12 December 2025, 14:03

Meta Bongkar 5 Tren Medsos 2026: Siap-Siap, Bisnis yang Telat Adaptasi Bisa Ketinggalan Jauh

Meta, induk usaha Facebook dan Instagram, memetakan arah besar perkembangan media sosial dan dunia digital di Asia Pasifik, termasuk Indonesia.

Reporter: M. Ansori
Editor: Zainur Akbar
3,260
Meta Bongkar 5 Tren Medsos 2026: Siap-Siap, Bisnis yang Telat Adaptasi Bisa Ketinggalan Jauh
Meta mengungkap tren media sosial 2026 di Asia Pasifik, termasuk Indonesia. Temukan lima tren digital yang akan mendorong pertumbuhan bisnis. (Foto: CNN Indonesia/Bisma Septalisma)

Perspektif.co.id - Meta, induk usaha Facebook dan Instagram, memetakan arah besar perkembangan media sosial dan dunia digital di Asia Pasifik, termasuk Indonesia, untuk tahun 2026. Wilayah ini, menurut laporan e-Marketer, masih akan menjadi pasar pengguna medsos terbesar di dunia, terutama di dua platform utama Meta, dan basis tersebut diproyeksikan terus membesar dalam beberapa tahun ke depan.

Bagi pelaku usaha, dinamika itu bukan sekadar statistik. Mengikuti pergeseran perilaku pengguna menjadi kunci untuk menjaga kedekatan dengan pelanggan sekaligus mendorong pertumbuhan yang lebih berkelanjutan. “Transformasi digital di Indonesia berjalan sangat pesat, dan kami melihat bagaimana tren sosial serta teknologi seperti AI semakin menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat dan pelaku bisnis,” kata Pieter Lydian, Country Director Meta Indonesia, dalam keterangan tertulis, Rabu (10/12).

Untuk membantu dunia usaha membaca arah perubahan tersebut, Meta memaparkan lima tren sosial dan digital yang diperkirakan akan menguat dan membentuk lanskap media sosial pada 2026.

Pertama, otomatisasi berbasis GenAI. Kecerdasan buatan kini menjadi jembatan utama masyarakat ketika mencari informasi dan mendalami referensi yang mereka temukan secara online. Pada 2026, peran ini diproyeksikan makin dominan seiring kemajuan generative AI dan teknologi otomatisasi. Contohnya, saat melihat produk di unggahan teman atau video kreator, pengguna dapat langsung bertanya ke AI untuk mendapat penjelasan personal, riset produk, hingga rekomendasi gaya yang lebih sesuai preferensi. Di Indonesia, pemanfaatan AI sudah terasa nyata: 79 persen pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) disebut telah menggunakannya, terutama untuk pemasaran produk baru (65 persen) dan komunikasi dengan pelanggan (61 persen). Ke depan, AI dinilai akan semakin membantu bisnis meningkatkan produktivitas sambil menekan biaya operasional.

Kedua, pesan bisnis dan agen AI. Aplikasi percakapan seperti WhatsApp, Instagram DM, dan Messenger telah bertransformasi menjadi kanal transaksi utama, bukan lagi sekadar ruang obrolan. Pelanggan kini bisa bertanya, membandingkan, hingga berbelanja dalam satu rangkaian percakapan yang dibantu agen AI yang mampu menjawab pertanyaan dasar secara otomatis. Salah satu contoh implementasi datang dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menggunakan chatbot WhatsApp untuk layanan informasi keuangan. Solusi ini disebut mampu meningkatkan produktivitas hingga empat kali lipat dan menyelesaikan sekitar 80 persen pertanyaan hanya melalui bot, tanpa perlu interaksi langsung dengan petugas.

Ketiga, ekosistem kreator berbasis AI. Kreator konten saat ini menjadi salah satu penggerak utama keputusan belanja konsumen. AI memperkuat pengaruh tersebut dengan membantu kreator menghasilkan konten yang lebih relevan, memprediksi tren, dan memberikan rekomendasi yang semakin terpersonalisasi. Salah satu bentuk kolaborasi yang sudah berjalan adalah program afiliasi Facebook dengan Shopee, yang memungkinkan kreator menautkan produk secara langsung di dalam konten. Dengan skema ini, penjualan bisa terjadi secara real-time ketika konten ditonton, sehingga jarak antara inspirasi dan transaksi semakin pendek.

Keempat, video dan live commerce yang semakin imersif. Format video telah menjelma menjadi bahasa utama dalam perdagangan digital. Live shopping dan video interaktif menjadi motor penjualan baru, didukung oleh hampir 2 juta pengiklan yang telah memanfaatkan GenAI untuk memproduksi materi video lebih variatif dan relevan dengan target audiens. Meta saat ini juga tengah menguji fitur yang memungkinkan kreator menambahkan tautan produk langsung di Instagram Reels, sehingga pengguna dapat melakukan pembelian tanpa harus keluar dari video yang sedang mereka tonton.

Kelima, perdagangan lintas batas dan menguatnya ekonomi halal. Asia Pasifik kini menjelma sebagai pusat perdagangan lintas negara, membuka peluang besar bagi produk halal asal Indonesia untuk menjangkau pasar konsumen Muslim global. Infrastruktur digital yang semakin matang memudahkan merek lokal—mulai dari fesyen, makanan, hingga kosmetik halal—menembus pasar internasional. Di sisi lain, konsumen di berbagai negara juga makin mudah mengakses produk halal bersertifikat dari berbagai belahan dunia melalui kanal daring.

Meta menilai kombinasi tren otomatisasi AI, kanal pesan yang kian transaksional, peran kreator yang diperkuat teknologi, format video yang semakin imersif, serta akselerasi perdagangan lintas batas akan membentuk pola baru interaksi antara bisnis dan konsumen di 2026. Pelaku usaha yang mampu membaca dan merespons pergeseran ini diperkirakan akan lebih siap bersaing di tengah perubahan perilaku digital yang terus bergerak cepat.

Berita Terkait