25 February 2026, 02:59

Spotify: Dari Revolusi Streaming Musik, Kontroversi, hingga Pertaruhan Masa Depan

Spotify mengubah industri musik global, tapi kini diguncang kontroversi royalti, PHK massal, dan krisis kepercayaan pasar.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
932
Spotify: Dari Revolusi Streaming Musik, Kontroversi, hingga Pertaruhan Masa Depan
Ilustrasi ekosistem digital Spotify bergaya modern minimalis dengan gelombang suara abstrak dan warna kompleks. (AI Generated by: Perspektif.co.id)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Spotify hari ini bukan sekadar aplikasi pemutar lagu, melainkan infrastruktur utama industri audio global—dari musik, podcast, hingga buku audio. Namun di balik 751 juta pengguna aktif bulanan dan ratusan juta pelanggan berbayar, masa depan raksasa streaming asal Swedia ini justru sedang dipertanyakan: apakah model bisnis yang dulu dianggap menyelamatkan industri musik kini mulai mencapai titik jenuh, atau justru memasuki babak baru yang lebih menegangkan?

Spotify didirikan di Stockholm pada 2006 oleh Daniel Ek dan Martin Lorentzon, di tengah maraknya pembajakan musik lewat layanan seperti Napster dan torrent. Visi awalnya sederhana tapi ambisius: membuat layanan streaming legal yang cukup mudah dan terjangkau sehingga orang berhenti mengunduh musik secara ilegal. Layanan ini resmi diluncurkan di Eropa pada 2008, sebelum perlahan masuk ke Amerika Serikat dan pasar global lain seiring meluasnya penetrasi smartphone dan jaringan data yang lebih cepat.

Sejak awal, Spotify mengandalkan model “freemium”: pengguna bisa mendengarkan musik gratis dengan iklan, atau membayar langganan premium untuk pengalaman tanpa iklan, kualitas audio lebih tinggi, dan kontrol pemutaran penuh. Strategi corong ini terbukti efektif. Mayoritas pengguna memulai dari paket gratis, lalu sebagian dikonversi menjadi pelanggan berbayar ketika mereka merasa layanan tersebut sudah menjadi bagian dari rutinitas harian.

“Spotify telah menjadi anak poster karena memiliki model bisnis freemium,” kata Gustav Gyllenhammar, VP markets and subscriptions Spotify, dalam sebuah wawancara yang dikutip media internasional.

Untuk mendorong konversi, Spotify terus menambah fitur di tier gratis, seperti opsi “Pick & Play” yang memberi pengguna lebih banyak kendali atas lagu yang mereka putar. Di saat yang sama, perusahaan mengandalkan personalisasi agresif—dari playlist Discover Weekly, Release Radar, hingga Daily Mix—yang memanfaatkan data perilaku pengguna untuk merekomendasikan lagu dan podcast yang relevan.

“Personalisasi telah menjadi kekuatan super kami sejak awal,” ujar Issra Omer, Product Director Spotify, menegaskan fokus perusahaan pada pengalaman yang terasa “lengket” dan sulit ditinggalkan.

Seiring waktu, Spotify tidak lagi puas hanya menjadi katalog musik. Mulai 2019, perusahaan mengakuisisi studio podcast besar dan menggelontorkan ratusan juta dolar untuk kesepakatan eksklusif dengan kreator seperti The Joe Rogan Experience dan Call Her Daddy. Strategi ini kemudian bergeser dari eksklusivitas penuh ke model kemitraan kreator yang lebih fleksibel, dengan tujuan menjadikan Spotify sebagai rumah bagi berbagai jenis konten audio, bukan hanya musik.

Secara finansial, strategi itu mulai menunjukkan hasil. Laporan keuangan 2025 mencatat pendapatan tahunan sekitar 20,4 miliar dolar AS dengan pertumbuhan lebih dari 8 persen dibanding tahun sebelumnya, serta laba bersih yang hampir dua kali lipat. Spotify juga mengumumkan bahwa total pembayaran royalti ke label dan penerbit musik telah melonjak drastis dibanding satu dekade lalu, menandai era baru di mana streaming menjadi sumber pendapatan utama industri musik.

Namun, pasar modal tidak sepenuhnya terkesan. Setelah sempat menyentuh rekor tertinggi, saham Spotify anjlok sekitar 40 persen dari puncaknya, memicu pertanyaan apakah bisnis streaming musik masih punya ruang pertumbuhan besar dalam jangka menengah. Kekhawatiran investor berkisar pada “subscription fatigue” dan inflasi, yang membuat banyak konsumen hanya mau membayar satu layanan hiburan digital, serta persaingan ketat dari Apple Music, YouTube Music, dan platform lain.

Analis industri menilai bukan berarti pasar streaming “habis”, melainkan memasuki fase kedewasaan. Pertumbuhan eksplosif yang didorong oleh adopsi smartphone dan paket data murah pada 2010-an kini melambat. Di sisi lain, munculnya format pendek seperti TikTok dan Reels mengubah cara orang mengonsumsi musik: potongan 15–30 detik bisa lebih sering didengar daripada satu lagu penuh.

