18 October 2025, 10:02

Baek Se-hee, Penulis Buku Fenomenal "I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki", Meninggal Dunia di Usia 35 Tahun

Baek telah mendonorkan organ tubuhnya termasuk jantung, paru-paru, hati, dan ginjal yang berhasil menyelamatkan lima nyawa.

Reporter: Redaksi Perspektif
Editor: Irfan Farhani
2,953
Baek Se-hee, Penulis Buku Fenomenal "I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki", Meninggal Dunia di Usia 35 Tahun
Baek Se-hee penulis buku berjudul "I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki". / Doc: instagram

JAKARTA, Perspektif.co.id - Dunia sastra internasional berduka. Baek Se-hee, penulis asal Korea Selatan yang dikenal lewat karyanya I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki, dikabarkan meninggal dunia pada usia 35 tahun. Kabar duka ini dikonfirmasi pada Jumat (17/10) oleh Korean Organ Donation Agency, yang juga menyebutkan bahwa Baek telah mendonorkan organ tubuhnya termasuk jantung, paru-paru, hati, dan ginjal yang berhasil menyelamatkan lima nyawa.

Meski penyebab pasti kematiannya belum diungkap, kabar ini mengejutkan banyak pihak, terutama para pembacanya di seluruh dunia yang selama ini menemukan harapan melalui tulisannya. Dalam pernyataan resminya, pihak keluarga mengatakan Baek “ingin membagikan hatinya dengan dunia melalui karya-karyanya dan menebarkan harapan kepada banyak orang.”

Buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki, yang pertama kali terbit pada tahun 2018, merupakan kumpulan percakapan Baek dengan psikiaternya saat ia menjalani pengobatan untuk distimia depresi ringan yang berkepanjangan. Buku tersebut segera menjadi fenomena budaya di Korea Selatan karena keberaniannya mengangkat isu kesehatan mental yang selama ini dianggap tabu.

Setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Anton Hur dan diterbitkan pada 2022, buku ini memperoleh pengakuan global dan terjual lebih dari satu juta eksemplar di 25 negara. Kalimat ikonik dari bukunya—“Hati manusia, bahkan ketika ingin mati, kadang juga ingin makan tteokbokki”—menjadi simbol kekuatan dalam kesederhanaan, menggambarkan paradoks batin antara keputusasaan dan keinginan untuk terus hidup.

Menurut profil singkatnya di Bloomsbury Publishing, Baek lahir pada tahun 1990 dan menempuh pendidikan di jurusan penulisan kreatif. Ia sempat bekerja selama lima tahun di sebuah penerbit sebelum merilis karya debutnya yang kini dianggap sebagai salah satu buku paling berpengaruh dalam literatur modern Korea.

Anton Hur, penerjemah bahasa Inggris buku tersebut, menulis di Instagram bahwa meskipun organ Baek hanya menyelamatkan lima orang, “karyanya telah menyentuh jutaan jiwa di seluruh dunia.”

Karya Baek kemudian berlanjut lewat sekuel berjudul I Want to Die but I Still Want to Eat Tteokbokki, yang diterbitkan pada 2019 dan terjemahan bahasa Inggrisnya baru rilis pada 2024. Kedua bukunya menjadi tonggak penting dalam membuka percakapan global tentang depresi, kesepian, dan penerimaan diri.

Ribuan penggemar dan penulis dari berbagai negara mengirimkan pesan belasungkawa di media sosial. Di akun Instagram resminya, warganet menulis pesan haru: “Terima kasih telah menyelamatkan kami dengan kejujuranmu.” Seorang pembaca lain menulis, “Setiap kalimatmu menjadi pelukan bagi kami yang pernah merasa hancur.”

Baek Se-hee meninggalkan warisan besar melalui tulisannya sebuah karya yang menegaskan bahwa bahkan dalam kesedihan terdalam, manusia tetap memiliki ruang kecil untuk kebahagiaan sederhana.***

Berita Terkait