27 February 2026, 18:07

Macet Mengular Proyek Flyover Latumenten, Pramono Turun Tangan: Akses Ditutup Diminta Dibuka Lagi

Kemacetan panjang yang muncul selama proyek pembangunan flyover (jalan layang) Latumenten di kawasan Grogol, Jakarta Barat

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
521
Macet Mengular Proyek Flyover Latumenten, Pramono Turun Tangan: Akses Ditutup Diminta Dibuka Lagi
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. (CNN Indonesia/Kayla Nabima Azzahra)

JAKARTA, Perspektif.co.id - Kemacetan panjang yang muncul selama proyek pembangunan flyover (jalan layang) Latumenten di kawasan Grogol, Jakarta Barat, memantik keluhan warga dan mendapat sorotan DPRD DKI Jakarta. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan Pemprov DKI menyiapkan langkah cepat untuk meredam kepadatan lalu lintas, agar pekerjaan infrastruktur tetap berjalan tanpa membuat pengguna jalan terjebak di titik penyempitan.

Pramono mengakui, aktivitas konstruksi saat ini memberi dampak langsung pada kelancaran arus kendaraan di koridor Latumenten yang menjadi akses penting mobilitas harian. Karena itu, ia meminta jajaran teknis segera menerapkan rekayasa lalu lintas, termasuk membuka kembali akses yang sempat ditutup serta memperlebar jalur alternatif di sekitar lokasi proyek.

“Yang flyover Latumenten memang kami juga menyadari tempat itu untuk mengurangi kemacetan di sana,” ujar Pramono, di Kantor Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Jakarta Selatan, Kamis (26/2).

Menurut Pramono, pengurangan ruang jalan selama pekerjaan berlangsung harus diimbangi penataan akses yang lebih fleksibel. Ia menegaskan sudah menginstruksikan Bina Marga untuk menyiapkan skema pelebaran akses, sehingga ruas yang ditutup dapat dibuka kembali dan beban kendaraan tidak menumpuk pada satu lajur.

“Sekarang saya sudah minta kepada Bina Marga untuk memperluas akses supaya jalan yang ditutup itu bisa dibuka,” sambungnya.

Pramono berharap langkah taktis itu bisa segera terasa dampaknya oleh masyarakat. Ia ingin pelaksanaan proyek tetap sejalan dengan kenyamanan publik, termasuk bagi pengendara yang melintas pada jam sibuk. Baginya, tujuan pembangunan untuk mengurangi titik macet tidak boleh berubah menjadi sumber kemacetan baru selama proses konstruksi berlangsung.

“Jadi intinya mudah-mudahan dalam waktu dekat untuk Latumenten ini pembangunannya tidak membuat kemacetan yang semakin parah,” ujar Pramono.

Sorotan terhadap kemacetan proyek flyover Latumenten sebelumnya datang dari Anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi PDI Perjuangan, Hardiyanto Kenneth. Ia turun meninjau langsung kondisi lapangan setelah menerima banyak aduan warga soal antrean kendaraan yang mengular.

“Banyak warga komplain ke saya. Proses pembangunan ini bikin macet luar biasa karena ada penyempitan jalan,” kata Kent dalam keterangannya, Rabu (25/2).

Dari hasil peninjauan, Kenneth menyebut ruas Jalan Latumenten yang sebelumnya memiliki tiga lajur kini menyempit dan hanya menyisakan satu lajur aktif. Kondisi itu membuat arus kendaraan mudah tersendat, terutama pada puncak mobilitas pagi dan sore, saat kendaraan pribadi, angkutan umum, hingga kendaraan logistik bertemu pada jalur yang sama.

Kenneth juga menyoroti titik berhenti angkot JakLingko yang berada tepat setelah perlintasan kereta api. Ia menilai posisi berhenti tersebut membuat kendaraan di belakang cepat menumpuk karena terjadi efek “bottle neck” setelah pintu perlintasan dibuka-tutup.

“Angkot berhenti persis setelah perlintasan kereta. Ini memperparah kemacetan. Harusnya titik berhenti digeser sedikit ke depan setelah posisi bottle neck, supaya arus kendaraan tetap bergerak,” ujarnya.

Selain itu, ia menilai masalah kemacetan semakin rumit karena truk kontainer dan bus berukuran besar masih melintasi ruas yang kini tinggal satu lajur. Kenneth mendorong Dinas Perhubungan DKI Jakarta menyiapkan pengalihan kendaraan besar ke jalur alternatif selama proyek berlangsung, agar beban lalu lintas di Latumenten berkurang dan risiko kemacetan total bisa ditekan.

“Truk kontainer dan bus besar masih lewat sini. Dengan kondisi tinggal satu lajur, ini jelas tidak ideal. Saya minta Dinas Perhubungan DKI Jakarta segera cari solusi konkret,” ujarnya.

Kenneth menyatakan pihaknya mendukung pembangunan proyek strategis sebagai solusi jangka panjang. Namun, ia mengingatkan bahwa pengaturan selama konstruksi harus lebih tegas dan konsisten di lapangan, supaya keselamatan dan kenyamanan warga tidak menjadi korban setiap hari.

“Jangan sampai prosesnya justru menyengsarakan masyarakat setiap hari. Harus ada pengaturan lalu lintas yang lebih tegas, pengawasan di lapangan yang konsisten, dan solusi cepat untuk kendaraan besar maupun titik berhenti angkot,” kata dia.

Berita Terkait