TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Platform distribusi aplikasi terbesar Apple, App Store, mencatat rekor historis yang belum pernah terjadi dalam satu dekade terakhir, yakni sebanyak 235.800 aplikasi baru berhasil masuk ke platform tersebut hanya dalam rentang tiga bulan pertama tahun 2026. Angka yang dihimpun firma riset pasar Sensor Tower dan dilaporkan oleh The Information pada awal April 2026 ini merepresentasikan lonjakan 84 persen secara year-over-year dibanding kuartal yang sama di tahun sebelumnya.
Fenomena ini merupakan pembalikan dramatis dari tren penurunan berkelanjutan yang melanda App Store selama hampir satu dekade, di mana jumlah aplikasi baru sempat merosot hingga 48 persen antara tahun 2016 dan 2024. Momentum kebangkitan ini sebenarnya sudah mulai terlihat sejak 2025, ketika total aplikasi baru sepanjang tahun melonjak 30 persen dibanding 2024 hingga mendekati angka 600.000 entri. Kini memasuki 2026, akselerasi itu semakin tak terbendung dan mencatatkan tingkat pertumbuhan kuartalan tertinggi sejak App Store pertama kali diluncurkan pada 2008.
Kebangkitan masif ini tidak lepas dari kemunculan dan penyebaran luas gelombang “vibe coding,” sebuah metode pengembangan perangkat lunak berbasis kecerdasan buatan yang memungkinkan siapa saja membuat aplikasi hanya dengan mendeskripsikan kebutuhan mereka dalam bahasa sehari-hari. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh mantan direktur AI Tesla, Andrej Karpathy, pada Februari 2025, dan sejak saat itu menjadi katalis perubahan fundamental dalam cara manusia menciptakan perangkat lunak.
Platform seperti Claude Code milik Anthropic dan Codex dari OpenAI menjadi yang paling banyak disebut sebagai motor utama di balik gelombang pengajuan aplikasi baru tersebut, karena keduanya memungkinkan individu tanpa latar belakang pemrograman untuk memproduksi aplikasi fungsional hanya dari rangkaian instruksi teks. Bagi pengembang yang sudah berpengalaman, alat-alat ini menjadi akselerator produktivitas yang mampu melipatgandakan volume kode yang dapat mereka hasilkan dalam waktu yang sama. Sensor Tower mencatat bahwa pertumbuhan ini sangat sejalan dengan adopsi masif alat-alat pemrograman berbasis agen AI, termasuk juga Xcode versi 26.3 yang Apple sendiri perbarui dengan fitur agentic coding.
“Kami menyaksikan pertumbuhan eksplosif aplikasi-aplikasi baru sepanjang tahun lalu,” kata Abraham Yousef, analis senior di Sensor Tower, yang menegaskan bahwa lonjakan tersebut sangat berkorelasi dengan meluasnya adopsi alat pemrograman cerdas berbasis AI di seluruh dunia.
Di balik tren ini berdiri sejumlah platform yang telah mengubah bahasa alami menjadi perangkat lunak siap pakai, di antaranya Cursor besutan Anysphere yang kini digunakan oleh tujuh juta pengembang di seluruh dunia dan membukukan pendapatan tahunan terhitung lebih dari Rp 32,7 triliun (sekitar 2 miliar dolar AS) per Maret 2026. Valuasi Cursor bahkan menembus angka Rp 480 triliun (sekitar 29,3 miliar dolar AS) setelah mendapatkan suntikan dana senilai Rp 37,7 triliun (2,3 miliar dolar AS) dalam putaran pendanaan yang dipimpin Accel dan Coatue pada November 2025.
