22 February 2026, 14:27

Puasa Bikin Wajah Kusam dan Jerawatan? Dokter Ungkap “Resep” Kulit Tetap Glowing sampai Lebaran

Bulan Ramadan bukan hanya mengubah jadwal makan dan minum, tetapi juga mengguncang rutinitas tidur dan pola konsumsi harian.

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
1,101
Puasa Bikin Wajah Kusam dan Jerawatan? Dokter Ungkap “Resep” Kulit Tetap Glowing sampai Lebaran
Ilustrasi. Saat puasa, kulit juga bisa mengalami dehidrasi, lakukan perawatan yang sesuai dengan masalahnya. (Getty Images/iStockphoto/Lordn)

Perspektif.co.id - Bulan Ramadan bukan hanya mengubah jadwal makan dan minum, tetapi juga mengguncang rutinitas tidur dan pola konsumsi harian. Perubahan itu, bagi sebagian orang, terasa dampaknya di wajah: kulit mendadak lebih kering, tampak kusam, hingga jerawat dan komedo muncul menjelang Lebaran.

Founder DERMAVers Klinik, dokter Lusiyanti, menyebut akar masalah yang paling sering terjadi selama puasa adalah berkurangnya asupan cairan. Kondisi ini membuat kulit mudah kehilangan kelembapan, sementara aktivitas harian tetap berjalan seperti biasa. “Kalau bulan Ramadhan kan sudah pasti akan kekurangan cairan, kulitnya juga akan mengalami dehidrasi. Jadi sudah pasti kita mesti ekstra kasih pelembap, kemudian krim malamnya juga nggak boleh lewat,” ujar Lusiyanti dalam keterangannya.

Ia menjelaskan, kulit yang kekurangan cairan bukan hanya terasa “ketarik” dan terlihat kurang segar, tetapi juga bisa memengaruhi ritme pembaruan sel. Menurutnya, dehidrasi dapat memperlambat proses regenerasi kulit sehingga penumpukan sel kulit mati berlangsung lebih lama. “Kalau kulit dehidrasi, turnover-nya lebih lambat daripada yang terhidrasi dengan baik,” katanya. Dampaknya, sel kulit mati menumpuk lebih lama di permukaan dan membuat wajah tampak kusam, tidak “nyala”, serta riasan menjadi lebih mudah patchy atau retak.

Masalah lain yang juga kerap “meramaikan” Ramadan adalah jerawat dan komedo. Namun, Lusiyanti menilai pemicunya tidak selalu berkaitan dengan hormon semata, melainkan kebiasaan saat berbuka puasa. Ia menyoroti pola konsumsi yang cenderung langsung menyantap makanan manis-manis setelah seharian menahan lapar. “Biasanya salah satunya juga jerawat. Karena kalau lagi buka puasa kan suka makan yang manis-manis. Itu menaikkan gula darah dan langsung melonjak. Itu tidak bagus untuk hormon pembentuk jerawat atau komedo,” jelasnya.

Lonjakan gula darah, lanjut dia, dapat memicu peningkatan hormon tertentu yang berperan dalam produksi minyak berlebih di kulit. Bila pola makan itu dibarengi dengan gorengan dan makanan tinggi lemak, risiko pori-pori tersumbat dinilai semakin besar. Kondisi tersebut kemudian membuka jalan bagi komedo dan jerawat, terutama pada kulit yang memang sudah sensitif terhadap perubahan pola makan.

Karena itu, ia menyarankan urutan berbuka sebaiknya tidak diawali dari makanan manis. Menurutnya, langkah sederhana ini bisa membantu tubuh beradaptasi lebih baik sekaligus mengurangi “kejutan” pada gula darah. “Jangan start dari yang manis dulu. Mesti yang berserat dulu, kemudian protein, baru nanti yang manis. Jangan dibalik,” tegasnya.

Di sisi perawatan, Lusiyanti menyebut fokus utama saat Ramadan semestinya kembali ke hidrasi. Untuk kondisi kulit yang sudah telanjur kering, ia menyarankan opsi perawatan yang menargetkan kelembapan dari dalam. “Untuk kulit kering biasanya kita anjurkan skin booster, karena hyaluronic acid sudah pasti lebih menarik air,” ujarnya. Sejumlah literatur kesehatan juga menyebut skin booster umumnya berupa injeksi zat seperti hyaluronic acid untuk membantu meningkatkan hidrasi dan kualitas kulit. 

Namun ia mengingatkan, kulit kering justru bukan kondisi yang ideal untuk tindakan berbasis panas. Ia mencontohkan Oligio X—yang dikenal sebagai perawatan pengencangan kulit dengan teknologi radiofrequency—lebih baik ditunda ketika kulit sedang dehidrasi. “Kalau kulitnya sedang kering, jangan dulu. Jadi ke skin booster saja dulu,” katanya. Beberapa informasi klinik menyebut Oligio X bekerja dengan pemanasan terkontrol untuk membantu mengencangkan kulit dan merangsang kolagen. 

Ia juga menuturkan, skin booster tersedia dalam berbagai jenis dan kerap dipilih sesuai kebutuhan. Ada yang berupa kombinasi “koktail”, ada pula yang dikenal luas di klinik-klinik estetika seperti Profhilo, Plinest, Rejuran, NCTF, hingga yang sering disebut berbasis DNA salmon. Tujuannya sama: memperbaiki kualitas kulit dari dalam dengan meningkatkan kelembapan, elastisitas, dan tampilan kulit yang lebih sehat. Beberapa sumber menyebut Rejuran berkaitan dengan polynucleotide yang kerap diasosiasikan berasal dari DNA ikan salmon. 

Soal waktu pemulihan, Lusiyanti menyebut downtime skin booster relatif singkat karena tindakan dilakukan dengan alat khusus menggunakan jarum berukuran sangat kecil. “Habis disuntik paling bekasnya dua jam sudah hilang. Tapi hasilnya biasanya terlihat optimal sekitar dua minggu,” jelasnya. Dengan jeda hasil yang memerlukan waktu, ia menyarankan mereka yang ingin terlihat lebih “glowing” saat Lebaran mempertimbangkan perawatan setidaknya dua minggu sebelum hari H, agar hasilnya sudah muncul ketika momen berkumpul keluarga tiba.

Lusiyanti juga menyinggung persepsi yang masih sering keliru di masyarakat: glowing kerap disamakan dengan kulit yang putih atau sangat cerah. Padahal, menurutnya, “glowing” yang sehat berangkat dari kulit yang terhidrasi, terawat, dan kondisinya stabil. Dengan kata lain, kuncinya bukan sekadar tone warna, melainkan kesehatan kulit secara keseluruhan.

Untuk kebutuhan yang berbeda, ia menyebut ada perawatan lain yang lebih menargetkan pigmentasi dan anti-aging ketimbang hidrasi, misalnya Pico Majesty. Perawatan laser pico pada umumnya dikenal menargetkan masalah pigmentasi dan peremajaan kulit, sehingga kulit tampak lebih bersih dan cerah, namun bukan pengganti langkah hidrasi ketika kulit sedang dehidrasi. (Clique Clinic) “Glowing iya, karena dengan cerah bebas noda pasti lebih keluar auranya,” ujarnya.

Berita Terkait