04 January 2026, 15:32

Biar Nggak Cuma Niat: Pakar Bongkar Cara Susun Resolusi Keuangan 2026 yang Realistis dan Jalan Terus

Menyusun resolusi keuangan di awal tahun kerap terlihat mudah, tetapi pelaksanaannya sering tersendat di tengah jalan.

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
1,287
Biar Nggak Cuma Niat: Pakar Bongkar Cara Susun Resolusi Keuangan 2026 yang Realistis dan Jalan Terus
Resolusi keuangan perlu disusun secara realistis dan terukur agar bisa dijalankan. Ilustrasi. (iStock/airdone).

JAKARTA, Perspektif.co.id - Menyusun resolusi keuangan di awal tahun kerap terlihat mudah, tetapi pelaksanaannya sering tersendat di tengah jalan. Padahal, resolusi finansial penting sebagai peta arah untuk mengejar target keuangan, mulai dari disiplin pengeluaran, dana darurat, hingga rencana investasi dan pelunasan utang. Karena itu, resolusi keuangan 2026 dinilai perlu dibuat lebih realistis, terukur, serta sesuai kondisi masing-masing agar tidak berhenti sebagai wacana.

Perencana keuangan OneShildt Budi Rahardjo menilai langkah awal yang paling krusial adalah memastikan resolusi berdasar kemampuan dan keadaan nyata. Menurutnya, banyak orang justru gagal karena ingin mengejar terlalu banyak target sekaligus dalam waktu singkat, padahal kapasitas dan situasi keuangannya belum mendukung.

“Resolusi keuangan agar dapat terwujud maka harus berbasis kepada kemampuan dan sesuai dengan kondisi. Terkadang kita terlalu memaksakan resolusi harus terwujud dalam waktu yang singkat dan terlalu banyak hal yang ingin dicapai, padahal kondisi tidak memungkinkan apabila resolusi dikerjakan sekaligus,” ucap Budi.

Budi menyarankan resolusi dilakukan bertahap, dimulai dari target yang dampaknya paling besar terhadap kesehatan finansial. Salah satu pondasi yang disorot adalah membangun disiplin anggaran, karena pengendalian pengeluaran bisa menjadi pintu masuk bagi tujuan lain yang lebih besar.

“Bisa dimulai dari suatu target yang paling banyak memberikan dampak pada finansial dan dapat menunjang tujuan lainnya. Misalnya, dimulai dari disiplin dalam mengatur pengeluaran melalui sistem anggaran yang efektif,” tambahnya.

Selain menentukan target yang masuk akal, evaluasi kondisi keuangan juga dinilai wajib dilakukan secara jujur. Budi menekankan, sebelum menetapkan resolusi 2026, seseorang perlu menengok kembali arus kas tahun sebelumnya dan memetakan periode yang memicu lonjakan pengeluaran. Dari sana, perbaikan bisa lebih terarah, bukan sekadar mengandalkan tekad.

“Dimulai dari evaluasi arus kas tahun lalu, adakah bulan-bulan yang perlu mendapatkan perhatian karena pengeluaran mengalami lonjakan,” tutur Budi.

Ia juga mengingatkan evaluasi tidak berhenti pada pengeluaran, melainkan perlu menyentuh pendapatan, aset, utang, investasi, hingga manajemen risiko. Menurutnya, kualitas kondisi aset dan posisi utang perlu diperiksa untuk memastikan apakah terjadi perbaikan atau justru kemunduran.

“Evaluasi pula kondisi aset secara keseluruhan dan utang-utang. Apakah mengalami perbaikan kualitas dan kondisi ataukah justru mengalami penurunan,” jelasnya.

Sementara itu, perencana keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho menilai evaluasi sebaiknya dilakukan rutin, tidak menunggu setahun penuh. Ia menyarankan pemeriksaan progres per tiga bulan atau per enam bulan agar target tetap on track dan bisa segera dikoreksi bila melenceng.

“Idealnya kita evaluasi tiap tiga bulan atau enam bulan sekali, apakah target tersebut paling tidak sudah mulai dijalankan,” ujarnya.

Dalam menyusun resolusi, Andi menekankan pentingnya membuat target yang sederhana dan relevan dengan kondisi personal. Menurutnya, resolusi yang terlalu banyak dan terlalu tinggi sering berakhir gagal karena tidak punya pijakan realistis.

“Pertama resolusinya yang simpel, tidak usah banyak-banyak, dan relate sama kondisi kita,” kata Andi.

Andi juga menyarankan penggunaan prinsip Specific, Measureable, Achievable, Realistic, Timeline agar target lebih terukur dan tidak sekadar terdengar bagus. Ia menilai kegagalan resolusi kerap dipicu target yang tidak disusun dengan prinsip tersebut, sehingga terlalu tinggi dan jauh dari kemampuan.

“Tidak menggunakan prinsip SMART sehingga resolusinya terlalu tinggi bahkan jauh dari kemampuan dirinya,” ucap Andi.

Bagi kelompok dengan penghasilan terbatas, Budi menilai prioritas harus ditegakkan sejak awal. Menurutnya, sebelum melompat ke target besar, ada tiga fokus utama yang perlu dibereskan lebih dulu, yakni memilah kebutuhan dan prioritas belanja, mengelola utang, serta mencari cara menambah penghasilan keluarga.

“Bagaimana cara membuat prioritas pengeluaran sesuai kebutuhan, pengelolaan utang dan menambah penghasilan keluarga,” ucap Budi.

Pakar juga mengingatkan, resolusi yang tepat bisa tetap gagal bila konsistensi hilang di tengah jalan. Budi menilai resolusi sering berhenti karena motivasi untuk memperbaiki kondisi keuangan tidak cukup kuat dan tidak jelas. Ia menyarankan alasan di balik resolusi ditulis dan diingat terus, serta dibicarakan dengan pasangan agar ada dukungan dan pengingat bersama.

“Resolusi dapat berhenti di tengah jalan ketika motivasi untuk membuat keuangan lebih baik kurang kuat dan jelas,” tuturnya.

Berita Terkait