25 December 2025, 20:54

Amran “Pasang Badan” Jelang Nataru: Stok Pangan Aman, Harga Tak Boleh Naik—Dua Produsen Minyak Goreng Terancam Pidana

Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman memastikan ketersediaan stok dan stabilitas harga bahan pokok nasional

Reporter: M. Ansori
Editor: Zainur Akbar
1,995
Amran “Pasang Badan” Jelang Nataru: Stok Pangan Aman, Harga Tak Boleh Naik—Dua Produsen Minyak Goreng Terancam Pidana
Mentan merangkap Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman memastikan ketersediaan dan stabilitas harga pangan berada dalam kondisi aman selama perayaan Nataru. (ANTARA FOTO/ASPRILLA DWI ADHA).

Perspektif.co.id - Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman memastikan ketersediaan stok dan stabilitas harga bahan pokok nasional berada dalam kondisi aman selama perayaan Natal 2025 hingga menjelang Tahun Baru 2026 (Nataru). Pemerintah, kata Amran, terus memantau stok, harga, dan distribusi pangan agar kebutuhan masyarakat terpenuhi di tengah tradisi kenaikan permintaan pada libur akhir tahun.

Amran menekankan kehadiran negara menjadi kunci menjaga pasokan dan mencegah gejolak harga. “Nilai kebersamaan, kepedulian, dan persatuan menjadi semangat kita dalam menjaga pangan nasional. Negara harus hadir memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi, termasuk pada perayaan Natal,” ujar Amran dalam keterangan resminya, Kamis (25/12/2025). 

Dalam penjelasannya, ia menyebut stok sejumlah komoditas pangan strategis berada di posisi aman. Cadangan beras pemerintah diperkirakan mencapai 3,53 juta ton hingga akhir 2025. Pasokan minyak goreng pun disebut mencukupi kebutuhan nasional—dengan penegasan bahwa Indonesia merupakan produsen besar yang memasok pasar global. “Kita produsen minyak goreng yang menyuplai dunia. Stok kita aman. Beras kita perkirakan stoknya 3,53 juta ton di akhir tahun, dan itu tertinggi,” jelasnya. 

Untuk komoditas protein hewani, terutama telur dan daging ayam, Amran menyatakan pemerintah melakukan pengecekan hingga tingkat peternak untuk memastikan pasokan dan harga tetap stabil. Ia juga mengingatkan pelaku usaha agar tidak memanfaatkan momentum Nataru untuk “bermain” harga. “Kita sudah cek di peternaknya, telur dengan ayam sesuai, stabil. Jadi tolong jangan ada pengusaha yang memainkan keadaan, memanfaatkan momen Natal dan Tahun Baru. Stok kita cukup,” tegas Amran. 

Amran mengakui, fluktuasi komoditas hortikultura seperti cabai masih mungkin terjadi karena faktor cuaca. Namun ia menegaskan komoditas strategis yang pasokannya surplus serta memiliki ketentuan harga eceran tertinggi (HET) tak boleh ikut-ikutan naik. “Cabai naik sedikit itu masih wajar karena hujan. Tetapi yang tidak boleh, beras dan minyak goreng, telur dan ayam, karena kita surplus dan ada HET,” ujarnya. 

Pernyataan “tak boleh naik” itu dibarengi sinyal penindakan. Dalam kesempatan yang sama, Amran mengungkap adanya dugaan pelanggaran HET minyak goreng oleh dua produsen. Pemerintah, kata dia, bergerak melalui Satgas Pangan dengan fokus pada penindakan di level produsen, bukan menyasar pedagang kecil. “Yang diduga melanggar kami kejar. Kami fokus pada produsennya. Kalau terbukti, sanksinya pidana dan pencabutan izin,” katanya.

Sejumlah laporan juga menyinggung dugaan penyimpangan harga pada produk minyak goreng rakyat, termasuk penjualan di atas HET yang berlaku, sehingga pengawasan dipertegas menjelang puncak konsumsi libur akhir tahun. 

Sementara itu, terkait telur ayam ras, Amran memastikan ketersediaan nasional aman bahkan hingga Lebaran 2026. Proyeksi neraca pangan menunjukkan kebutuhan konsumsi telur ayam ras nasional pada 2025 diperkirakan 6,487 juta ton, sementara produksi mencapai 6,561 juta ton, sehingga masih terdapat surplus. 

Proyeksi stok juga menunjukkan penguatan. Stok akhir tahun 2025 diperkirakan meningkat menjadi 74,5 ribu ton, dibandingkan stok akhir 2024 yang berada di 29,3 ribu ton—naik sekitar 154,2 persen. 

Pemerintah turut menepis anggapan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi faktor utama gejolak harga telur. Porsi kebutuhan telur untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG pada 2025 diperkirakan sekitar 1,96 persen dari total konsumsi nasional, atau 127,3 ribu ton. Karena itu, pemerintah menyebut fluktuasi harga telur lebih bersifat musiman dan dipengaruhi naik-turunnya permintaan, termasuk saat periode Nataru. 

Meski pasokan dinilai mencukupi, pemerintah tetap mengawal pergerakan harga telur agar sesuai Harga Acuan Penjualan (HAP) di tingkat konsumen. Amran menegaskan pengawasan tidak boleh mengendur. “Tadi telur alhamdulillah baik, tetapi kita tidak boleh lengah. Telur cukup. Saya katakan tidak boleh naik. Kalau naik, kita tindak,” ujarnya.

Berita Terkait