10 March 2026, 14:19

Pemenang Nobel Stiglitz: Gelembung AI Ancam Krisis Ekonomi Global, Jutaan Pekerja Kerah Putih Jadi Tumbal

Nobel laureate Stiglitz peringatkan gelembung investasi AI ancam krisis ekonomi global dan guncang jutaan pekerja kerah putih tanpa jaring pengaman.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
401
Pemenang Nobel Stiglitz: Gelembung AI Ancam Krisis Ekonomi Global, Jutaan Pekerja Kerah Putih Jadi Tumbal
Ekonom Nobel Joseph Stiglitz peringatkan gelembung investasi AI ancam krisis ekonomi global dan PHK jutaan pekerja kerah putih tanpa jaring pengaman. (AI Generated by: Perspektif.co.id)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Peraih Nobel Ekonomi sekaligus profesor Columbia University, Joseph Stiglitz, melontarkan peringatan keras kepada pasar global pekan ini — investasi kecerdasan buatan yang sedang meledak bukan pertanda kemakmuran jangka panjang, melainkan gelembung spekulatif yang siap meledak dan berpotensi memorak-porandakan perekonomian dunia, terutama menghantam jutaan pekerja kerah putih yang selama ini merasa paling aman dari disrupsi teknologi.

Dalam wawancara eksklusif bersama Fortune yang dipublikasikan 8 Maret 2026, Stiglitz mengungkapkan bahwa sekitar sepertiga pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat tahun lalu sepenuhnya bertopang pada arus deras investasi AI — sebuah fondasi yang ia nilai rapuh dan tidak berkelanjutan. Menurut ekonom pemenang Nobel 2001 itu, pasar saat ini mempercayai dua asumsi yang keduanya bermasalah secara struktural: bahwa AI akan berhasil secara teknologi, dan bahwa persaingan di sektor ini akan tetap terbatas.

“Pasar percaya akan ada imbal hasil tinggi dari investasi ini, yang didasarkan pada dua asumsi: bahwa AI akan sukses secara teknologis dan persaingan akan terbatas,” kata Stiglitz dalam wawancara tersebut.

Kenyataannya berlawanan. Persaingan global di ranah AI justru semakin brutal — dari raksasa teknologi Amerika Serikat hingga perusahaan-perusahaan China yang bergerak agresif. Stiglitz menegaskan, ketika teknologi ini berhasil namun persaingan tidak terkendali, margin keuntungan akan tergerus habis hingga nol, jauh dari ekspektasi investor. Inilah yang ia sebut sebagai pemicu gelembung dimensi kedua — bukan sekadar spekulasi jangka pendek, melainkan kegagalan struktural jangka panjang yang sudah tertanam dalam arsitektur investasi AI global sejak awal.

“Jika saya benar dan ini benar-benar gelembung, maka pecahnya gelembung apa pun akan sangat buruk bagi makroekonomi dalam jangka pendek,” tegasnya.

Yang membuat skenario ini jauh lebih berbahaya, menurut Stiglitz, adalah timing-nya yang bisa berbarengan dengan gelombang besar pemutusan hubungan kerja akibat otomasi AI itu sendiri. Tidak ada jaring pengaman sosial yang memadai, tidak ada program pelatihan ulang dalam skala besar, dan tidak ada kebijakan pasar tenaga kerja aktif yang siap menyerap jutaan pekerja yang kehilangan pekerjaan secara bersamaan. Situasi ini ia gambarkan sebagai skenario terburuk dari dua dunia sekaligus — gelembung yang meletus di tengah pengangguran masif yang belum pernah dihadapi generasi ini.

“Kita tidak memiliki kerangka makro maupun mikro untuk mengelola perpindahan tenaga kerja semacam itu,” ujar Stiglitz, seraya menambahkan bahwa program pelatihan ulang dalam skala yang dibutuhkan sama sekali belum ada.

Namun Stiglitz tidak berhenti pada narasi apokaliptik. Ia menawarkan perspektif yang ia sebut sebagai babak kedua yang penuh harapan — jika masyarakat berhasil melewati masa transisi yang bergejolak ini dengan institusi yang masih utuh, AI justru bisa bertransformasi dari ancaman menjadi alat paling berguna bagi pekerja. Di sektor pendidikan yang menyerap sekitar 14 persen angkatan kerja AS, misalnya, ia yakin AI tidak akan menggantikan guru — melainkan membantu mereka merancang rencana pelajaran lebih baik dan menyesuaikan pendidikan secara lebih personal.

“AI tidak akan menggantikan guru. Mungkin membantu mereka membuat rencana pelajaran yang lebih baik, membantu mereka menyesuaikan pendidikan dengan lebih baik, tetapi tidak akan menggantikan guru. Kita sudah cukup tahu tentang cara siswa belajar bahwa interaksi manusiawi masih sangat penting,” jelas Stiglitz.

Dalam jangka panjang, Stiglitz membayangkan AI bukan sebagai Artificial Intelligence yang menggantikan manusia, melainkan Intelligence Assisting — teknologi yang mengamplifikasi kemampuan manusia, bukan menyingkirkannya. Ia sendiri mengaku menggunakan AI dalam penelitiannya, menggambarkannya seperti memiliki tim asisten riset yang bekerja jauh lebih cepat. Perbedaan antara AI sebagai alat augmentasi dan AI sebagai mesin penggusuran, tegasnya, bukan soal teknologi — melainkan soal pilihan politik dan siapa yang mengendalikan serta memanen keuntungannya.

Peringatan Stiglitz datang di tengah lonjakan investasi enterprise AI global yang meledak dari sekitar Rp27,2 triliun (US$1,7 miliar) pada 2023 menjadi Rp592 triliun (US$37 miliar) pada 2025. Namun angka itu kontras dengan kenyataan di lapangan: 72 persen implementasi AI perusahaan gagal dalam tahun pertama, dan hanya 25 persen yang benar-benar berhasil digelar dalam skala produksi penuh — celah yang mencolok antara kapital yang dikucurkan dan nilai nyata yang dihasilkan.

Berita Terkait