08 March 2026, 03:30

AI Bunuh Lisensi Open Source? Claude Code Tulis Ulang Chardet, Pencipta Aslinya Murka dan Ancam Gugat

Claude Code tulis ulang chardet dari LGPL ke MIT hanya dalam 5 hari, pencipta Mark Pilgrim murka dan sebut pelanggaran. Nasib 130 juta unduhan bulanan terancam.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
224
AI Bunuh Lisensi Open Source? Claude Code Tulis Ulang Chardet, Pencipta Aslinya Murka dan Ancam Gugat
Ilustrasi menggambarkan antarmuka aplikasi Claude Code dari Anthropic di layar smartphone, menampilkan maskot pixel art dan kolom input “Code anything” berlatar krem minimalis. (AI Generated by: Perspektif.co.id)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Sebuah keputusan yang tampak sepele di dunia pemrograman Python telah memicu sengketa hukum paling panas di ekosistem open source sepanjang 2026 ini. Pada 3 Maret 2026, Dan Blanchard — pemelihara utama pustaka deteksi karakter chardet sejak 2012 — merilis versi 7.0.0 yang diklaim sebagai penulisan ulang total menggunakan Claude Code milik Anthropic, sekaligus mengganti lisensi proyek dari LGPL menjadi MIT. Langkah itu ia lakukan hanya dalam waktu sekitar lima hari berkat bantuan AI — dan kini menempatkan nasib lebih dari 130 juta unduhan bulanan dalam ketidakpastian hukum.

Masalahnya meledak sehari kemudian ketika seseorang yang mengidentifikasi diri sebagai Mark Pilgrim — penulis asli chardet yang tiba-tiba menghilang dari internet sejak 2011 — muncul kembali dan membuka isu #327 di GitHub berjudul “No right to relicense this project.” Pilgrim menciptakan chardet pada 2006 sebagai port manual dari C ke Python untuk pustaka deteksi karakter Mozilla yang berlisensi MPL, lalu melepasnya ke publik di bawah LGPL.

“Mereka tidak memiliki hak tersebut; melakukannya adalah pelanggaran eksplisit terhadap LGPL,” tulis Pilgrim dalam isunya, yang mendapat lebih dari 570 tanda setuju dari komunitas.

Pilgrim menegaskan bahwa klaim Blanchard soal “penulisan ulang bersih” (clean room implementation) tidak sah, karena selama lebih dari satu dekade sang pemelihara telah terpapar mendalam dengan basis kode asli yang berlisensi LGPL. Argumen itu berbenturan dengan hasil alat deteksi plagiarisme yang menunjukkan kemiripan maksimal hanya 1,29 persen antara versi baru dengan versi-versi sebelumnya. Namun bagi Pilgrim, angka itu tidak relevan — keterpaparan (prior exposure) terhadap kode sumber dianggap sudah cukup untuk membatalkan klaim clean room.

Blanchard sendiri tidak menyembunyikan motivasinya. Dalam sebuah email yang dikutip The Register, ia menjelaskan bahwa tiga hambatan utama yang selama bertahun-tahun menghalangi pengembangannya adalah lisensi, kecepatan, dan akurasi deteksi.

“Hal utama yang mencegah saya mencapai tujuan-tujuan itu sebelumnya adalah waktu. Claude memberi saya kemampuan untuk menyelesaikan apa yang saya inginkan dalam sekitar lima hari,” ujar Blanchard.

Hasilnya memang mengesankan secara teknis: chardet 7.0.0 diklaim 48 kali lebih cepat dari versi sebelumnya, dengan API publik yang tetap identik sehingga dapat menjadi pengganti langsung (drop-in replacement) bagi 955.000 repositori dependen. Blanchard juga menyebut performa baru ini membuka jalan bagi chardet untuk masuk ke pustaka standar Python — selama komunitas Python tidak memberlakukan larangan penggunaan alat AI.

Kerumitan kasusnya terletak pada pertanyaan yang belum pernah dijawab hukum manapun secara definitif: apakah model AI yang kemungkinan besar sudah dilatih menggunakan kode sumber chardet dapat menghasilkan implementasi yang secara hukum sah dianggap “karya baru”? Simon Willison, pengembang dan penulis teknologi terkemuka, menganalisis kasus ini secara mendalam di blognya dan mengakui bahwa argumen dari kedua belah pihak sama-sama kredibel.

Pakar open source veteran Bruce Perens memilih nada yang jauh lebih keras. Dalam kolom di The Register, ia memperingatkan bahwa metode penulisan ulang berbasis AI semacam ini berpotensi secara sistematis “membunuh” lisensi copyleft, karena memberi jalan bagi perusahaan komersial untuk mendaur ulang perangkat lunak berlisensi ketat menjadi produk yang bebas dipatenkan dan dikomersialkan.

Yang membuat kasus ini makin pelik, Anthropic kini secara resmi tercatat sebagai kontributor proyek chardet di repositorinya — sebuah preseden yang belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah open source. Ditambah lagi fakta bahwa Blanchard menggunakan nama paket PyPI yang sama dengan versi LGPL lama, alih-alih merilis ulang di bawah nama baru, yang menurut sejumlah analis hukum semakin memperlemah posisinya.

Komunitas pengembang global kini terpecah. Di Reddit, Hacker News, dan X, perdebatan berlangsung sengit: sebagian besar berpendapat bahwa jika Claude dilatih menggunakan chardet asli, maka outputnya secara moral — bahkan mungkin secara hukum — tetap merupakan karya turunan yang terikat LGPL. Sementara pihak lain berargumen bahwa proses clean room tetap sah selama kode baru tidak menyalin secara harfiah.

Kasus chardet ini kini dipandang sebagai uji coba pertama yang serius — dan mungkin yang paling penting — atas pertanyaan yang akan terus membayangi era AI: dapatkah mesin yang telah “membaca” seluruh internet menghasilkan karya yang benar-benar bebas dari warisan hukum kode yang pernah melatihnya?

Berita Terkait