TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Qualcomm membuka tahun fiskal 2026 dengan nada tinggi. Perusahaan chip asal San Diego itu melaporkan pendapatan kuartal pertama fiskal 2026 sebesar 12,3 miliar dolar AS untuk periode yang berakhir 28 Desember 2025, melampaui ekspektasi analis dan menandai rekor baru bagi total pendapatan perusahaan maupun unit semikonduktor QCT. Laporan ini dirilis pada 4 Februari 2026 di San Diego dan langsung menggeser fokus pasar ke strategi agresif Qualcomm di AI, otomotif, PC, dan pusat data.
Pendapatan QCT—unit bisnis chip yang menjadi jantung Qualcomm—mencapai 10,6 miliar dolar AS, naik sekitar 5% secara tahunan. Di dalamnya, segmen handset menyumbang 7,8 miliar dolar AS, otomotif 1,1 miliar dolar AS, dan internet of things (IoT) 1,7 miliar dolar AS, masing‑masing tumbuh dari tahun sebelumnya. Di sisi lain, bisnis lisensi QTL menghasilkan 1,6 miliar dolar AS, juga naik dibanding periode yang sama tahun lalu. Kombinasi ini menggarisbawahi bahwa, meski pasar smartphone global masih bergejolak, Qualcomm berhasil menyeimbangkan portofolio pendapatan lewat diversifikasi ke otomotif, IoT, dan komputasi AI.
Dalam basis GAAP, laba per saham (EPS) tercatat 2,78 dolar AS, sementara EPS non‑GAAP mencapai 3,50 dolar AS. Laba operasi non‑GAAP berada di kisaran 4,4 miliar dolar AS, dengan margin EBT segmen QCT sekitar 31% dan QTL 77%. Angka‑angka ini menunjukkan bahwa margin lisensi tetap sangat kuat, sementara bisnis chip mempertahankan profitabilitas di tengah dinamika rantai pasok dan perubahan siklus permintaan perangkat.
“Kami senang dapat menyampaikan hasil kuartalan yang kuat, dengan rekor pendapatan total perusahaan,” ujar Cristiano Amon, Presiden dan CEO Qualcomm Incorporated, dalam pernyataan resminya.
Ia menegaskan bahwa momentum Qualcomm di ranah AI personal, industri, dan fisik terus menguat, tercermin dari rangkaian pengumuman produk di CES dan meningkatnya adopsi pelanggan terhadap platform Snapdragon dan solusi komputasi cerdas lainnya. Di tengah pergeseran industri menuju perangkat AI‑native dan komputasi di tepi jaringan, Qualcomm memposisikan diri sebagai pemasok utama sistem‑on‑chip berdaya rendah namun bertenaga tinggi untuk smartphone, PC, otomotif, hingga perangkat industri.
“Walaupun prospek jangka pendek untuk handset kami terdampak oleh keterbatasan pasokan memori di seluruh industri, kami terdorong oleh permintaan konsumen akhir terhadap smartphone kelas premium dan high‑tier, dan tetap berada di jalur untuk mencapai target pendapatan fiskal 2029 kami,” kata Amon.
Di balik rekor pendapatan tersebut, Qualcomm tetap harus bergulat dengan hambatan pasokan memori yang memengaruhi pola pembelian OEM, terutama di China. Produsen perangkat dikabarkan menahan laju produksi dan menyesuaikan inventaris karena harga dan ketersediaan DRAM yang ketat. Namun analis menilai, permintaan di sisi konsumen akhir untuk perangkat premium relatif stabil, sehingga tekanan lebih banyak terjadi di level rantai pasok ketimbang penurunan minat pengguna.
Futurum Research mencatat bahwa kuartal ini menegaskan ketahanan permintaan di segmen perangkat premium dan high‑tier, sekaligus menunjukkan bahwa diversifikasi Qualcomm ke PC AI, otomotif, dan industri/robotika mulai membuahkan hasil. Eksekusi di platform Snapdragon X untuk PC, perangkat AI personal, dan solusi digital chassis untuk kendaraan terhubung dinilai menjadi penyeimbang volatilitas bisnis handset.
