10 March 2026, 14:31

Atlas AI Studio Kini Tersedia Global di Google Cloud Marketplace, Klaim Produksi Aset Game 50 Kali Lebih Cepat

Atlas AI Studio kini hadir global di Google Cloud Marketplace, klaim produksi aset game 50x lebih cepat dengan sistem multi-agen AI canggih.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
218
Atlas AI Studio Kini Tersedia Global di Google Cloud Marketplace, Klaim Produksi Aset Game 50 Kali Lebih Cepat
Atlas AI Studio resmi hadir global di Google Cloud Marketplace, platform multi-agen AI untuk produksi aset game 3D hingga 50 kali lebih cepat mulai Maret 2026. (AI Generated by: Perspektif.co.id)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Atlas AI Studio, platform pembuatan konten 3D berbasis multi-agen buatan startup asal Vienna, Austria, resmi beralih dari fase beta tertutup ke ketersediaan umum secara global melalui Google Cloud Marketplace mulai Senin, 9 Maret 2026. Peluncuran ini menandai babak baru dalam produksi game, di mana pendekatan berbasis agen AI menggantikan alur kerja konvensional yang selama ini bergantung pada pengerjaan manual dan alat generatif satu-per-satu.

Platform ini memungkinkan seniman game mendeskripsikan kebutuhan mereka dalam bahasa natural, lalu sistem secara otomatis merakit pipeline produksi lengkap yang mencakup proses generasi aset, texturing, optimasi, hingga integrasi ke game engine. Berbeda dari kebanyakan alat AI generatif yang hanya menghasilkan output tunggal, Atlas mengorkestrasikan sejumlah agen AI khusus yang bekerja secara kolaboratif di seluruh tahapan pipeline 3D.

Selama uji coba beta bersama studio-studio AAA, platform ini berhasil membuktikan kecepatan pembuatan aset 10 hingga 50 kali lebih tinggi dengan penurunan biaya per-aset sebesar 70 hingga 90 persen, sambil tetap mempertahankan standar produksi profesional. Riset internal Google Cloud juga mencatat bahwa 97 persen eksekutif industri game meyakini AI akan mentransformasi cara game dirancang dan dikembangkan, meski adopsinya selama ini terhambat oleh output yang masih memerlukan koreksi manual ekstensif.

“Industri pengembangan game selama ini terjebak dalam paradigma di mana AI hanya berarti ‘ketik prompt, dapatkan output,’” kata Ben James, pendiri sekaligus CEO Atlas.

James menjelaskan bahwa pipeline nyata dalam produksi game sesungguhnya menghubungkan puluhan operasi sekaligus, mulai dari generasi, segmentasi, optimasi, texturing, hingga LOD. Agen-agen Atlas dirancang untuk membangun pipeline tersebut secara otomatis, mengadaptasi cara kerja studio profesional yang sesungguhnya digunakan saat merilis game.

Studio-studio terkemuka termasuk Square Enix, PeDePe, Parallel, dan Ego AI telah menggunakan platform ini. Selama fase beta, lebih dari 95 persen pengguna Atlas beralih ke agen AI untuk proses konseptualisasi, dengan satu dari enam pengguna membiarkan agen membangun keseluruhan workflow 3D mereka secara mandiri dari awal hingga akhir.

“Kemampuan Atlas dalam berintegrasi secara mulus ke dalam workflow kami yang sangat customized benar-benar mengubah segalanya,” ujar Joseph Burnette, Tech Director dari Innovation Technology Division Square Enix.

Jack Buser, Global Director for Games di Google Cloud, menegaskan bahwa AI kini telah menjadi fondasi dalam cara game dibangun. Menurutnya, Atlas AI Studio merepresentasikan tonggak penting bagi workflow AI yang siap produksi, memberikan studio cara yang scalable untuk mengintegrasikan sistem cerdas langsung ke dalam pipeline mereka melalui infrastruktur Google Cloud.

“AI telah menjadi dasar bagi bagaimana permainan dibuat. Atlas AI Studio mewakili tonggak penting untuk alur kerja AI siap produksi, memberikan studio cara yang terukur untuk mengintegrasikan sistem cerdas langsung ke dalam jalur pipa mereka melalui Google Cloud,” kata Buser.

Platform ini dibangun sepenuhnya di atas infrastruktur Google Cloud dan memanfaatkan alat orkestrasi model seperti Vertex AI. Kemitraan strategis antara Atlas dan Google Cloud sendiri telah dibangun sejak 2025, dengan tujuan mempercepat pengembangan game yang disebut sebagai AI-native.  Studio kini dapat memanfaatkan komitmen Google Cloud yang sudah ada untuk penggunaan Atlas, dengan keamanan enterprise-grade dan sistem penagihan terpadu.

Pasar game global melampaui angka 180 miliar dolar AS (sekitar Rp2.930 triliun) pada 2024, sementara studio-studio di seluruh dunia mengeluarkan estimasi 38 miliar dolar AS (sekitar Rp619 triliun) hanya untuk produksi aset.  Di tengah meningkatnya tuntutan konten untuk game berbasis live-service yang membutuhkan dunia yang terus berkembang dengan fidelitas visual tinggi, Atlas memposisikan diri sebagai infrastruktur kritis generasi berikutnya, bukan sekadar alat bantu kreatif.

Berita Terkait