10 March 2026, 18:56

Biaya AI Startup Chamath Palihapitiya Melonjak 3 Kali Lipat, Bisa Tembus Rp163 Miliar per Tahun

Biaya AI startup 8090 Chamath Palihapitiya melonjak 3x lipat, nyaris Rp163 miliar/tahun. Cursor disebut biang boros token terbesar.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
223
Biaya AI Startup Chamath Palihapitiya Melonjak 3 Kali Lipat, Bisa Tembus Rp163 Miliar per Tahun
Biaya kecerdasan buatan di startup 8090 milik Chamath Palihapitiya dilaporkan melonjak lebih dari tiga kali lipat sejak November 2025, dengan proyeksi tembus US$10 juta per tahun. (AI Generated by: Perspektif.co.id)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Venture capitalist kondang Chamath Palihapitiya mengungkapkan bahwa pengeluaran kecerdasan buatan di startup perangkat lunaknya, 8090, telah meledak lebih dari tiga kali lipat hanya dalam beberapa bulan terakhir — dan bisa menyentuh angka US$10 juta atau sekitar Rp163 miliar per tahun jika tidak segera dikendalikan. Pengakuan mengejutkan ini ia sampaikan secara terbuka dalam episode terbaru All-In Podcast yang dirilis Jumat lalu, sekaligus memantik perdebatan luas di komunitas teknologi global soal keberlanjutan finansial era AI.

“Biaya kami telah lebih dari tiga kali lipat sejak November 2025,” ungkap Palihapitiya. “Antara biaya inferensi yang kami bayar ke AWS yang sangat besar, biaya kami dengan Cursor, dan Anthropic — kami hanya menghabiskan jutaan dolar.”

8090, yang diluncurkan Palihapitiya pada Januari 2024 dengan ambisi membangun ulang seluruh perangkat lunak enterprise lawas di dunia menggunakan otomatisasi AI, kini justru digerogoti oleh infrastruktur yang seharusnya menjadi keunggulannya. Model konsumsi yang berjalan saat ini sepenuhnya masih bergantung pada subsidi modal ventura, dan laju kenaikan biaya yang tidak sebanding dengan pertumbuhan pendapatan menjadi persoalan paling kritis yang dihadapi perusahaan.

“Masalahnya adalah biaya saya naik 3X setiap tiga bulan,” tegasnya, menekankan bahwa pertumbuhan pendapatan sama sekali tidak bergerak secepat pengeluaran.

Salah satu biang kerok terbesar pemborosan ini adalah Cursor, asisten coding berbasis AI yang populer di kalangan developer. Palihapitiya menyebut fenomena ini sebagai “Ralph Wiggum loops” — sebuah pola penggunaan destruktif di mana para developer berulang kali memasukkan prompt yang sama ke dalam model AI dengan harapan mendapat jawaban berbeda. Hasilnya nol, sementara tagihan token membengkak tanpa kendali.

“Ia tidak pernah menemukan solusi apa pun. Dan kamu hanya mendapat tagihan raksasa dari Cursor,” kata Palihapitiya blak-blakan kepada para co-host podcastnya.

Sebagai respons, Palihapitiya memutuskan untuk meninggalkan Cursor dan beralih ke Claude Code milik Anthropic. Ia menuliskan langsung di X: “Kita perlu migrasi dari Cursor. Terlalu mahal dibanding Claude Code. Yang terakhir setara kemampuannya, dan jika kamu menggunakan paket Pro, kamu menghapus tagihan token Cursor yang besar.”

Namun persoalannya tidak berhenti di sana. Palihapitiya juga menyerukan fleksibilitas lebih besar dalam berpindah antar model AI tanpa risiko sistem kolaps. Ia secara eksplisit menyebut konflik terbaru antara Anthropic dan Pentagon sebagai bukti nyata mengapa ketergantungan penuh pada satu penyedia AI adalah ancaman strategis. “Kita perlu mendapatkan lebih banyak fleksibilitas untuk bertukar antar model tanpa semuanya rusak,” tulisnya di X.

Peringatan Palihapitiya ini bukan fenomena terisolasi. Kreator OpenCode, Dax Raad, juga baru-baru ini menyoroti hal serupa di X: “CFO kamu akan bilang, maksudmu apa setiap engineer sekarang menghabiskan biaya ekstra $2.000 per bulan untuk tagihan LLM.” Ini menandakan bahwa krisis biaya AI kini mulai menjadi mimpi buruk nyata di level manajemen keuangan perusahaan teknologi secara luas.

Berita Terkait