Perspektif.co.id - Kasus dugaan perundungan terhadap mahasiswa bernama Timothy kembali memicu gelombang reaksi publik setelah tangkapan layar percakapan grup kampus viral di media sosial. Dalam percakapan tersebut, muncul dugaan bahwa pelaku merupakan anggota aktif salah satu organisasi kemahasiswaan di kampus tempat korban menempuh pendidikan.
Bukti tangkapan layar yang tersebar luas itu memperlihatkan percakapan bernada merendahkan dan intimidatif terhadap korban. Unggahan tersebut sontak memicu kemarahan mahasiswa lain, yang menilai kasus ini mencerminkan budaya senioritas dan kekerasan verbal yang masih mengakar dalam lingkungan organisasi kampus.
Sejumlah mahasiswa menyerukan agar pihak kampus tidak berdiam diri. Mereka menuntut adanya tindakan tegas dan transparan terhadap pelaku yang diduga berasal dari organisasi kemahasiswaan yang cukup berpengaruh di tingkat fakultas. “Kami tidak ingin kasus seperti ini berakhir dengan permintaan maaf tanpa sanksi yang jelas,” ujar salah satu perwakilan mahasiswa saat dihubungi, Jumat (17/10).
Hingga berita ini ditulis, pihak kampus belum memberikan keterangan resmi terkait perkembangan penyelidikan. Namun, sumber internal menyebut tim etik dan dewan disiplin mahasiswa telah diminta untuk mengumpulkan keterangan dari berbagai pihak, termasuk korban, saksi, dan pengurus organisasi yang bersangkutan.
Kampus juga dikabarkan tengah menelusuri rekam jejak digital pelaku untuk memastikan konteks percakapan yang kini ramai dibicarakan publik. “Investigasi masih berlangsung. Kami berkomitmen menegakkan aturan dan menjaga lingkungan akademik yang aman bagi semua mahasiswa,” kata pejabat humas kampus saat dikonfirmasi.
Kasus ini sekaligus membuka kembali perdebatan soal budaya senioritas dan toxic environment dalam organisasi mahasiswa. Sejumlah pengamat pendidikan menilai, banyak organisasi kampus masih mengedepankan hierarki dan pola relasi kuasa yang berpotensi menormalisasi perundungan.
“Budaya senioritas yang tidak terkontrol bisa berubah menjadi kekerasan simbolik. Kampus harus punya mekanisme kontrol internal yang tegas agar hal ini tidak berulang,” ujar seorang dosen sosiologi pendidikan dari universitas negeri di Bandung.***