Sementara itu, platform Lovable yang menyasar kalangan non-teknisi berhasil meraih pendapatan tahunan Rp 3,27 triliun (200 juta dolar AS) pada akhir 2025—melonjak lima puluh kali lipat hanya dalam satu tahun—sebelum mengamankan pendanaan Seri B senilai Rp 5,4 triliun (330 juta dolar AS). Besarnya modal yang mengalir ke ekosistem infrastruktur AI ini, menurut The Next Web, membuat laju aplikasi baru berbasis vibe coding tidak akan melandai dalam waktu dekat. Apple sendiri mengakui lonjakan volume pengajuan tersebut dan menyebutnya sebagai bukti relevansi App Store yang terus bertahan di tengah evolusi ekosistem digital yang bergerak cepat.
Di sisi lain, banjir aplikasi berbasis AI ini mulai mengguncang kapasitas infrastruktur peninjauan App Store, di mana para pengembang yang mengajukan aplikasi pada Maret 2026 melaporkan waktu tunggu yang mencapai tujuh hingga lebih dari 30 hari, jauh melampaui standar historis Apple yang biasanya hanya 24 hingga 48 jam. Apple menyatakan bahwa timnya tetap mampu memproses 90 persen pengajuan dalam 48 jam dan menangani lebih dari 200.000 aplikasi setiap minggunya, termasuk dengan bantuan alat AI yang kini diintegrasikan ke dalam proses peninjauan.
Namun secara bersamaan, Apple juga mengambil langkah penertiban terhadap sejumlah aplikasi vibe coding native yang beroperasi langsung di perangkat iOS, termasuk memblokir pembaruan Replit dan menghapus seluruhnya aplikasi bernama Anything pada 30 Maret 2026. Apple berdalih bahwa tindakan tersebut bukan ditujukan pada kategori vibe coding secara umum, melainkan merupakan penegakan Pedoman 2.5.2 yang melarang aplikasi mengubah fungsionalitas utamanya secara dinamis setelah lolos proses peninjauan. Para pengembang yang terdampak melaporkan bahwa mereka menerima penolakan dengan alasan pelanggaran pedoman tersebut tanpa peringatan sebelumnya, sehingga menimbulkan kebingungan luas di komunitas pengembang global.
Dhruv Amin, CEO Anything, mengungkapkan bahwa Apple telah memblokir pembaruan aplikasinya sejak Desember 2025 sebelum akhirnya menghapus aplikasi tersebut sepenuhnya, bahkan ketika ia mencoba berkompromi dengan mengalihkan output vibe coding ke browser web daripada dieksekusi langsung di dalam aplikasi.
Dengan WWDC26 yang sudah berada di depan mata dan penetrasi vibe coding yang terus meluas tanpa hambatan berarti, muncul pertanyaan besar mengenai apakah Apple akan merevisi kebijakan App Store untuk mengakomodasi pola pengembangan berbasis AI yang kian mendominasi industri. Juru bicara Replit menyebut bahwa dalam beberapa bulan terakhir, para pengguna platformnya telah berhasil membangun dan merilis hampir 5.000 aplikasi ke App Store—angka yang membuktikan bahwa pembatasan terhadap aplikasi native tidak serta-merta menghentikan arus aplikasi baru berbasis AI.
Analis dari The Next Web memperingatkan bahwa Apple kini berhadapan dengan pilihan yang berat: memperluas kapasitas peninjauan secara signifikan, memperbarui pedoman agar mampu mengakomodasi eksekusi kode dinamis dalam batas tertentu, atau mempertahankan aturan yang ada dan menerima konsekuensi gesekan dengan kelas pengembang baru yang berkembang pesat.
Kapasitas Apple dalam mengelola volume pengajuan yang terus membengkak—tanpa mengorbankan standar kurasi yang selama ini menjadi keunggulan kompetitif App Store—disebut-sebut sebagai salah satu tantangan tata kelola platform paling krusial yang akan mendefinisikan satu dekade ke depan. Satu hal yang tampaknya sudah pasti: era di mana membangun sebuah aplikasi membutuhkan waktu berbulan-bulan kini telah berakhir, dan Apple harus bergerak lebih cepat dari sebelumnya untuk menyesuaikan diri.