“Eksekusi di perangkat AI‑native, platform Snapdragon X, dan pipeline digital chassis seharusnya membantu mengimbangi volatilitas handset, dengan otomotif dan IoT berlari lebih cepat dari target jangka panjang,” tulis analis Futurum dalam laporannya.
Salah satu sorotan strategis dalam laporan kuartalan ini adalah penyelesaian akuisisi Alphawave Semi, yang disebut Qualcomm akan mempercepat ekspansinya ke pusat data. Langkah ini melengkapi akuisisi Ventana sebelumnya dan memperkuat peta jalan CPU RISC‑V serta solusi komputasi khusus untuk inferensi AI berdaya efisien di pusat data. Dengan kombinasi IP konektivitas berkecepatan tinggi dan desain CPU modular, Qualcomm ingin memanfaatkan lonjakan kebutuhan komputasi AI yang tidak hanya bertenaga, tetapi juga hemat energi.
Manajemen juga menegaskan kembali strategi diversifikasi yang menempatkan Qualcomm bukan hanya sebagai pemasok chip smartphone, tetapi sebagai platform komputasi menyeluruh untuk otomotif, IoT industri, robotika canggih, hingga PC generasi baru. Di ranah otomotif, pendapatan lebih dari 1 miliar dolar AS untuk kuartal kedua berturut‑turut menunjukkan bahwa digital cockpit, konektivitas kendaraan, dan solusi kendaraan terdefinisi perangkat lunak (software‑defined vehicle/SDV) mulai menjadi mesin pertumbuhan baru.
Dalam presentasi pendapatan, perusahaan menyoroti peluang dari evolusi perangkat AI‑native dan agentic AI devices—perangkat yang mampu menjalankan model AI secara lokal dengan latensi rendah dan konsumsi daya efisien. Qualcomm melihat tren ini sebagai katalis untuk memperluas jejak Snapdragon ke PC, perangkat industri, dan kategori baru yang membutuhkan komputasi on‑device, bukan hanya di cloud.
Di sisi panduan jangka panjang, Qualcomm tetap mempertahankan target pendapatan fiskal 2029 yang ambisius, dengan keyakinan bahwa kombinasi pertumbuhan di otomotif, IoT, pusat data, dan lisensi akan mengurangi ketergantungan pada siklus smartphone. Meski tidak kebal terhadap fluktuasi makroekonomi dan dinamika rantai pasok, perusahaan menilai portofolio yang lebih terdiversifikasi akan memberikan bantalan ketika satu segmen melemah.
Bagi pasar, laporan kuartal pertama fiskal 2026 ini mengirim sinyal ganda: di satu sisi, ada tekanan nyata dari keterbatasan memori yang menahan laju produksi handset; di sisi lain, ada narasi kuat tentang transformasi Qualcomm menjadi pemain kunci di era komputasi AI lintas perangkat dan pusat data. Dengan rekor pendapatan, akuisisi strategis, dan pipeline produk yang menumpuk di PC AI, otomotif, dan IoT, perusahaan ini berupaya mengunci posisinya sebagai tulang punggung komputasi cerdas di berbagai lapisan ekosistem digital.
Jika strategi ini berjalan sesuai rencana, Qualcomm tidak lagi hanya akan diingat sebagai nama di balik modem dan SoC smartphone, tetapi sebagai arsitek infrastruktur komputasi AI yang menjangkau dari saku pengguna hingga rak‑rak server di pusat data. Pertanyaannya kini bergeser dari “apakah” ke “seberapa cepat” perusahaan dapat mengeksekusi peta jalan ambisius tersebut di tengah persaingan ketat dan siklus teknologi yang kian cepat berubah.