TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Nasib deretan smartphone seri Ultra dari empat raksasa China—Vivo, OPPO, Xiaomi, dan Huawei—kini menggantung di ujung tanduk. Ancaman pembatalan peluncuran pada 2027 bukan lagi sekadar spekulasi liar, melainkan sinyal serius dari para leaker terpercaya dan analis industri yang memperingatkan bahwa lonjakan harga komponen memori telah mengubah lanskap flagship Android secara fundamental.
Peringatan paling keras datang dari leaker kondang Ice Universe melalui unggahan panjangnya di platform X, yang menyatakan secara eksplisit bahwa lini Ultra kelas atas dari China sedang menghadapi tantangan pasar yang belum pernah terjadi sebelumnya. Berdasarkan laporan Notebookcheck yang mengutip leaker Yogesh Brar, pengembangan Vivo X500 Ultra, OPPO Find X10 Ultra, dan Xiaomi 18 Ultra untuk saat ini masih berjalan, namun keputusan final untuk membatalkan produk-produk tersebut kemungkinan baru akan diambil pada kuartal ketiga 2026.
“Jangan khawatir, generasi Ultra Xiaomi berikutnya sedang berkembang secara normal. Namun yang perlu kita waspadai adalah harganya yang bakal semakin mahal.” Demikian pernyataan leaker Kartikey Singh di akun X-nya pada 10 April 2026, yang dikutip Notebookcheck, sekaligus menegaskan bahwa meski pengembangan Xiaomi 18 Ultra belum dibatalkan, lonjakan harga pada generasi berikutnya sudah bisa dipastikan.
Akar masalahnya bukan pada kemampuan teknik para insinyur, melainkan pada krisis rantai pasok yang menghantam seluruh industri elektronik secara bersamaan. Data Counterpoint Research mengungkap bahwa pada kuartal pertama 2026, harga DRAM melonjak lebih dari 50 persen sementara harga NAND flash meroket lebih dari 90 persen. Bagi sebuah ponsel flagship dengan spesifikasi 16GB RAM dan penyimpanan 512GB, lonjakan ini diperkirakan menambah biaya produksi antara 100 hingga 150 dolar AS—atau sekitar Rp1,6 juta hingga Rp2,4 juta—hanya dari komponen memori semata. Presiden Xiaomi, Lu Weibing, bahkan secara terbuka mengakui bahwa harga memori telah melonjak hampir empat kali lipat dibandingkan kuartal pertama tahun lalu.
Dampaknya langsung terasa pada prediksi harga jual. Seorang komentator teknologi terkemuka di komunitas Weibo memperkirakan Xiaomi 18 Ultra versi teratas bisa menyentuh 10.000 RMB—setara sekitar Rp23,2 juta—sebuah loncatan harga paling curam dalam sejarah lini Ultra Xiaomi. Notebookcheck mencatat bahwa para penggemar smartphone Ultra dari China kemungkinan besar akan semakin sering melihat angka harga di kisaran 2.000 euro atau sekitar Rp36,8 juta, dan pertanyaan besarnya adalah apakah masih ada cukup pembeli yang bersedia membayar sebesar itu.
Xiaomi 18 Ultra sendiri menjadi yang paling banyak dibicarakan sekaligus paling dipertanyakan nasibnya. Bocoran terbaru dari tipster Digital Chat Station di Weibo mengindikasikan varian Ultra akan hadir dengan chipset in-house Xring O3—SoC buatan sendiri yang belum pernah terlihat sebelumnya dan dirancang untuk menantang dominasi Qualcomm, Samsung, serta Apple. Model Xiaomi 18 standar, Pro, dan Pro Max diperkirakan meluncur di China pada September 2026, sementara varian Ultra baru menyusul pada Desember—yang berarti ketersediaan global baru bisa diharapkan pada kuartal pertama 2027, sebagaimana dilaporkan Tech Advisor.
Vivo, yang baru saja memperkenalkan X300 Ultra sebagai flagship kamera terbesarnya tahun ini, sudah melempar bayangan soal generasi penerusnya. Nokiamob melaporkan bahwa untuk menandingi Xiaomi yang menggebrak siklus peluncuran dengan merilis Xiaomi 17 Ultra pada Desember 2025, Vivo kemungkinan akan mempercepat jadwal X500 Ultra—dengan estimasi rilis seawal akhir 2026 atau Januari 2027. Namun bocoran harga Vivo X300 Ultra di pasar Eropa yang sudah mendekati 2.000 euro untuk varian 1TB—sekitar Rp36,8 juta—memberi gambaran betapa mahalnya harga yang mungkin harus dibayar untuk X500 Ultra kelak.
OPPO berada dalam posisi serupa. Find X10 Ultra, penerus dari Find X9 Ultra yang baru meluncur secara global pada 21 April 2026, sudah mulai memasuki tahap bocoran awal. Tech Advisor mencatat bahwa Find X9 Ultra diposisikan sebagai puncak lini X9, dan hampir tidak mungkin ada yang melampaui kemampuannya dari jajaran OPPO sendiri hingga lini X10 secara resmi diumumkan. Pertanyaannya, apakah OPPO akan tetap berkomitmen pada peluncuran global Find X10 Ultra di tengah tekanan biaya yang semakin mencekik.
Huawei bermain di papan yang berbeda. Dibatasi oleh sanksi Amerika Serikat, Huawei memilih jalur mandiri dengan chip Kirin buatan sendiri. Bocoran terbaru yang diterbitkan Huawei Central mengindikasikan bahwa chip Kirin untuk seri Mate 90 bisa setara dengan proses fabrikasi 3nm, dengan peningkatan kepadatan transistor hingga 40 persen. Gizmochina melaporkan Huawei Pura 90 Ultra diperkirakan meluncur di China pada Mei 2026 dengan harga dasar sekitar 5.499 yuan—sekitar Rp12,7 juta—untuk model standar, sementara varian Ultra akan dibanderol jauh lebih tinggi. Kamera utamanya kabarnya akan tetap menggunakan sensor 1 inci 50MP dengan apertur variabel, namun lensa telephoto periskopenya berpotensi melompat dramatis ke resolusi 200MP.
Ironi terbesarnya adalah: saat para brand China berlomba mendorong batas teknologi kamera—dengan sensor 200MP ganda, sistem periskop berlapis, dan kolaborasi dengan brand optik legendaris seperti Zeiss, Hasselblad, dan Leica—justru tekanan biaya di balik layar yang mengancam keberadaan produk-produk itu sendiri. Counterpoint Research secara resmi mengonfirmasi bahwa biaya produksi smartphone premium akan melonjak signifikan sepanjang 2026, dan tidak ada tanda-tanda tekanan ini akan mereda dalam waktu dekat.
Bagi konsumen Indonesia yang selama ini mengincar ponsel Ultra China sebagai alternatif premium dari Samsung dan Apple dengan rasio harga-performa yang lebih menggiurkan, situasi ini adalah sinyal waspada. Generasi Ultra 2027 mungkin masih akan hadir—namun boleh jadi dengan harga yang membuat sebagian besar calon pembeli berpikir ulang, atau bahkan tidak hadir sama sekali jika pasar sudah bergeser lebih dulu.