dari perusahaannya,” ujar Andreas Diantoro, President Director Salesforce Indonesia, dalam media briefing usai membuka acara Agentforce World Tour Jakarta 2026 yang digelar di Ballroom Pacific Place, Ritz Carlton Jakarta.
Kondisi ini menciptakan ruang bagi praktik penggunaan AI di luar sistem yang disediakan organisasi, fenomena yang dikenal sebagai shadow AI, yakni penggunaan alat AI pihak ketiga tanpa pengawasan perusahaan, yang muncul ketika kebutuhan pekerja untuk meningkatkan produktivitas tidak diimbangi ketersediaan perangkat AI yang terintegrasi di lingkungan kerja. Salesforce memperingatkan bahwa praktik ini berpotensi memicu kebocoran data sensitif yang tidak terkontrol.
“Membuat prompt atau pertanyaan ke ChatGPT adalah perkara mudah bagi para pekerja itu. Tapi, adopsi di lingkungan perusahaan butuh jauh lebih banyak daripada itu,” jelas Andreas Diantoro, President Director Salesforce Indonesia.
Dalam praktiknya, AI telah dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan kerja, mulai dari membantu proses brainstorming, pencarian informasi, hingga penulisan dan komunikasi, dengan 80 persen pekerja di Indonesia mengaku telah berinteraksi dengan atau menggunakan agen AI dalam pekerjaan mereka. Angka adopsi aktual ini jauh lebih tinggi dibanding dukungan institusional yang tersedia, mempertegas bahwa pekerja Indonesia tidak menunggu izin untuk berinovasi.
Kehadiran kecerdasan buatan justru dipandang sebagai peluang untuk meningkatkan nilai tambah pekerjaan manusia melalui kreativitas, di mana teknologi ini diyakini akan membebaskan pekerja dari tugas rutin yang repetitif. Namun tanpa kerangka kebijakan yang jelas dari perusahaan, optimisme itu berisiko berubah menjadi kekacauan operasional.
“Agentik AI menghadirkan peluang untuk meningkatkan mutu pekerja dan pekerjaan yang dilakukan oleh manusia dengan lebih menekankan pada inovasi, kreativitas, dan pekerjaan yang sungguh-sungguh bermakna,” jelas Andreas Diantoro, President Director Salesforce Indonesia.
Untuk mengatasi kesenjangan ini, Salesforce memperkenalkan konsep empat pilar utama dalam membangun kefasihan AI bagi pekerja, meliputi perancangan ulang proses kerja, peningkatan keterampilan, penugasan ulang pada pekerjaan bernilai tinggi, serta penyeimbangan peran antara manusia dan teknologi. Keempat pilar tersebut dirancang agar adopsi AI tidak hanya berhenti pada eksperimen individual, tetapi mampu menghasilkan dampak bisnis yang terukur dan berkelanjutan di seluruh lini organisasi.
“AI fluency adalah kemampuan untuk berkolaborasi secara percaya diri dengan AI dan mendorong dampak bisnis secara cepat pada skala yang jauh lebih besar,” jelas Andreas Diantoro, President Director Salesforce Indonesia.
Temuan Salesforce ini sejalan dengan hasil PwC Global Workforce Hopes and Fears Survey 2025 yang melibatkan hampir 50.000 pekerja di 48 negara, termasuk 812 responden dari Indonesia, yang menunjukkan bahwa pengguna GenAI harian di Indonesia mencatat angka tertinggi secara global: 96 persen merasakan peningkatan produktivitas, 82 persen merasa lebih aman dengan pekerjaan mereka, dan 72 persen melaporkan kenaikan gaji. Data dari dua lembaga riset global ini secara bersamaan mempertegas satu narasi: pekerja Indonesia sudah membuktikan nilai AI, kini giliran perusahaan yang harus menyusul.
“Perusahaan harus memandang AI sebagai bagian dari transformasi sumber daya manusia, bukan sekadar investasi teknologi,” ujar Andreas Diantoro, President Director Salesforce Indonesia.