Bandung, Perspektif.co.id - Peristiwa tragis menimpa seorang pelajar kelas XI SMAN 5 Bandung, Fahdly Arjasubrata (17), yang ditemukan meninggal dunia di kawasan Jalan Cihampelas, Kota Bandung. Remaja tersebut diduga menjadi korban bentrokan antarpelajar yang terjadi setelah kegiatan buka puasa bersama (bukber).
Kabar meninggalnya Fahdly mengejutkan publik setelah sejumlah rekaman video amatir dari lokasi kejadian beredar luas di media sosial, khususnya Instagram. Dalam video tersebut terlihat sejumlah pemuda berkumpul di sekitar sebuah sepeda motor yang terjatuh di jalan, tidak jauh dari posisi tubuh korban yang tergeletak tak berdaya.
Peristiwa itu terjadi ketika korban bersama rombongan pelajar lain baru saja pulang dari acara buka puasa bersama. Berdasarkan keterangan warga di sekitar lokasi, rombongan pelajar tersebut datang dalam jumlah besar dengan menggunakan puluhan sepeda motor dari arah Ciumbuleuit menuju kawasan pusat kota.
Fahdly diduga berada di bagian belakang rombongan kendaraan tersebut. Namun ketika tiba di kawasan Jalan Cihampelas, situasi tiba-tiba berubah tegang setelah bentrokan pecah di antara dua kelompok pelajar. Insiden tersebut diduga melibatkan pelajar dari SMAN 5 Bandung dengan pelajar dari SMAN 2 Bandung. Hingga kini kronologi detail serta motif yang memicu bentrokan masih dalam penelusuran pihak berwenang.
Jenazah Fahdly kemudian ditemukan tergeletak di lokasi kejadian, memicu kehebohan warga sekitar serta warganet setelah rekaman peristiwa tersebut viral di media sosial. Di tengah duka yang mendalam, keluarga korban mengaku telah mengikhlaskan kepergian Fahdly. Namun di balik tragedi tersebut, keluarga menyampaikan harapan besar agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi dan merenggut nyawa generasi muda lainnya.
Ayah korban, Firdan Ardjasubrata, menyatakan bahwa seluruh pihak telah bersikap terbuka dalam menangani kasus ini, termasuk aparat kepolisian yang tengah melakukan penyelidikan.
“Semua pihak sudah terbuka, termasuk kepolisian. Justru sekarang kita harus bersama-sama supaya kejadian seperti ini tidak terulang lagi,” ujar Firdan.
Pernyataan tersebut mencerminkan harapan keluarga agar tragedi yang menimpa putranya menjadi pelajaran bersama bagi masyarakat, sekolah, dan para pelajar untuk mencegah konflik serupa di masa depan. Kasus ini juga kembali menyoroti fenomena bentrokan antarpelajar yang kerap terjadi di sejumlah kota besar. Aparat kepolisian bersama pihak sekolah diharapkan dapat memperkuat pengawasan serta pembinaan terhadap para siswa agar aktivitas kebersamaan seperti buka puasa tidak berujung pada kekerasan.