JAKARTA, Perspektif.co.id - Di tengah tren kenaikan harga logam mulia, perak mulai dilirik sebagai alternatif investasi yang lebih terjangkau dibanding emas. Namun, perencana keuangan mengingatkan: meski satu “keluarga” dengan emas, perak punya karakter fluktuasi dan likuiditas yang berbeda, sehingga strategi masuknya juga tidak bisa asal ikut-ikutan.
Perencana Keuangan Andi Nugroho menilai, prinsip investasi perak pada dasarnya mirip dengan emas, tapi pemula sebaiknya fokus pada bentuk yang mudah dihitung dan dijual kembali. Dalam praktiknya, batangan atau koin dinilai lebih ideal ketimbang perhiasan karena standar harga lebih jelas dan tidak terbebani ongkos desain. “Kurang lebih sama” dengan emas, kata Andi, sambil menekankan pentingnya memahami tujuan sejak awal—investasi atau konsumsi.
Kelebihan perak adalah harga yang lebih murah, sehingga dengan dana yang sama, investor bisa mengumpulkan gram lebih banyak. Namun, risikonya: volatilitas perak cenderung lebih tinggi dan selisih harga beli-jual (spread) dapat terasa lebih “menggigit”, apalagi jika pembelian dilakukan tanpa rencana akumulasi yang disiplin. Karena itu, strategi bertahap kerap disarankan untuk meredam efek fluktuasi.
Dari sisi keamanan transaksi, pembelian perak disarankan dilakukan di tempat yang keasliannya terjamin, serta disertai informasi kadar/sertifikat bila tersedia. Pemula juga perlu memikirkan aspek yang sering disepelekan: penyimpanan. Ukuran perak yang relatif kecil (untuk batangan/koin tertentu) rawan terselip, sementara untuk nilai investasi setara emas, perak bisa butuh ruang simpan lebih besar.
Perencana Keuangan Budi Rahardjo menegaskan, perak adalah instrumen komoditas yang tidak memberi pendapatan rutin. Artinya, keuntungan terutama bergantung pada kenaikan harga—dan tentu ada risiko harga bergerak turun. Karena itu, perak lebih cocok untuk tujuan jangka panjang, bukan untuk mengejar arus kas seperti deposito atau obligasi.
Budi juga mengingatkan soal risiko likuiditas: pasar perak di Indonesia dinilai belum seluas emas, sehingga proses menjual kembali bisa memakan waktu lebih lama ketika investor butuh dana cepat. Pada titik ini, kuncinya kembali ke perencanaan: sesuaikan nominal, tujuan, dan kesabaran menghadapi naik-turun harga sebelum memutuskan rutin akumulasi perak.
Sebagai catatan, informasi ini bersifat edukatif dan bukan rekomendasi investasi. Keputusan tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan finansial masing-masing.