23 November 2025, 23:02

Harga Emas Antam & Galeri24 Kompak Melemah Sepekan, Investor Ritel Masuk Fase Tunggu

Harga emas batangan ritel sepanjang sepekan terakhir bergerak turun, baik untuk produk keluaran PT Aneka Tambang Tbk (Antam) maupun Galeri24.

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
1,530
Harga Emas Antam & Galeri24 Kompak Melemah Sepekan, Investor Ritel Masuk Fase Tunggu
Ilustrasi Emas Antam. Foto: Shutterstock

JAKARTA, Perspektif.co.id - Harga emas batangan ritel sepanjang sepekan terakhir bergerak turun, baik untuk produk keluaran PT Aneka Tambang Tbk (Antam) maupun Galeri24. Koreksi harga ini menandai fase pelemahan setelah periode reli panjang yang sebelumnya dinikmati pelaku pasar. Dalam catatan harga hingga Minggu (23/11), emas Antam tercatat turun Rp 10.000 per gram dari Rp 2.351.000 menjadi Rp 2.341.000 per gram, sedangkan emas Galeri24 melemah Rp 17.000 per gram dari Rp 2.413.000 menjadi Rp 2.396.000 per gram dalam sepekan.

Pergerakan harga berfluktuasi dari hari ke hari, namun tren akhirnya tetap mengarah ke bawah. Pada Senin (17/11), harga emas Antam dibuka di level Rp 2.351.000 per gram dengan harga buyback Rp 2.212.000 per gram. Di saat yang sama, harga emas Galeri24 dipatok Rp 2.413.000 per gram dengan nilai buyback Rp 2.254.000 per gram. Level tersebut menjadi titik awal sepekan yang kemudian diwarnai koreksi dan rebound ringan.

Memasuki Selasa (18/11), harga emas Antam terkoreksi cukup dalam ke Rp 2.322.000 per gram, sementara harga buyback turun menjadi Rp 2.183.000 per gram. Di sisi lain, harga emas Galeri24 justru berbalik naik tipis ke Rp 2.418.000 per gram dengan harga buyback Rp 2.257.000 per gram. Perbedaan arah pergerakan ini menunjukkan respons yang tidak seragam di segmen ritel, meskipun keduanya tetap sensitif terhadap dinamika harga emas global dan kurs rupiah.

Pada Rabu (19/11), emas Antam kembali menguat ke Rp 2.343.000 per gram dengan harga buyback Rp 2.204.000 per gram. Namun, emas Galeri24 mengalami penurunan ke Rp 2.383.000 per gram dengan nilai buyback Rp 2.225.000 per gram. Pola zig-zag ini memperlihatkan bahwa pelaku pasar ritel memilih bersikap hati-hati, sehingga tekanan jual dan minat beli bergantian mendominasi dalam jangka sangat pendek.

Kamis (20/11) menjadi kelanjutan fase pemulihan harga. Emas Antam naik lagi ke Rp 2.364.000 per gram dengan harga buyback Rp 2.225.000 per gram. Di saat bersamaan, emas Galeri24 juga menguat ke Rp 2.394.000 per gram dengan buyback Rp 2.235.000 per gram. Kenaikan ini sempat memberi ruang bernapas bagi investor yang masuk di level lebih rendah, meski belum cukup kuat menghapus koreksi yang terjadi di awal pekan.

Namun, tren penguatan tersebut kembali tertekan pada perdagangan Jumat (21/11). Harga emas Antam turun ke Rp 2.348.000 per gram dengan harga buyback Rp 2.209.000 per gram. Sementara itu, emas Galeri24 justru kembali naik ke Rp 2.404.000 per gram dengan buyback Rp 2.246.000 per gram. Pergerakan berlawanan arah antara dua merek emas ritel ini menunjukkan adanya perbedaan kebijakan penetapan harga di masing-masing jaringan penjualan, meski keduanya tetap mengacu pada pergerakan harga acuan internasional.

Pelemahan lebih lanjut terjadi pada Sabtu (22/11). Harga emas Antam kembali terkoreksi dan tercatat di level Rp 2.341.000 per gram dengan harga buyback Rp 2.202.000 per gram. Pada saat yang sama, emas Galeri24 turun ke Rp 2.396.000 per gram dengan buyback Rp 2.237.000 per gram. Dengan angka ini, posisi harga keduanya berada di bawah titik pembukaan awal pekan, menegaskan terjadinya koreksi bersih selama tujuh hari terakhir.

Memasuki Minggu (23/11), baik harga emas Antam maupun Galeri24 tercatat stabil. Emas Antam bertahan di Rp 2.341.000 per gram, sementara Galeri24 tetap di Rp 2.396.000 per gram. Tidak adanya perubahan harga di akhir pekan menandakan pasar memasuki fase konsolidasi, di tengah penantian pelaku pasar terhadap sinyal baru dari pergerakan emas global dan perkembangan kondisi makroekonomi. Dalam pandangan pelaku pasar, 

“perdagangan emas ritel saat ini berada dalam fase koreksi wajar setelah reli panjang, sehingga banyak investor memilih menunggu momentum baru sebelum menambah posisi”.

Secara keseluruhan, data pergerakan harga selama sepekan menunjukkan bahwa meskipun sempat terjadi penguatan di tengah pekan, tekanan jual tetap mendominasi sehingga menutup pekan dengan penurunan harga bersih untuk kedua merek. Bagi investor ritel, level harga saat ini bisa dilihat sebagai kesempatan akumulasi jangka panjang atau sekadar sinyal untuk memperkuat strategi menahan aset (hold) sambil memantau arah kebijakan suku bunga global dan pergerakan nilai tukar rupiah.

Berita Terkait