Di tengah tekanan itu, Spotify juga diguncang dari dalam. Tahun 2025 menjadi salah satu periode paling sulit dalam sejarah perusahaan, ketika manajemen memutuskan melakukan PHK terbesar yang pernah ada—sekitar 17 persen tenaga kerja global, atau sekitar 1.500 karyawan. Langkah efisiensi ini menyusul gelombang pemangkasan sebelumnya dan memicu kekhawatiran soal beban kerja, kecepatan inovasi, dan moral tim.

Daniel Ek sendiri sempat mengakui bahwa keputusan tersebut bisa menjadi pedang bermata dua: di satu sisi diharapkan meningkatkan efisiensi dan profitabilitas, di sisi lain berpotensi menimbulkan friksi operasional dalam jangka menengah.

Memasuki 2026, Spotify kembali membuat kejutan dengan perubahan struktur kepemimpinan. Daniel Ek mundur dari posisi CEO dan beralih menjadi chairman, sementara kursi CEO dipegang bersama oleh dua mantan co-president, Alex Norström dan Gustav Söderström. Pergeseran ini terjadi di momen yang sensitif, ketika perusahaan harus meyakinkan pasar bahwa mereka masih punya narasi pertumbuhan baru di luar sekadar menambah jumlah pelanggan.

Di luar angka dan strategi, Spotify juga berada di pusat badai kontroversi. Selama bertahun-tahun, musisi dan serikat pekerja kreatif mengkritik skema pembayaran royalti yang dinilai terlalu kecil, terutama bagi artis independen dan musisi dengan jumlah streaming menengah. Di beberapa negara, ada seruan boikot dan kampanye publik yang menuntut transparansi lebih besar soal pembagian pendapatan antara platform, label, dan kreator.

Perdebatan makin panas ketika Spotify mulai bereksperimen dengan musik yang dihasilkan AI dan menghadapi gugatan serta protes terkait penggunaan karya kreator tanpa kompensasi yang dianggap memadai. Di sisi lain, kebijakan moderasi konten dan penayangan iklan—termasuk laporan soal iklan rekrutmen lembaga kontroversial—memicu kritik bahwa perusahaan tidak cukup selektif dalam memilih mitra komersial.

Serangkaian kontroversi itu memuncak di tengah menurunnya antusiasme terhadap Spotify Wrapped, fitur rekap tahunan yang dulu menjadi fenomena budaya internet. Di masa kejayaannya, Wrapped menguasai linimasa Instagram, X, dan platform sosial lain dengan visual berwarna-warni yang memamerkan selera musik pengguna. Namun beberapa tahun terakhir, minat publik tampak meredup, seiring kejenuhan terhadap format yang sama dan meningkatnya kritik terhadap cara data pendengar dimonetisasi.

Di sisi pro, Spotify tetap dipuji karena berhasil menekan pembajakan, membuka akses legal ke jutaan lagu dengan biaya relatif terjangkau, dan memberi panggung global bagi musisi dari berbagai negara—termasuk Indonesia—yang sebelumnya sulit menembus pasar internasional. Fitur kurasi algoritmik dan playlist editorial juga membantu artis baru ditemukan oleh audiens yang tepat tanpa harus bergantung sepenuhnya pada radio atau label besar.

Di sisi kontra, ketergantungan industri pada satu atau dua platform besar menimbulkan kekhawatiran soal konsentrasi kekuasaan. Jika algoritma berubah, nasib jutaan kreator bisa ikut bergeser. Selain itu, struktur royalti yang kompleks dan dominasi label besar membuat banyak musisi merasa bahwa era streaming belum benar-benar “adil”, meski pembajakan menurun.

Bagi pengguna, pengalaman Spotify hari ini adalah kombinasi antara kenyamanan ekstrem dan kompromi tak terlihat. Di satu sisi, mereka bisa mengakses hampir semua lagu yang pernah mereka dengar, kapan saja dan di perangkat apa saja. Di sisi lain, pilihan mereka dibentuk oleh rekomendasi algoritmik, kebijakan lisensi, dan kesepakatan bisnis yang tidak selalu transparan.

Pertanyaan besar ke depan adalah bagaimana Spotify menyeimbangkan tuntutan profitabilitas, tekanan pasar modal, dan ekspektasi kreator serta pengguna. Perusahaan telah memberi sinyal akan terus memperluas fokus ke podcast, buku audio, dan format baru, sambil mengoptimalkan biaya dan memonetisasi lebih agresif basis pengguna gratis melalui iklan yang lebih tertarget.

Jika fase pertama Spotify adalah menyelamatkan industri musik dari pembajakan, fase berikutnya tampaknya adalah membuktikan bahwa model streaming bisa berkelanjutan—bukan hanya bagi pemegang saham, tetapi juga bagi musisi dan pendengar yang membuat platform ini relevan sejak awal.

“Personalisasi, kemitraan kreator, dan platform yang lengket adalah inti dari bab kami berikutnya,” demikian garis besar pesan yang berulang kali disampaikan eksekutif Spotify dalam berbagai forum publik.

Apakah babak baru itu akan menjadikan Spotify semakin dominan, atau justru membuka ruang bagi model alternatif yang lebih adil dan terdesentralisasi, masih menjadi salah satu pertaruhan terbesar di dunia teknologi dan industri kreatif saat ini.

Berita Terkait