TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Amazon Web Services (AWS) dan Microsoft Azure kini tengah menjajaki kemungkinan pengalihan beban kerja data center dari kawasan Teluk Persia ke India dan Singapura, menyusul serangan drone Iran yang pada 1 Maret 2026 lalu melumpuhkan tiga fasilitas komputasi awan milik Amazon di Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain — sebuah peristiwa yang oleh Uptime Institute langsung dicatat sebagai serangan militer pertama yang dikonfirmasi terhadap penyedia cloud hiperscale dalam sejarah.
AWS mengonfirmasi bahwa dua fasilitasnya di UEA mengalami tumbukan langsung, sementara satu fasilitas di Bahrain mengalami kerusakan fisik akibat ledakan dari serangan drone di dekatnya. Serangan itu memicu kebakaran di dalam gedung, mengaktifkan sistem pemadam api otomatis, dan akhirnya menyebabkan kerusakan tambahan akibat air yang membanjiri ruang server. Kerusakan struktural, gangguan pasokan daya, serta insiden pemadaman api itu menurut AWS terjadi di tengah situasi operasional kawasan Timur Tengah yang dinilai makin tidak bisa diprediksi.
“Di UEA, dua fasilitas kami terkena tumbukan langsung. Di Bahrain, serangan drone di dekat salah satu fasilitas kami menyebabkan dampak fisik pada infrastruktur,” demikian pernyataan AWS melalui Health Dashboard-nya.
Serangan ini merupakan bagian dari gelombang balasan Iran setelah operasi gabungan AS-Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melalui media pemerintah Iran menyatakan bahwa fasilitas Amazon di Bahrain secara khusus dijadikan sasaran karena perusahaan itu mendukung aktivitas militer Amerika Serikat. Amazon menolak berkomentar atas klaim tersebut.
Dampaknya langsung terasa di seluruh ekosistem digital Teluk. Aplikasi perbankan seperti ADCB dan Emirates NBD, platform pengiriman dan transportasi daring Careem, layanan pembayaran Alaan dan Hubpay, serta penyedia perangkat lunak enterprise seperti Snowflake semuanya mengalami gangguan akibat terputusnya infrastruktur AWS di kawasan tersebut. Operasional bandara di Dubai dan Kuwait turut terganggu, sementara pasar saham UEA terpaksa ditutup sementara akibat gangguan teknologi yang meluas.
Serangan tersebut menjatuhkan dua dari tiga availability zone di region ME-CENTRAL-1 UEA secara sekaligus, sebuah skenario yang melampaui batas redundansi yang dirancang hanya untuk menangani kegagalan satu zona tunggal. Layanan inti seperti Amazon EC2, S3, DynamoDB, Lambda, dan RDS semuanya terdampak. Berdasarkan pembaruan status AWS, sebanyak 25 layanan masih berstatus “disrupted” dan 34 layanan lainnya mengalami degradasi di region ME-CENTRAL-1.
“Kami sangat menyarankan pelanggan dengan workload yang berjalan di Timur Tengah untuk segera mengambil tindakan memindahkan workload tersebut ke region AWS alternatif,” tulis AWS dalam pembaruan resminya.
Desakan itulah yang kini mendorong AWS dan Microsoft Azure bergerak cepat mencari kapasitas darurat di Asia. Berdasarkan laporan yang mengutip pihak-pihak yang terlibat langsung dalam diskusi, kapasitas segera tengah dicari di Mumbai, Chennai, Hyderabad, dan Kochi untuk mengalihkan beban kerja kritis, terutama milik klien perbankan.
“Dengan mempertimbangkan faktor latensi, lokasi-lokasi tersebut adalah yang paling cocok,” ujar seorang eksekutif perusahaan infrastruktur yang enggan disebutkan namanya.
Pakar industri Piyush Somani dari ESDS menambahkan bahwa India dan Singapura didukung oleh jaringan kabel bawah laut yang menghubungkan lalu lintas IT ke kawasan timur, sementara Eropa menyediakan konektivitas serupa untuk lalu lintas ke arah barat. “Mengingat kondisi geopolitik saat ini, India tampak sebagai lokasi yang lebih damai dan aman untuk pengalihan sementara,” katanya.
Langkah pengalihan ini difasilitasi oleh keputusan Bank Sentral UEA yang sementara melonggarkan aturan residensi data, memberikan izin bagi institusi keuangan untuk mengaktifkan mekanisme failover ke luar wilayah negara demi menjamin keberlangsungan operasional. Kebijakan darurat ini menyingkap kontradiksi mendasar yang selama ini tersembunyi di balik strategi data localization regional: mandat residensi data yang ketat justru mengonsentrasikan risiko di satu kawasan konflik.
Sam Winter-Levy, peneliti dari Carnegie Endowment for International Peace, menyebutkan bahwa “seiring semakin banyak sektor ekonomi yang bergantung pada data center, infrastruktur ini secara bersamaan menjadi target yang semakin menarik.”
Lembaga riset IDC memperkirakan bahwa serangan ini akan mendorong investasi lebih besar pada infrastruktur data dengan model multi-AZ deployment — yakni penyimpanan salinan data di data center yang terpisah secara fisik. Di tingkat global, perusahaan dan pemerintah kini diperkirakan akan menuntut penyedia data center memiliki rencana pemulihan terstruktur dan fasilitas cadangan di berbagai lokasi geografis.
Microsoft sebelumnya telah berkomitmen untuk menggelontorkan investasi sebesar US$15,2 miliar atau setara Rp 247,7 triliun (kurs Rp 16.300) di UEA antara 2023 hingga 2029, dengan lebih dari US$7,3 miliar atau sekitar Rp 119 triliun sudah terealisasi dalam tiga tahun pertama, US$4,6 miliar di antaranya difokuskan pada data center AI dan cloud. Seluruh investasi jumbo itu kini berada di bawah bayang-bayang ketidakpastian geopolitik yang belum pernah diperhitungkan sebelumnya.
Pasar AI Timur Tengah yang pada 2025 bernilai US$6,6 miliar atau sekitar Rp 107,6 triliun diproyeksikan melonjak hingga US$168 miliar atau setara Rp 2.738 triliun pada 2034, namun serangan terhadap infrastruktur fisik ini mengingatkan dunia bahwa ambisi digital secanggih apapun tetap bertumpu pada gedung-gedung beton yang bisa dirobohkan oleh drone berharga murah.